Haji dan Kilas Kemerosotan Moral

0
173

BincangSyariah.Com – Baju kerap menjadi ciri pembeda antara golongan kelas ningrat dan kaum marhaen sehingga menuntut perlakuan yang berbeda pula. Hal semacam itu tidak berlaku dalam pelaksanaan ibadah haji khususnya tatkala sedang melaksanakan tawaf. Dua helai kain berwana putih polos tanpa tindik jahit, simbol kefitrahan manusia tanpa noda. Satu helai dililitkan di pinggang dan satunya lagi dililitkan menyamping dari pundak kiri ke ketiak bagian kanan.

Tidak boleh ada baju kebesaran atau seragam dinas.Yang ada hanyalah kesamaan. Di hadapan Baitullah perbedaan kasta tercopot dengan sendirinya. Para calon haji menamakan dirinya dengan sebutan jamaah. Kalaupun ada perbedaan, hanya diklasifikasikan berdasarkan kloter. Sebuah nama sebatas untuk mengidentifikasi jamaah mana yang berangkat dan pulang dari ke tanah suci lebih awal. Tidak lebih. Bukan jaminan kloter yang pertama lebih unggul dari jamaah haji berikutnya.

Penting ditanam dalam hati, jamaah haji pulang ke desa masing-masing membawa keharuman bukan sebatas koper, peci putih, dan jubah. Semua jamaah haji berjuang dengan seluruh daya dan upaya bahkan harta untuk mencapai satu misi yakni, mabrur. Indikasi dari jamaah haji yang mencapai misi mabrur ini dapat dirasakan manfaatnya usai kembali dari tanah suci khususnya bagi diri individu jamaah, umumnya bagi masyarakat umum minimal tetangga terdekat. Terlampau nihil jika manfaat yang dimaksud hanya mengacu pada oleh-oleh seperti sajadah, kayu siwak, kurma, minyak misik, dan lain-lain yang bisa diborong dari Pasar Ampel Surabaya.

Tentang haji mabrur orang-orang sudah mengerti tanpa harus bertanya. Seseorang yang hajinya mabrur sudah pasti kian bijak dalam bertutur, bersikap, bersosial sehingga ketentraman berbangsa kian mesra dan ketaatan pada Tuhan makin melejit. Dengan demikian, konglomerat, politisi, serta pejabat negeri yang sudah menunaikan ibadah haji mesti harus menjahui tindak-tanduk tercela jika ingin dikatakan ibadah hajinya sebagai ibadah yang mabrur.

Baca Juga :  Nurcholish Madjid: Intelektual dengan Gagasan "Islam Yes, Partai Islam No!"

Naifnya, akhir-akhir ini ibadah haji seperti mengalami kemerostan. Banyak lapisan masyarakat dari kalangan konglemerat, politisi, hingga pejabat negeri yang bolak-balik ke tanah suci menunaikan ibadah haji sekaligus umrah namun prilakunya belum mensinyalir pada arah perubahan yang lebih positif. Indikasinya, yang konglomerat seakan tak peduli riba, yang politisi membenarkan cara-cara kotor merenggut kekuasaan, dan yang pejabat negeri menyelewengkan wewenangnya.

Tanpa disadari mereka telah tenggelam dalam kemerosotan. Pada kondisi kemerosotan ini yang paling terjepit dalam suasana sempit adalah jamaah yang menunaikan haji semata-mata untuk menyandang gelar di awal nama. Betul memang mereka sudah menjadi tamu Tuhan di Baitullah tapi melalui perangai jamaah haji yang kotor berarti rukun Islam yang kelima itu sebatas ditunaikan secara formalitas. Pengorbanan jiwa, raga, dan harta menjadi sia-sia. Lalu, bila ibadah haji sudah sia-sia, alih-alih memperoleh mabrur justru yang didapat adalah sebaliknya yakni, mardud alias tertolak. Na’udzubillah.

Pandangan ahli manuskrip kuno sekaligus Staf Ahli Menteri Agama Prof. Oman Fathurahman menuturkan bahwa ada empat aspek yang mendorong orang Nusantara naik haji: ibadah, ziarah, tijarah (dagang), dan rihlah ilmiah (perjalanan mencari ilmu). Meski bersusah payah dan dengan biaya mahal, sejak dulu muslim Nusantara sangat antusias pergi ke Tanah Suci karena Makkah diyakini sebagai kota suci yang memiliki nilai spiritual, teologis, dan sosial yang sangat tinggi. Bagi para sultan dan penguasa negeri, pergi haji bahkan menjadi tambahan legitimasi.

Dulu aspek rihlah ilmiah sangat menonjol. Pada abad ke-17, Syekh Abdurrauf Singkel Aceh tinggal di Makkah selama 19 tahun untuk haji dan belajar ilmu agama. Pada abad ke-19, kita punya kisah Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, dan Kiai Kholil Bangkalan dari Jawa, atau Tuan Guru Abdul Majid dari Lombok.

Baca Juga :  ‘Ammar bin Yasir: Intel di Zaman Nabi yang Selalu Ditawassuli oleh Gus Dur

Cendekiawan muslim asal Iran, Ali Syariati dalam Makna Haji (Zahra: 2008), menegaskan kepada kita bahwa ibadah haji bukan sebatas prosesi lahiriah formal belaka. Akan tetapi, sebuah revolusi lahir dan batin setiap jamaah guna mencapai hakikat diri sebagai manusia sejati. Artinya orang yang sudah menunaikan ibadah haji harus bisa lebih lurus dalam mengarungi kehidupan dibanding sebelumnya. Ihwal tersebut menjadi kemestian yang tidak dapat ditoleransi. Nah, kalau tidak, berarti jamaah bagaikan wisatawan yang berlibur ke tanah suci di bulan haji. Tidak lebih.

Maka tidak heran bagi jamaah yang hajinya mabrur dan orang-orang yang mengenal esensi yang terkandung dalam ritual haji menjadi individu yang bijak dalam berpikiran dan terhormat dalam tindakan. Di tengah riuh kondisi sosial politik bangsa kita saat ini penting semua masyarakat, baik yang sudah, sedang, dan belum menabung untuk ibadah haji merenungi esensi ritual-ritual yang termuat di dalamnya.

Kalau kemerosotan sudah tak dapat ditahan yang bakal datang tak lain kecuali kebinasaan. Bagaiman cara membangkitkan ketentraman dan menahan kemerosotan? Jangan gubris mereka yang pandai mengejek. Percayalah, lewat merenungi esensi ritual ibadah haji, saling ejek dan saling hina akan kilas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here