Haflatul Imtihan; Tradisi Pesantren Menutup Kegiatan Belajar Mengajar

0
452

BincangSyariah.Com – Pada umumnya, tiap tahun Pondok Pesantren mengadakan acara Haflatul Imtihan. Pelaksanaan Haflatul Imtihan ini diadakan di akhir tahun pelajaran. Setelah setahun ustaz disibukkan dengan kegiatan pembelajaran dan lain-lain dan santri juga sibuk belajar, di penghujung tahun pelajaran waktunya bagi ustaz dan santri menghilangkan penat akibat kegiatan tersebut. Mereka me-refres pikirannya dengan kegiatan Haflatul Imtihan ini.

Kegiatan Haflatul Imtihan ini semacam pesta santri. Di Pondok Pesantren Sumber Mas yang berada di desa Rombiya Barat, Kecamatan Ganding Kabupaten Sumenep, format acaranya diisi dengan beraneka lomba, baik yang bernuansa pendidikan maupun olahraga.

Lomba yang termasuk pendidikan semisal lomba Cerdas Cermat, Baca Kitab Kuning, Tartilul Qur’an, Khutbah Jum’at, Nida’ dan Bilal Jum’at, Hafalan Alfiyah, Pidato, Puisi, dan lain-lain. Sedangkan lomba yang berbau olahraga seperti Catur, Melempar Gelang, Sepak Bola, Pindah Bendera, dan lain-lain. Kegiatan lomba kadang melibatkan peserta dari pondok pesantren lain seperti dalam lomba Baca Kitab Kuning dan Pidato.

Sehari sebelum malam puncak, digelar Pawai Karnaval. Para santri beradu kreatifitas. Ada yang menampilkaan Drum Band yang peralatannya dari bahan bekas, ada yang menampilkan tari adat, ada yang menampilkan sejenis teater. Di acara ini peserta tidak hanya kirab, melainkan juga tampil di depan penonton. Panitia memberikan waktu 10 menit untuk tampil.

Malam  puncak diisi dengan Ceramah Agama dengan mendatangkan Muballigh dari daerah lain. Kadang dari luar pulau. Selain itu pemenang lomba dan ranking kelas juga diumumkan di malam puncak di depan penonton. Harapannya mampu memotivasi santri agar giat belajar. Keesokan harinya, para santri diperkenankan pulang bersama walinya. Selama di rumah para santri diwajibkan untuk menjaga nama baik Pondok Pesantren.

Baca Juga :  Agar Terbebas dari Sikap Sombong, Ujilah Dirimu dengan Empat Hal Ini

Sementara itu di pulau Jawa tepatnya di Pondok Pesantren Wali Songo Situbondo (Pesantren yang didirikan oleh KHR. Moh. Kholil As’ad Syamsul Arifin putra pahlawan nasional KHR. As’ad Syamsul Arifin) Haflatul Imtihan merupakan acara penutupan sekaligus pembukaan. Disebut acara penutupan  dikarenakan setelah acara ini Pondok Pesantren libur. Sedangkan “pembukaan”, dikarenakan setelah acara ini santri pulang ke rumah masing-masing untuk belajar kepada orang tua, tetangga, dan masyarakat.

Jadi, pembukaan yang dimaksud adalah pembukaan kegiatan belajar kepada orang-orang di luar Pondok. Mengenai hal ini bisa dilihat di selebaran yang dikeluarkan Pondok Pesantren. Di dalam selembaran itu, santri juga dianjurkan “menghidupkan” musholla/masjid sekitar saat berada di rumah.

Perayaan Haflatul Imtihan tidak hanya dilakukan oleh Pondok Pesantren di Jawa dan Madura. Pondok Pesantren di pulau Kalimantan juga melakukan hal yang sama sebagai kegiatan akhir belajar mengajar. Salah satunya di Pondok Pesantren Darul Faizin Pontianak Kalimantan Barat. Konsep acara hampir sama dengan perayaan di Jawa dan Madura namun dirangkai dengan kegiatan Wisuda Amtsilati.

Kegiatan Haflatul Imtihan menurut penulis perlu dilestarikan. Sebab acara ini bisa menjadi media silaturrahmi wali santri dengan Pengasuh dan para ustaz. Begitu juga bagi alumni Pondok Pesantren tersebut. Apabila hadir saat acara puncak yang diisi dengan ceramah agama, bisa menjadi media pengingat ilmu yang telah diperoleh. Bahkan bisa menjadi media mencari ilmu dan jalan menuju surga. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن سلَك طريقًا يطلُبُ فيه عِلْمًا، سلَك اللهُ به طريقًا مِن طُرُقِ الجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga” (HR. At Tirmidzi dan Abu Daud).

Baca Juga :  Menjelajahi Warisan Peradaban Islam di Kota Tua Tunisia

Tentu banyak hal positif lainnya yang bisa diambil dari kegiatan Haflatul Imtihan ini. Meskipun segi negatifnya juga ada. Maka, panitia Haflatul Imtihan perlu semakin meningkatkan nilai positifnya dan menekan nilai negatifnya. Waallahu ta’ala  a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here