Haji Berkali-kali, Apakah Dianjurkan dalam Islam?

0
271

Almarhum Kyai Ali Mustafa Yaqub sering kali memberikan nasehat, berhajilah sekali, infak ribuan kali! Nasehat beliau adalah ungkapan keprihatinan melihat jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun selalu di atas 200.000.

Beliau pernah mengungkapkan, bahwa hal ini mungkin sekilas menggembirakan, namun jika dilihat lebih jauh justru memprihatinkan.

‘Keprihatinan’ senada juga tersirat dalam ungkapan yang dikatakan oleh Jabir Bin Zaid dalam Shifatu al-Shafwah. Ia berkata, “Aku lebih senang bersedekah satu dirham ke satu anak yatim atau anak miskin, dari pada berhaji lagi setelah melakukan haji wajib.”

Bahkan dikatakan bahwa Imam Gazali menggolongkan orang yang suka haji berkali-kali dalam pembahasan tentang ketertipuan para pemilik harta dalam Ihya’-nya.

Imam Ghazali menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang bersikeras mengeluarkan harta untuk pergi haji berkali-kali dan membiarkan tetangganya kelaparan.

Oleh karena itu, Ibn Mas’ud berkata, “Di akhir zaman, banyak orang berhaji tanpa sebab. Mudah bagi mereka melakukan perjalanan. Rezeki mereka lancar. Namun mereka pulang tak membawa pahala dan ganjaran. Salah seorang mereka melanglang dengan kendaraannya melintasi sahara, sementara tetangganya tertawan tak dipedulikannya.”

Imam Ghazali juga mencatat sebuah kisah yang diceritakan Abu Nasr at-Tammar. Alkisah ada seorang laki-laki pamitan kepada Bisyr bin al-Harits “Aku mau pergi haji. Ada saran?’ Katanya.

“Berapa biaya yang kau sediakan?” Tanya Bisyr.

“Dua ribu Dirham,” jawabnya.

“Apa yang kaucari dengan hajimu? Kezuhudan? Kerinduan ke Baitullah? Ataukah mencari rida Allah?” Tanya Bisyr.

“Mencari rida Allah!” Jawabnya lagi mantab.

“Oh. Jika kau bisa meraih rida Allah sementara kau tetap berada di rumahmu, kau infakkan 2000 Dirham dan yakin sepenuhnya akan mendapat rida Allah, apakah kau akan melakukannya?”

Baca Juga :  Para Ulama yang Belum Pernah Berhaji

“Ya.”

“Pergilah! Sedekahkan 2000 Dirham itu kepada 10 orang: Yang berutang untuk melunasi utangnya. Yang miskin dapat memperbaiki kondisinya. Yang punya keluarga dapat mencukupi kebutuhan keluarganya. Pengasuh anak yatim dapat membuatnya senang. Jika hatimu kuat untuk memberikannya kepada seorang dari mereka, lakukanlah! Sungguh membahagiakan hati seorang muslim, membantu yang kesusahan, menghilangkan kemelaratan, dan menolong yang lemah, adalah lebih utama daripada seratus kali haji setelah haji wajib. Bangkit dan keluarkanlah uang itu sebagaimana saranku. Jika tidak, utarakan kepadaku isi hatimu!”

“Aku masih lebih gereget untuk pergi haji, wahai Abu Nasr (kunyah Bisyr)!” kata laki-laki itu.

Bisyr pun tersenyum, menghadap kepadanya dan berkata, “Jika harta dikumpulkan dari kotoran dagangan dan syubhat, nafsu menuntut untuk memenuhi keinginannya dengan harta itu, dan memamerkan amal-amal baik. Padahal Allah bersumpah hanya akan menerima amal orang yang bertakwa.”

Dengan demikian, kiranya apa yang ulama terdahulu ungkapkan sama halnya dengan apa yang sering Kyai Ali Musthafa Yaqup ajarkan, bahwa ibadah sosial itu lebih penting dari pada ibadah individual.

kemudian beliau dalam bukunya juga mengutip hadis qudsi riwayat Imam Muslim, yang mana ditegaskan bahwa Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah. Wallahu ‘alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here