Hafiz Syirazi: Sufi Penyair Kontroversial

0
1347

BincangSyariah.Com – Hafiz Syirazi adalah seorang sufi, sastrawan, dan penyair terbesar Persia, menggantikan Sa’di Syirazi. Hafiz lahir tahun 1325 M. Nama lengkapnya Syamsuddin Muhammad Hafizh al-Syirazi. Ia seorang khawaja, sebutan untuk ulama besar, syekh atau maulana. Ia dikenal dengan sebutan lisan al-ghaib (“juru bicara suara misteri”) dan tarjuman al-asrar (“penafsir rahasia-rahasia”).

Abd al-Rahman Jami (1492-1414 M), sufi sastrawan, mengomentari predikat tersebut dalam bukunya yang terkenal Nafahat al-Uns. “Syekh Hafiz adalah sufi besar yang sangat piawai dalam memahami makna-makna yang tersembunyi dari kata-kata. Ia membungkusnya dalam bahasa aforisme yang mengalir halus dan tenang. Puisi-puisi Hafiz menggoncang dahsyat jiwa pembacanya sekaligus memabukkan, atau dengan kata lain membangkitkan kerinduan yang mendalam dan mencerahkan.”

Karya-karya sastranya memperoleh apresiasi luar biasa di dunia Timur maupun Barat dan dicatat sebagai karya sastra abadi. Pikiran-pikirannya jernih, tajam, kritis, sekaligus kontroversial. Ia acap menggoncangkan pikiran-pikiran para otoritas mapan (status quo). Tuduhan sesat dan kafir acap diterimanya. Tetapi pada saat yang sama, dia juga memperoleh pujian kekaguman dan penghormatan yang tinggi.

Sufi atau Kafir ?

Manakala dia meninggal dunia, para tokoh agama melarang masyarakat menyampaikan duka cita dan mengantarkan jenazahnya. Mereka menganggap Hafiz telah sesat dan kafir. Tetapi sebagian masyarakat menentang pandangan itu sekaligus membelanya sebagai seorang sufi besar, seorang saleh.

Perdebatan itu pada akhirnya diselesaikan melalui “undian” untuk menentukan apakah Hafiz seorang saleh atau orang yang sesat dan kafir. Mereka memilih sebuah puisi aforisme empat puluh tujuh dari karya Hafiz. Puisi ini terdiri dari dua bagian: awal dan akhir. Jika bagian awal yang keluar, maka pendapat para tokoh agama yang mengafirkan Syekh Sa’di menang. Jika bagian kedua yang keluar, maka kemenangan di pihak pembelanya. Hasilnya ialah puisi bagian akhir yang keluar.

Dalam terjemahan bahasa Arab ia berbunyi:

لَا تُؤَخِّرْ قَدَمَكَ اَوْ تَتَرَدَّدْ عَنْ جَنَازَةِ حَافِظٍ
فَهُوَ غَرِيقٌ فِى اْلاِثْمِ وَلَكِنَّهُ ذَاهِبٌ اِلَى الْجَنَّةِ

“Jangan kau tunda kakimu melangkah

Jangan ragu atas jenazah Hafiz

Dia tenggelam dalam dosa

tetapi ia pulang ke surga mu”

Menarik sekali. Para tokoh agama yang semula menuduh Hafiz sesat dan kafir itu, kemudian percaya bahwa dia layak diantarkan jenazahnya dan dimakamkan di kuburan kaum muslimin. Bahkan dia ditempatkan secara istimewa di sebuah tempat bernama Raudhah al-Mushalli (taman orang yang salat). Ia semacam zawiat, tempat permenungan atau khalwat para darwis dan para salik (para pengembara yang menempuh jalan menuju Tuhan).

Pada masa hidupnya, Hafiz Syirazi acap tinggal di situ berhari-hari. Pada masa sesudah itu, ia berubah namanya menjadi al-Hafizhiyyah atau “Barkah Hafizh”. Kuburan ini diziarahi tiap hari oleh para peziarah dari seluruh penjuru dunia.
Ini adalah satu di antara puisi-puisi Khawaja Hafiz al-Syirazi:

اَنَا الدَّرْوِيش فَارْحَمْنِى اَيَا رَبِّى فَلاَ اَدْرِى
سِوَى ذَاالْبَابِ اَبْغِيهِ وَاَنْتَ الْقَصْدُ وَالْمَطْمَعُ
وَزَادَتْ حِيْرِتِى لَمَّا رَأَيْتُ الْعَذْبَ مِنْ شِعْرِى
وَلَمْ أَجْمَعْ بِهِ مَالاً وَحَتَّى الشُّكْرَ لَمْ اَسْمَعْ

“Aku seorang darwis, pengembara

Anugerahi aku Kasih-Mu, o Tuhanku

Aku tak tahu, apa lagi yang aku harapkan

Selain pintu-Mu ini

Kaulah tujuan dan tempat hasratku

Cemasku semakin bertambah

Manakala puisiku begitu tawar

Tak menghasilkan apa pun

Kata terima kasih juga tak aku dengar.[]

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here