BincangSyariah.Com- Belakangan menjelang abad ke 20, penelitian akan keoriginalitas dan validitas hadis yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw. ramai diteliti oleh para orientalis. Dengan menjadikan buku Muhammedanische Studien karya Ignaz Goldziher dan The Origins of Muhammadan Jurisprudence karya Joseph Schacht sebagai rujukan utama, mereka menuduh bahwa hadis nabi tidak dapat dipercaya secara historis.

Ignaz Goldzhier (1850-1921) merupakan orientalis pertama yang mengkritik hadits dan ilmu hadits secara sistematis dengan metode ”Historical Criticism”-nya. Menurutnya, sebab hadits Nabi tidak pernah dibukukan sampai pada awal abad kedua Hijriyah. Maka secara tidak langung dapat disimpulkan bahwa pada kurun waktu yang panjang ini, keberadaan Hadits tersia-sia. Alasannya karena hadits belum ditulis dalam artian dibukukan. Implisitnya, keotentikan hadits Nabi sangat diragukan bahkan mempunyai kecenderungan untuk ditolak.

Sedangkan Joseph Schacht (1902-1969) merupakan penerus Goldziher dengan kritik yang lebih canggih dan merupakan peletak fondasi bagi hampir seluruh kajian hadis bagi orientalis masa sesudahnya. Melalui teorinya yang dia sebut projection back, dia menuduh teori sistem isnad sebagai buatan para ulama hadis dan tidak pernah ada pada zaman Nabi atau bahkan para sahabat. Dengan kata lain, sistem isnad menurutnya adalah a-historis.

Melihat apa yang mereka lakukan telah menjadi rujukan penting dan pokok, Musthafa Azami sebagai sarjana muslim menilainya sebagai sesuatu hal yang membahayakan dalam sejarah penelitian hadis nabi.

Oleh karenanya, melalui karyanya yang berjudul Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya (Studies In Early Hadith Literature ) Azami terang-terangan memberi kritik tajam atas pemikiran Schacht terkait keshahihan hadis. Kritik Azami ini bukan hanya ditujukan kepada pandangan sarjana Barat, tetapi menyerang dan mengecam keras metode yang dilalui oleh mereka.

Dalam bukunya, Azami menempatkan pembahasan tentang aktivitas tulis menulis sejak periode pra-Islam dan masa-masa berikutnya sebagai kajian utama, yang ia tuliskan pada bab dua setelah ia menjelaskan panjang lebar tentang sunnah dan kedudukan sunnah dalam islam pada bab pertama. Tampaknya ini dipaparkan Azami untuk menepis pandangan Barat yang menyatakan bahwa periwayatan hadis hanya mendasarkan kekuatan hafalan semata. Untuk menguatkan pandangannya, Azami juga menuliskan daftar nama-nama sahabat, tabi’in dan ulama hadis dari tahun 150 H yang ikut andil dalam penulisan hadis, yang ia cantumkan pada bab keempat.

Baca Juga :  Imam Bukhari: Ahli Hadis yang Dirindukan Rasulullah Saw. (W. 256 H.)

Azami secara khusus dan panjang lebar mengulas kegiatan tulis menulis hadis sejak masa awal Islam sampai terwujudnya buku-buku kanonik hadis. Ia melihat pandangan yang mengemukakan ketiadaan orang Islam yang mampu menulis dan membaca di masa awal sejarah Islam tidak sepenuhnya benar. Sebab betapa banyak anjuran dan perintah Nabi saw agar umat Islam belajar menulis dan membaca. Azami mengilustrasikan bahwa Nabi menyuruh beberapa orang sahabat untuk mengajarkan tulis menulis, di antaranya ialah ‘Ubadah bin Shamit dan lainnya.

Dia menulis kajiannya berdasarkan literatur tua yang masih berupa manuskrip. Manuskrip ini sebagai materi utama dari berbagai hadis yang terdapat di dalam kitab al-Bukhari. Ia berhasil melakukan pengeditan terhadap manuskrip-manuskrip tersebut yang kemudian menjadikannya sebagai bahan rujukan berharga yang kemudian ia lampirkan di bagian akhir buku.

Selain itu, untuk menopang pendiriannya, Azami menyebutkan jika Nabi Saw sendiri  memiliki banyak sekretaris untuk memenuhi kebutuhan Nabi Saw terkait surat menyurat. Di antara penyebaran hadis melalui tulisan dapat dikategorikan di sini adalah surat-surat Nabi yang dikirim untuk para raja, penguasa, kepala suku, dan gubernur muslim yang ada. Selain juga catatan-catatan khusus untuk para sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Amr bin Ash (w. 63 H), dan Abu Shah.

