Maksud Hadis Istri yang Tidak Menolak Tangan Pria Lain

3
1603

BincangSyariah.Com – Suatu hari salah seorang sahabat datang menghadap Nabi, mengadukan sikap istrinya yang tidak menolak tangan pria lain yang menyentuhnya. An-Nasa’i dalam kitab Sunannya menceritakan hadis dari Ibnu Abbas:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ إِنَّ عِنْدِى امْرَأَةً هِىَ مِنْ أَحَبِّ النَّاسِ إِلَىَّ وَهِىَ لاَ تَمْنَعُ يَدَ لاَمِسٍ. قَالَ (طَلِّقْهَا). قَالَ لاَ أَصْبِرُ عَنْهَا. قَالَ (اسْتَمْتِعْ بِهَا)

Telah datang seorang laki-laki pada Rasulullah SAW, dia mengadu: Aku memiliki seorang istri, dia adalah orang yang paling aku cintai, dia tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya. Nabi bersabda, “Ceraikanlah dia”. Laki-laki itu menjawab, “Aku tidak bisa jauh darinya”. Nabi bersabda, “Bersenang-senanglah dengan dia”. (Baca: Apakah Sah Pernikahan Hubungan Hasil Selingkuh?)

Ulama berbeda pendapat dalam memahami sabda Nabi “La tamna’u yada lamisin” (tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya). Setidaknya ada dua pendapat berbeda yang dimunculkan:

Pertama, arti dari sabda Nabi di atas adalah perbuatan fujur (amoral), maksudnya istri dari sahabat tersebut tidak menghindar dari orang yang ingin berbuat fahisyah (asusila) padanya. Pendapat ini didukung oleh Abu Ubaid, Khallal, Nasa’i, Ibnu A’rabi, Khattabi, al-Ghazali, dan an-Nawawi. Dari pemahaman ini ar-Rafi’i berkesimpulan, suami tidak wajib menceraikan istrinya yang melakukan zina, ketika suami merasa berat berpisah dengan dirinya.

Kedua, artinya adalah istri tersebut memubazirkan harta suami, tidak pernah menolak orang lain yang meminta harta tersebut pada dirinya. Pendapat ini didukung oleh Ahmad, Ashma’i, Muhammad bin Nashir yang mengutip dari beberapa ulama.

Muhammad bin Ismail dalam Subulus Salam menolak dua pendapat di atas. Menurut nya, pendapat pertaman tertolak karena bertentangan dengan al-Qur’an dalam surat an-Nur [24] ayat 3:

Baca Juga :  Cerita Nabi tentang Si Belang, Si Botak dan Si Buta

الزَّانِي لَا يَنْكِحُ إِلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنْكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.”

Walaupun ayat tersebut memiliki banyak interpretasi.

Juga bertentangan dengan hadis Nabi yang melarang seorang suami menjadi dayyuts, yaitu suami yang mengizinkan istrinya melakukan tidak asusila.

Pendapat kedua juga kurang tepat, karena jika istri memubazirkan hartanya sendiri, maka dia punya wewenang untuk menggunakan harta tersebut, dan jika yang dimubazirkan adalah harta suami, maka suami bisa melakukan tindak pencegahan, sehingga menjadi tidak relevan dengan perintah Nabi untuk menceraikan istri tersebut.

Selain itu, dari segi bahasa Arab, kata “La tamna’u yada lamisin” tidak biasa digunakan untuk kinayah (kiasan) dari orang yang selalu memberikan harta pada setiap orang yang meminta.

Menurut Muhammad bin Ismail, makna yang tepat dari kata “La tamna’u yada lamisin” adalah, perempuan yang memiliki watak sahlah (ramah atau gampangan), tidak memiliki rasa canggung dan malu pada orang lain. Jadi maknanya bukanlah wanita yang melakukan perbuatan asusila, karena jika yang dikehendaki adalah wanita asusila maka berarti suami yang dikisahkan dalam hadis di atas telah melakukan qadf (menuduh istrinya berzina).

Sedangkan menurut Muhammad Syamsul Haq dalam ‘Aunul Ma’bud, makna literal dari “La tamna’u yada lamisin” adalah istri tersebut tidak menolak tangan laki-laki lain yang mengulurkan tangan ingin menyentuhnya.

Kisah dalam hadis diatas mengingatkan kepada kita agar serius dan berhati-hati dalam memilih pasangan yang ideal, sebab prilaku yang tidak baik dari pasangan akan menimbulkan masalah-masalah rumah tangga dan mungkin berujung perpisahan. Pasangan yang ideal akan lebih mudah mencapai tujuan pernikahan, yaitu mewujudkan keluarga yang langgeng, sejahtera, sakinah, mawaddah, wa rahmah, wa barakah (samaraba).

Baca Juga :  Benarkah Al-Qurthubi Mewajibkan Sistem Khilafah?

Imam Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyampaikan delapan kriteria wanita yang baik untuk dinikahi, yaitu: baik agamanya, baik akhlaknya, cantik, ringan maharnya, subur, perawan, nasab yang baik, dan bukan kerabat dekat. Tapi di antara delapan itu yang paling penting adalah agamanya.

Kenapa agama begitu penting? Karena istri yang tidak menjaga kehormatan dan kelaminnya, akan mempermalukan suami dalam pandangan orang lain, akan membuat suami selalu cemburu, dan kehidupan keluarga menjadi tidak tenang. Istri yang demikian bagaikan buah simalakama bagi suaminya; jika ia selalu cemburu, maka setiap saat hatinya tersiksa, tapi jika tidak cemburu, maka termasuk laki-laki yang agamanya tidak baik bahkan bisa disebut tidak punya hati. Lebih rumit lagi jika istrinya cantik; dicerai dan dipertahankan sama beratnya di hati.

3 KOMENTAR

  1. Bagai mana klu istri selingkuh tp si lelaki g mau menceraikanya dgn alasan kelangsungan mental anak2nya

  2. Menurut Imam Rafi’i tidak wajib hukumnya menceraikan istri yang fasiqah (agamanya tidak baik).

    jadi boleh saja mempertahankan hubungan pernikahan ketika mengandung kemaslahatan, termasuk kemaslahatan anak2. Di bawah bimbingan suami diharapkan istri tersebut kembali menjadi istri yg shalihah.

  3. Menurut Imam Rafi’i: tidak wajib hukumnya menceraikan istri yang fasiqah (agamanya tidak baik).

    jadi boleh saja mempertahankan hubungan pernikahan ketika mengandung kemaslahatan, termasuk kemaslahatan anak2. Di bawah bimbingan suami diharapkan istri tersebut kembali menjadi istri yg shalihah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here