Hadis Syam Tempat Berkumpul Manusia di Akhir Zaman

0
2585

BincangSyariah.Com – Syam adalah salah satu destinasi klasik yang banyak diperbincangkan oleh Alquran maupun Hadis. Di sana adalah rumah para nabi, tempat orang-orang saleh berkumpul, merupakan kiblat pertama umat Islam, dan banyak lagi keutamaan negeri Syam, termasuk di antaranya adalah tempat berkumpulnya umat manusia sebelum hari kiamat tiba.

Saking banyaknya keutamaan tersebut, banyak ulama yang menuangkan buah karya mereka menyoal keutamaan Syam, sebut saja Abu Sa’d al-Sam’ani, Ibn al-Jauzi, Ibn ‘Asakir, al-Biqa’i, Dhiya’ al-Din al-Maqdisi, ‘Izzuddin bin ‘Abd al-Salam, Ibn Rajab al-Hanbali, serta banyak lagi yang lainnya.

Jika dirangkum, riwayat-riwayat yang berkaitan dengan Syam adakalanya bersifat faktual, yang telah terjadi dan adakalanya berupa prediksi atau yang akan terjadi. Salah satu yang bersifat prediksi adalah riwayat tentang posisi Syam sebagai mahsyar bagi umat manusia pada saat hari kiamat tiba.

Diriwayatkan dalam sebuah hadis dari sahabat Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda:

الشـــــام أرض المحشر والمنشر

“Syam adalah tanah tempat berkumpul dan berpencar (pada hari kiamat).”

Hadis ini dapat dijumpai dalam Musnad al-Bazzar. Menurut Syekh al-Albani, hadis ini shahih. Pendapat berbeda diutarakan oleh Syekh al-Idlibi yang menyebut bahwa hadis ini dhaif atau lemah. Kesimpulan ini dapat dirujuk dalam karyanya, “Ahadits Fadhail al-Syam: Dirasah Naqdiyyah” (Hadis-Hadis Keutamaan Syam: Studi Kritis).

Hadis ini diriwayatkan melalui tiga model periwayatan. Yang pertama diriwayatkan secara marfu’ (sampai kepada Nabi SAW), yakni melalui jalur sahabiyah Asma’ binti Yazid, sahabat Abu Dzar, sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas, sahabiyah Maimunah binti Sa’d dan yang terakhir dari jalur Bilal bin Sa’d.

Yang kedua, diriwayatkan secara mursal (hanya sampai kepada tabiin) yakni melalui tabiin ‘Abdurrahman bin Ghanam dan tabi’in Hasan Bashri. Dan yang terakhir diriwayatkan secara mauquf (hanya sampai sahabat, tidak sampai Nabi SAW), di antaranya melalui jalur ‘Abdullah bin ‘Umar dan banyak lagi yang lainnya.

Baca Juga :  Darus-Sunnah Kembali Lahirkan Calon-calon Ahli Hadis Indonesia

Dari semua model dan jalur periwayatan di atas, menurut Syekh al-Idlibi, tidak ditemukan satupun riwayat yang shahih. Dua model periwayatan terakhir, yakni periwayatan secara mursal maupun mauquf tidak bisa dikatakan sebagai hadis nabi karena bukan bersumber dari Nabi SAW. Umumnya hadis model tersebut disebut dengan atsar atau khabar saja.

Adapun riwayat-riwayat marfu’ di atas, dapat ditemukan di berbagai tempat. Pertama, riwayat Asma’ binti Yazid, dapat ditemukan dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan Musnad Ahmad. Sayangnya, dari dua sumber ini terdapat seorang rawi yang bernama Syahr bin Hausyab yang tercatat dhaif.

Kedua, riwayat Abu Dzar, dapat ditemukan di dalam Musykil al-Atsar, Musnad al-Syamiyin, Syu’ab al-Iman, dan Tarikh Dimasyq. Dari semua jalur yang ada dalam kitab-kitab tersebut terdapat rawi yang juga dhaif, yaitu Sa’id bin Basyir. Ibnu Asakir meriwayatkan hadis Abu Dzar melalui jalur lain, akan tetapi dalam riwayat tersebut terdapat perawi bernama al-Syadzkuni, yang justru dinilai matruk (tertuduh berbuat dusta).

Ketiga, riwayat Ibn ‘Abbas, dapat ditemukan di dalam kitab Tafsir Ibn Abi Hatim, dan Tarikh Dimasyq. Dari dua sumber ini juga ditemukan perawi bernama Abu Sa’d al-Baqqal yang juga terdeteksi lemah, munkar hadis.

Keempat, riwayat Maimunah binti Sa’d, dapat dijumpai di dalam Musnad Ahmad, Sunan Ibn Majah, Musykil al-Atsar, al-Mu’jam al-Kabir, dan beberapa tempat lainnya. Sebagaimana riwayat-riwayat sebelumnya, riwayat hadis ini bermasalah, sebab telah terbukti bahwa hadis ini mursal.

