Mendiskusikan Hadis tentang Etos Kerja, I’mal Lidunyaaka

0
2464

BincangSyariah.Com – Berbicara tentang etos kerja, ada satu maqalah (ungkapan) yang sangat populer di tengah masyarakat, yaitu:

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعْيْشُ أَبَدًا وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأنَّكَ تَمُوْتُ غدًا

Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”.

Banyak yang menduga maqalah tersebut merupakan hadis Nabi, akan tetapi maqalah tersebut tidak ditemukan dalam kitab hadis mana pun. Athiyah Shaqr dalam Fatawa al-Azhar menjelaskan, maqalah tersebut bukanlah hadis Nabi Muhammad SAW, tetapi atsar yang dinisbatkan pada sebagian sahabat, yaitu Abdillah bin Amr bin Ash.

Akan tetapi Imam Suyuthi dalam al-Jami’ as-Saghir meriwayatkan hadis da’if yang maknanya hampir sama dengan maqalah di atas:

اِعْمَلْ عَمَلَ اِمْرِئٍ يَظُنُّ أَنَّهُ لَنْ يَمُوْتَ أَبَدًا وَاحْذَرْ حَذْرَ اِمْرِئٍ يَخْشَى أَنْ يَمُوْتَ غَدًا

Beramallah seperti amalnya orang yang mengira bahwa dirinya tidak akan mati selamanya, dan berhati-hatilah seperti hati-hatinya orang yang takut mati esok hari.

Secara tekstual maqalah di atas bisa dipahami sebagai motifasi untuk membangun dunia di segala bidang agar penduduk sebuah bangsa mencapai kemakmuran dan generasi setelahnya bisa mengambil manfaat dari apa yang telah diperbuat generasi sekarang, sebagaimana generasi sekarang mengambil manfaat dari generasi sebelumnya. Ketika manusia mengetahui akan memiliki usia panjang, maka dia akan mengokohkan apa yang dia buat dan berhemat atas sesuatu yang telah ia hasilkan.

Pemaknaan tekstual sebagaimana di atas diperkuat dengan firman Allah dalam Surah al-Qashshash [28] ayat 77 yang artinya:

Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Baca Juga :  Ini Hikmah Manusia Diberi Ujian dan Cobaan

Maqalah di atas juga mendorong agar selalu ikhlas beramal, menghadirkan hati di setiap ibadah, dan giat memperbanyak amal saleh, karena orang yang tahu bahwa dia akan mati esok hari, dia akan memperbanyak ibadah dan ikhlas dalam melaksanakannya, sebagaimana disabdakan Nabi, shalli shalata muwaddi’ shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah dengan dunia”. (Baca: Ini Dalil Entrepreneurship dalam Islam)

Pemahaman tekstual sebagaimana di atas, ditolak oleh sebagian para ahli hadis. Al-Al-Munawi dalam Faidl al-Qadir menjelaskan bahwa pemahaman sebagaimamna di atas tidak sesuai dengan semangat ajaran Islam yang menyunnahkan sikap zuhud (meninggalkan duniawi), tidak banyak terlibat dengan urusan dunia, tidak suka bermegah-megahan dalam membangun dan lain sebagainya.

Dengan demikian, makna maqalah di atas adalah, ketika manusia tahu bahwa dirinya akan hidup lama di dunia, maka dia tidak perlu tamak, dan dia harus tahu bahwa apa yang dia inginkan tetap akan bisa diperoleh walaupun tidak tamak dalam mencarinya. Jika kita tidak mendapatkannya hari ini, maka akan mendapatkannya besok, sebab kita akan hidup lama di dunia. Artinya urusan duniawi boleh ditunda, tidak harus dilakukan saat ini, boleh dikerjakan besok. Maqalah di atas juga mengandung pesan untuk taqlil (tidak banyak) menyibukkan diri dengan urusan dunia.

Pemaknaan seperti itu selaras dengan yang sering dikutip oleh ulama tasawwuf, “Beramallah untuk duniamu sekadar lamamu tinggal di dunia, dan beramallah untuk akhiratmu sekadar tetap abadimu berada di dalamnya.

Perbedaan pendapat sebagaimana di atas sebenarnya bisa dikompromikan dengan cara memaknai kembali pengertian zuhud. Menurut Abdul Wahab asy-Sya’rani dalam Minah as-Saniyyah, hakikat dari zuhud adalah hati yang tidak cenderung dan cinta dengan dunia, dan tidak harus miskin dari harta dunia, karena syariat tidak pernah melarang manusia untuk berdagang dan bekerja. Bahkan Abu Hasan Asy-Syadzili memerintahkan murid-muridnya memakan makanan yang lezat, meminum minuman yang nikmat, tidur di atas kasur yang nyaman, dan memakai pakaian yang baik, agar ketika lisannya mengucapkan alhamdulillah, seluruh anggota tubuh juga ikut bersyukur kepada Allah.

Baca Juga :  Amalan yang Pahalanya Melebihi Haji dalam Manuskrip Hadis Nusantara

Dengan demikian bisa dipahami bahwa kita diperintahkan melakukan aktifitas kerja duniawi dengan etos kerja tinggi melalui kerja keras dan berkualitas, dalam rangka memakmurkan bumi dan memberikan manfaat yang seluas-luasnya pada orang lain. Bahkan Allah menyebut Nabi Musa sebagai Nabi yang memiliki etos kerja tinggi, “Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (Q.S. Al-Qashash [28] : 26)

Kita juga boleh mendapatkan keuntungan duniawi dengan cara-cara yang dihalalkan oleh Allah, bahkan kita boleh menguasai dunia, namun tidak boleh memasukkannya dalam hati sebagaimana tersebut dalam do’a, “Ya Allah! Jadikanlah dunia di bawah kekuasaan kami dan jangan jadikan dia di dalam hati kami.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here