Haji Bilal Djokja: Donatur Muhammadiyah dan NU di Awal Kemerdekaan

2
42

BincangSyariah.Com – Beberapa waktu yang lalu, pernah terjadi sedikit bara konflik soal pelaksanaan acara Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-94 di Masjid Gedhe Kauman Keraton Yogyakarta. Pimpinan Daerah (PD) Pemuda Muhammadiyah menolak acara itu. Pangkal soalnya, Kauman adalah basis Muhammadiyah. Juga terkait Gus Muwafiq, pemberi mauidhah hasanah. Padahal, panitia Harlah sudah mengantongi izin dan mengurus semua proses administrasinya. Berdasarkan informasi terakhir, para kyai dan ulama NU Yogyakarta memilih untuk memindahkan acara Harlah NU ini.

Peristiwa ini mengagetkan karena selama ini komunikasi antara NU dan Muhammadiyah sudah begitu lancar. Di tingkat akar rumput, sependek pengetahuan saya, sejak tahun 2000-an hampir tidak ada lagi perdebatan keras terkait amaliyah fiqih antara NU dan Muhammadiyah. Sudah dianggap sebagai pilihan masing-masing organisasi. Ini tentu tidak menafikan masih adanya guyonan atau ada yang mengarah kepada ledekan tentang amaliyah kedua organisasi ini.

Tetapi, poin saya adalah perbedaan antara NU-Muhammadiyah ini tidak pernah lagi menjadi problem sosial yang serius. Sampai kemudian penolakan Harlah NU oleh PD Pemuda Muhammadiyah di Masjid Gedhe Kauman Keraton Yogyakarta ini.

Pengusaha Batik, Donatur Awal Muhammadiyah

Haji Bilal
Potret Haji Bilal, pengusaha batik di Yogyakarta yang bersahabat dekat dengan keluarga H. Ahmad Dahlan

Ini tentu jauh dari bayangan mereka yang termasuk ikut mendirikan Muhammadiyah ini. Salah satunya adalah Haji Bilal. Haji Bilal adalah saudagar batik terbesar dari Yogyakarta pada masa kolonial. Dia mendapatkan julukan sebagai Raja Batik dari Yogyakarta. Batiknya tak hanya tersebar di Hindia Belanda, tetapi juga di luar negeri. Haji Bilal juga, melalui firmanya, menjadi distributor utama pewarna batik dari Jerman, Bayer. Itu berkat kongsi dagangnya dengan The Big Five, BUMN milik Pemerintah Belanda.

Beliau mendirikan Firma Haji Bilal, perusahaan batik bumiputera pertama di Yogyakarta, pada 1912. Itu adalah tahun saat KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah; pada tahun itu juga Haji Bilal dikaruniai putri pertama, Siti Amronah.

Baca Juga :  Khalil bin Ahmad al-Farahidiy; Pencipta Ilmu Prosodi Bahasa Arab

Haji Bilal tercatat sebagai salah satu mukhlisin/donatur Muhammadiyah. Haji Bilal mengenal dekat KH Ahmad Dahlan berkat mertuanya, Haji Ibrahim. Haji Ibrahim merupakan saudagar batik Kauman Yogyakarta. Haji Bilal bersama Haji Ibrahim bahu-membahu membantu Muhammadiyah dari segi kegiatan dan dana. Karena mereka tertarik kepada kepribadian dan jalan dakwah KH Ahmad Dahlan.

Bisa dibilang, bagi Haji Bilal mendukung dan membesarkan Muhammadiyah adalah jalan yang dia ambil sebagai saudagar muslim untuk turut menyiarkan Islam. Meski demikian, dalam hal memberikan bantuan beliau tak pernah memandang latar belakang. Apalagi untuk kepentingan agama dan negara.

Membantu Semua di Awal Kemerdekaan

 

Ketika Yogyakarta menjadi ibukota Indonesia, Haji Bilal membukakan kompleks perumahan mewah miliknya di bilangan Malioboro untuk ditempati para tokoh Islam dan bangsa. Taman Joewana namanya. Secara cuma-cuma. Selain itu, beliau juga memberikan bantuan kantornya untuk tokoh muslim, dua di antaranya adalah tokoh utama NU pada masa revolusi Indonesia: KH. Wahid Hasyim dan KH. Saifudin Zuhri. Kantornya yang berada di Jalan Ngabean nomor 25 (sekarang Jl. KH. Ahmad Dahlan) itu memang strategis. Sepelembaran batu dari Gedung Agung dan dekat dengan keraton. Selain memberikan kantornya untuk sekadar istirahat dan untuk dijadikan tempat rapat, Haji Bilal juga menyiapkan petugas khusus untuk mengurus semua kebutuhan mereka yang menggunakan kantor tersebut untuk kepentingan negara.

Pada masa revolusi, kita tahu tugas KH. Wahid Hasyim dan KH. Saifuddin Zuhri yang cukup berat. Saat itu, KH. Wahid Hasyim adalah menjadi penasihat bagi Jenderal Soedirman; sementara KH. Saifuddin Zuhri memastikan kekompakan setiap komponen warga NU untuk tetap mendukung kemerdekaan Indonesia. Di kantor Haji Bilal itulah mereka rehat untuk menenangkan pikiran dan mereka diperlakukan dengan baik.

Baca Juga :  Empat Ratu yang Pernah Memimpin Kesultanan Aceh

Di balik kantor Haji Bilal itu adalah Kauman. Haji Bilal dan Haji Ibrahim mengembangkan batik, termasuk batik Kauman. Dan mereka mendukung penuh KH Ahmad Dahlan, Penghulu Masjid Gedhe Keraton Yogyakarta.

Beliau wafat pada 1948. Tetapi, inspirasi dan jejak hidupnya patut menjadi teladan bagi kita, terutama dalam melihat hubungan Muhammadiyah dan NU di Yogyakarta, lebih spesifik lagi di Kauman, sekarang ini.

2 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Salah satu nikmat agung yang diberikan Allah kepada masyarakat Indonesia adalah nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkeraman dan penindasan para penjajah. Kemerdekaan ini diproklamasikan langsung oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno (Bung Karno), pada tanggal 17 Agustus tahun 1945. (Baca: Haji Bilal Djokja: Donatur Muhammadiyah dan NU di Awal Kemerdekaan) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here