Menurut Syekh al-Idlibi, Maimunah binti Sa’d sendiri belum begitu banyak diketahui bahwa dia adalah sahabiyah Nabi SAW, tidak ada ulama yang menyebutkan dia sebagai sahabiyyah Nabi SAW, ia hanya diketahui lewat hadis ini semata, untuk itu ia tidak bisa dianggap adil sebagaimana sahabat lain.

Baca Juga :  Uwais al-Qarni: Menjadi Penghuni Langit Karena Memuliakan Ibunya

Kelima, riwayat Bilal bin Sa’dy bisa dijumpai dalam kitab Tarikh Dimasyq karya Ibn ‘Asakir. Sebagaimana yang lain, riwayat ini juga bermasalah karena salah seorang perawi bernama Hafsh bin Bilal dan ayahnya, tidak ditemukan biografinya alias majhul.

Menurut Syekh al-Idlibi, kesimpulan yang dapat ditarik dari seluruh periwayatan di atas adalah, bahwa hadis terkait Syam di atas adalah hadis dhaif. Hadis ini berkenaan dengan Syam, yang di akhir zaman akan menjadi tempat berkumpulnya seluruh umat manusia (mahsyar). Masing-masing orang berbondong-bondong menuju Syam untuk berkumpul dan menyelamatkan diri dari api yang menggiring mereka.

Orang-orang beriman mendatangi Syam dengan ketaatan dan sukarela sedangkan orang-orang kafir mendatanginya dengan terpaksa. Hal ini sebagaimana termaktub dalam beberapa riwayat lain. Adapun yang dimaksud bahwa Syam adalah tempat Mansyar, adalah bahwa manusia dikumpulkan di tempat tersebut dan dari situlah mereka akan dipencarkan untuk dihisab, mulanya mereka dibangkitkan dari kuburan mereka dan kemudian digiring menuju tempat berkumpul tersebut.

Narasi di atas dikemukakan oleh Syekh al-Munajjid dalam Thuba al-Syam. Beliau mengatakan bahwa ada relasi antara hadis di atas dengan hadis yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa akan ada api yang keluar dari Hadramaut, atau dari arah laut Hadramaut sebelum hari kiamat tiba, api tersebut yang menggiring umat manusia. Orang-orang kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW, “(Ketika api tersebut muncul), apa titah engkau kepada kami wahai Rasulullah?” Kemudian dijawab oleh beliau, “Berkumpullah di Syam!” kemudian beliau menunjuk ke arah Syam, karena saat itu Syam adalah tempat yang paling baik bagi umat Islam dibandingkan dengan yang lainnya.

Menurut Ibnu Katsir, konteks hadis ini dikhususkan ketika hari kiamat telah tiba, di mana dunia sudah berada di penghujung riwayat. Oleh sebab itu tidak ada kaitan sama sekali, antara hadis ini dengan hadis-hadis yang mengglorifikasi Syam sebagai tempat yang tepat untuk berjihad dan berhijrah. Hadis ini adalah satu dari banyak fenomena yang muncul di akhir zaman, oleh sebab itu pemaknaannya juga harus disesuaikan dengan fenomena-fenomena lain yang juga akan muncul di akhir zaman.

Baca Juga :  NU Jajaki Kerjasama dengan Lembaga Sosial di Bosnia

Ini seperti apakah Nabi Isa AS sudah muncul? Demikian pula dengan Dajjal dan Yajuj dan Majuj? Atau, sudahkah matahari terbit dari barat ke timur? Atau tanda-tanda akhir zaman lainnya? Hal ini penting, mengingat hadis di atas dikontekskan sebagai hadis akhir zaman. Hadis di atas melibatkan seluruh umat manusia, membangkitkan mereka dari kubur-kubur mereka dan mengumpulkan mereka di tanah Syam dan pada akhirnya menghisab amal ibadah seluruh umat manusia. Jika diurutkan dari seluruh fenomena yang ada, fenomena “mahsyar dan mansyar” ini adalah fenomena yang paling akhir yang akan muncul dari pada fenomena-fenomena yang lainnya.

Oleh sebab itu, jika diyakini bahwa hadis ini adalah hadis shahih, maka patut dipahami bahwa kumpulnya manusia saat itu disebabkan karena terdapat api yang menggiring mereka pada hari kiamat di mana seluruh tanda-tanda akhir zaman lainnya telah bermunculan. Namun jika diyakini bahwa hadis ini adalah hadis dhaif sebagaimana yang diutarakan oleh Syekh al-Idlibi, maka tidak perlu ada keyakinan terkait keutamaan Syam yang satu ini, karena hari kiamat hanya diketahui oleh Allah SWT, dan manusia hanya sedikit yang mengetahuinya. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here