Azami juga menyebutkan bahwa Abu Hurairah (w. 59 H) yang dikenal salah satu sahabat yang banyak memiliki riwayat hadis juga memiliki buku yang memuat catatan hadis dan diberikan kepada para muridnya. Anas bin Malik memberikan catatan-catatan hadis kepada enam belas orang, Aishah (w. 57 H) setidaknya memberikan catatan hadis kepada tiga orang, termasuk keponakannya sendiri yakni Urwah (w. 94 H) seorang tabi’in, dan masih banyak lagi sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis dan memberikannya  kepada para muridnya dalam bentuk tertulis.

Baca Juga :  MC Ricklefs dan Amal Jariyahnya

Ibnu Mas’ud juga memiliki catatan hadis yang disebut al-Sahifah, di dalamnya memuat seribu hadis. Terdapat beberapa Sahifah sejenis yang dimiliki oleh beberapa sahabat, seperti Sa’d bin ’Ubadah al-Anshari (w. 15 H), Samurah bin Jundub (w. 59 H), Jabir bin Abdullah al-Anshari (w. 78 H), Anas bin Malik (w. 93 H), dan Hammam bin Munabih. Sahifah Hammam disebut dengan al-Sahifah al-Sahihah yang memuat riwayat hadis dari Abu Hurairah.

Pada perkembangan selanjutnya banyak bermunculan sahifah- sahifah yang memuat hadis Nabi di abad ketiga Hijriyah. Sedangkan kumpulan sahifah tersebut merupakan sumber-sumber utama kitab hadis di abad ketiga Hijriyah dalam bentuk kitab Jawami’, masanid, dan sunan. Akan tetapi berita yang masyhur terdapat di kalangan umat Islam bahwa hadis baru ditulis dan tercatat di abad ketiga Hijriyah, sementara tadwin/kodifikasi hadis baru dimulai di abad kedua Hijriyah.

Menurut Azami ada dua faktor utama munculnya pendapat bahwa kodifikasi hadis baru dimulai di abad kedua Hijriyah. Pertama ahli sejarah hanya mendasarkan pandangannya terkait kodifikasi hadis di abad ketiga tanpa menyebut sahifah- sahifah dan kumpulan-kumpulan tulisan yang telah ada pada abad pertama Hijriyah.

Kedua, ahli hadis tidak menyebutkan adanya kitab-kitab hadis yang banyak dan tebal-tebal merupakan hasil himpunan hadis yang berasal dari lemabran-lembaran kecil dan catatan-catatan yang berserakan sejak abad pertama Hijriyah.

Tentu tak semua kitab-kitab tersebut sampai ke kita, sebab sebagian ada yang sudah hilang ditelan zaman. Penulisan tersebut adakalanya atas izin Nabi dan ada yang melakukan penulisan atas inisiatif individu untuk kepentingan diri mereka sendiri. Contoh sahifah milik Sa’d bin ‘Ubadah al-Ansari (w. 15 H), di mana beberapa hadisnya diriwayatkan oleh al-Tirmidhi dan al-Bukhari, sahifah milik Samurah bin Jundub (w. 60 H), sahifah milik Jabir bin Abdullah (w. 78 H), dan sahifah Abdullah bin ‘Amr al-Sadiqah.

Baca Juga :  Imam al-Bukhari dan Kedekatannya dengan Bangsa Indonesia

Azami melihat jika benar umat Islam di masa Nabi masih hidup tidak semuanya pandai menulis, tentu tidak mungkin Nabi memberikan larangan menulis selain al-Qur’an. Logikanya, jika hal tersebut benar lalu bagaimana Alquran dapat tertulis dan kenyataannya Nabi memiliki juru tulis (sekretaris) untuk menuliskan Alquran.

Demikianlah penemuan yang digunakan Azami untuk menyangkal teori dan pandangan Goldziher, Schacht, dan lainnya yang menyatakan hadis tidak dapat dipercaya secara historis. Terakhir buku ini sangat layak untuk dibaca terutama bagi siapa saja yang menggeluti bidang Hadis dan Ilmu Hadis. Wallahu musta’an. (Baca juga: Mengenang Ahli Hadis Kontemporer Musthafa Azami)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here