Hadis-hadis tentang Larangan Meratapi Orang Mati

1
510

BincangSyariah.Com –  Kematian seseorang yang kita cintai pastinya sangat berat untuk dilalui. Tangisan dan rasa haru seketika menyeruak pecah tak terkendali. Hal itu sangatlah wajar dan ditolelir oleh agama selama tidak dilakukan dengan cara-cara yang tidak baik, seperti sampai meraung-raung histeris, menyiksa diri sendiri, dan lain sebagainya. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab tiga puluh sembilan, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan hadis-hadis tentang larangan meratapi orang mati yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Hadis Pertama:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {النِّيَاحَةُ عَمَلٌ مِنْ أعْمَالِ الْجَاهِلِيَّةِ}

Nabi saw. bersabda, “Meratapi (orang mati) itu termasuk perbuatan dari perbuatan-perbuatan jahiliyah.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kedua:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَنْ فَعَلَ النِّيَاحَةَ عَدُوٌ ِللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ}.

Nabi saw. bersabda, “Orang yang melakukan ratapan (terhadap orang mati) itu musuh Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Ketiga:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {تَجِيْءُ النَّائِحَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَنْبَحُ كَنَبْحِ الْكَلْبِ}

Nabi saw. bersabda, “Orang yang meratapi orang mati itu datang di hari Kiamat menggonggong seperti gonggongan anjing.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Keempat:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {تَجيْءُ النَّائِحَةُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَعْثَاءَ غَبْرَاءَ عَلَيْهَا جِلْبَابٌ مِنْ نَارٍ وَتَضَعُ يَدَهَا عَلَى رَأْسِهَا وَتَقُوْلُ وَا وَيْلاَهُ}.

Baca Juga :  Tiga Macam Tangis Menurut Sayyidina Ali Ra., Apa Saja?

Nabi saw. bersabda, “Orang yang meratapi orang mati akan datang di hari Kiamat rambutnya acak-acakan, badannya berdebu, berselimut dari api, dan ia meletakkan tangannya di atas kepalanya dan berkata, “Celakalah aku.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kelima:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَعَنَ اللهُ النَّائِحَةَ وَالْمُسْتَمِعَةَ وَالْحَالِقَةَ وَالْخَارِقَةَ وَالشَّاقَّةَ وَالسَّالِغَةَ وَالْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَالسَّلْطَاءَ وَالْمَرْطَاءَ}

Nabi saw. bersabda, “Allah melaknat orang yang meratap, orang yang mendengar ratapan, orang yang mencukur (rambutnya), orang yang menyobek nyobek bajunya, orang-orang yang menyobek-nyobek saku bajunya, orang yang mencakari wajahnya, orang yang menato, orang meminta ditato, perempuan yang menampar-nampar wajahnya, dan perempuan yang mencabuti rambutnya (ketika terkena musibah).” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Keenam:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَنْ نَاحَ عِنْدَ الْمُصِيْبَةِ كُتِبَ اسْمُهُ فِيْ دِيْوَانِ الْمُنَافِقيْنَ}

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang meratap ketika mendapat musibah maka namanya ditulis dalam buku catatan amal orang-orang munafiq.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Ketujuh

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {صَوْتَانِ مَلْعُونَانِ فِى الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِزْمَارٌ عِنْدَ نِعْمَةٍ وَرَنَّةٌ عِنْدَ مُصِيْبَةٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Dua suara yang dilaknat di dunia dan akhirat adalah sura seruling ketika mendapat kenikmatan dan menjerit-jerit ketika mendapat musibah.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Bazzar dari sahabat Anas bin Malik r.a.

Baca Juga :  Sifat dan Sosok Israfil, Malaikat Peniup Sangkakala

Hadis Kedelapan:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَنْ خَرَقَ بِيَدِهِ جَيْبَا أَوْخَدَشَ خَدًّا أَوْضَرَبَهُ أَوْ نَاحَ عِنْدَ الْمُصِيْبَةِ كَانَ عَاصِيًا لِلهِ وَرَسُوْلِهِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang merobek saku (bajunya) dengan tangannya atau mencakar pipinya, memukulinya atau meratap ketika mendapat musibah maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan RasulNya.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kesembilan:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {لا يَحِلُّ لِلْمَرأةِ أَنْ تَطْرَحَ شَعْرَ رَأْسِهَا عِنْدَ الْمُصِيْبَةِ فَإِنْ طَرَحَتْ شَعْرَ رَأسِهَا، كَتَبَ اللهُ لَهَا بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَيَّةً عَلَى أعْضَائِهَا يَوْمَ الْقَيَامِةِ، وَكَانَتْ مِمَّنْ عَصَى اللهَ وَلَعَنَهَا اللهُ وَالْمَلاَئِكَةُ وَالْأنْبِيَاءُ وَالنَّاسُ أَجْمَعُوْنَ}

Nabi saw. bersabda, “Tidak halal bagi seorang perempuan membuang rambutnya ketika mendapat musibah jika ia membuang rambutnya maka Allah akan mencatatnya dengan setiap helai rambutnya akan menjadi ular di atas anggota-anggota tubuhnya di hari Kiamat, dan ia termasuk perempuan yang maksiat dan Allah, malaikat, para nabi, dan manusia seluruhnya melaknatnya.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kesepuluh:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَطَمَ الْخُدُوْدَ وَشَقَّ الْجُيُوْبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Tidaklah termasuk dari golongan kita orang yang menampar pipi-pipi, merobek saku-saku baju, dan memanggil dengan panggilan jahiliyah.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, imam Al-Bukhari dan imam Muslim, imam At-Tirmidzi, imam An-Nasa’i, dan imam Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Mas’ud r.a.

Baca Juga :  Hadis tentang Hijrah

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang larangan meratapi orang mati di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya. Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

  1. […] Pertama, bagi orang yang tidak pernah atau tidak akrab dengan literatur tersebut, niscaya akan dengan mudah mengimani postingan tersebut karena yang digunakan adalah “hadis” Nabi. Tapi, apa cukup yakin bahwa “hadis” itu dapat diduga keras adalah benar-benar sabda Nabi? Ingat lho, siapa yang berdusta atas nama Nabi dengan sengaja, maka neraka lah tempatnya. Apalagi “hadis” itu digunakan atau dipakai (diksi yang lagi tren saat ini) hanya untuk merespon tangisan Ahok. (Hadis Larangan Meratapi Orang Mati) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here