“Hadis-hadis” Tasawuf dalam Puisi-puisi Hamzah Fansuri

0
389

BincangSyariah.Com – Fansur merupakan nama daerah yang juga dikenal dengan Barus. Saat ini, daerah tersebut masuk wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Di daerah inilah, sastrawan besar Melayu, Hamzah Fansuri lahir pada sekitar paruh kedua abad ke-16. Braginsky (1998: 449), ahli kajian Melayu berkebangsaan Rusia, dalam karyanya Yang Indah Berfaedah dan Kamal; Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19 menyebutkan bahwa Hamzah Fansuri merupakan pelopor puisi Melayu klasik tertulis.

Drewes (1986), sarjana asal Belanda, di antara ahli yang pernah melakukan penyuntingan teks terhadap manuskrip puisi Hamzah Fansuri, dan hasil suntingan tersebut diberi judul The Poems of Hamzah Fansuri. Selain puisi, Hamzah Fansuri juga menulis karya prosa. Di antara karya prosanya yang sangat terkenal adalah Syarab al-Asyikin, Asrar al-Arifin, dan al-Muntahi. Ketiganya dijadikan Hamzah Fansuri semacam “Trilogi Tasauf”.

Braginsky (1998: 450) menyebutkan bahwa tasawuf pada masa Hamzah Fansuri hidup sedang menjadi life style dan digenari oleh masyarakatnya. Namun demikian, para pejabat di istana, dalam hal ini kadi Aceh, justru menganggap tasawuf sebagai ajaran murtad. Hal ini diperparah dengan hadirnya Nuruddin ar-Raniri yang mengkritik habis-habisan karya-karya Hamzah Fansuri,. Tidak hanya itu, akibat ar-Raniri karya-karya Hamzah Fansuri yang dibidahkannya itu habis dibakar oleh Sultan Iskandar Thani, Aceh (1998: 473).

Braginsky (1998: 450) menyebutkan beberapa negara yang pernah dikunjungi Hamzah Fansuri dalam menjelajah menuntut ilmu, di antaranya Irak (Baghdad), Mekah, dan Madinah. Dalam puisi-puisinya tersebut, Hamzah Fansuri mengadopsi sastrawan Islam Arab dalam mengutip Alquran maupun Hadis. Tradisi mengutip seperti ini dalam ilmu Balaghah disebut dengan iqtibâs.      

Terlepas dari perdebatan hitam-putih ahli fikih mengenai iqtibâs dalam karya sastra, terutama puisi, toh nyatanya Hamzah Fansuri telah melakukan itu dalam puisi-puisinya. Hal ini juga dilakukan oleh sastrawan Jawa, Kiai Ahmad ar-Rifai dalam puisi-puisinya, di antaranya yang ditulis oleh Adib Misbahul Islam dalam karyanya Puisi Perlawanan dari Pesantren.

Ada hal yang perlu dijelaskan terkait pengutipan hadis yang dilakukan Hamzah Fansuri. Sebagian kutipan yang disebutnya sebagai sabda Rasul atau sabda Muhammad sebenarnya bukanlah hadis menurut metodologi penelitian yang dilakukan ahli Hadis. Hal ini karena ada perbedaaan metodologi antara ahli Hadis dan sufi dalam menentukan sebuah Hadis.

Baca Juga :  Ibnu Taymiyyah dan Soal Diutusnya Buddha Menjadi Nabi

Kaum sufi yang bukan ahli Hadis biasanya mengklaim dirinya dapat bertemu langsung dengan Nabi, tanpa melalui mimpi. Menurut Sya’roni (2008: 127-128) dalam Otentisitas Hadis Menurut Ahli Hadis dan Kaum Sufi, klaim demikian tidak dapat dijadikan hujjah, karena lemah secara metodologis. Berbeda dengan ahli Hadis yang mensyaratkan secara ketat mengenai sanad dan matan Hadis yang diterima para perawi.

Dalam The Poems of Hamzah Fansuri, saya menemukan sebelas kutipan yang sebagiannya diklaim Hamzah Fansuri sebagai Hadis. Berikut ksebelas kutipan hadis itu:

Pertama, من عرف نفسه فقد عرف ربه. “Hadis” ini disebut sebanyak empat kali dalam puisinya tersebut (1986: 46, 50, 56, 60).

Kedua, موتوا قبل أن تموتوا yang disebut sebanyak dua kali (1986: 46, 130).

Ketiga, الدنيا جيفة وطلابها كلاب yang disebut hanya satu kali (1986: 60).

Keempat, أجيعوا بطونكم واظمئوا أكبادكم وأعرو أجسادكم لعل قلوبكم ترى الله عيانا في الدنيا. Hamzah Fansuri hanya mengutip potongan “hadis” ini saja, yaitu أجيعوا بطونكم dan وأعرو أجسادكم .

Kelima, حب الدنيا رأس كل خطيئة، وترك الدنيا رأس كل عبادة .

Keenam, كن في الدنيا كأنك غريب أو عابر سبيل . Hamzah Fansuri hanya mengutip sampai kata غريب saja.

Ketujuh, السخي حبيب الله ولوكان فاسقا والبخيل عدو الله ولو كان زاهدا .

Kedelapan, التائب من الذنب كمن لاذنب له  .

Kesembilan, لا أعبد ربا لم أره، وما رأيت شيئا إلا رأيت الله فيه .

Kesepuluh, كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف وخلقت خلقا فبي عرفوني . Hamzah Fansuri hanya menyebutkan potongan “hadis” di atas, yaitu كنت كنزا, sebanyak dua kali.

Untuk “hadis” yang kesebelas, saya tidak dapat membaca suntingan teks yang dilakukan Drewes. Ia menulis hasil tersebut demikian, Ba-ruy-i khwaja bi-kun ka-i ghulami (1986: 132). Saya menulis hadis dengan tanda kutip (“hadis”), karena sebagian besar kutipan-kutipan Hamzah Fansuri itu bukanlah hadis yang memenuhi kriteria metodologi ahli Hadis. Hanya hadis yang keenam saja yang dipastikaan kesahihannya, karena terdapat dalam Sahih Bukhari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here