Hadis-hadis Keutamaan Tawadhu’

1
1080

BincangSyariah.Com – Salah satu akhlak baik adalah bersikap tawadhu’. Yakni tidak sombong, tidak merasa paling baik, dan selalu rendah hati. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab ke tiga puluh dua, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan sepuluh hadis-hadis tentang tawadhu’ yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Hadis Pertama:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ تَوَاضَعَ لِلهِ رَفَعَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَّبَرَ وَضَعَهُ اللهُ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang tawadhu’ karena Allah, maka Allah akan mengangkat (derajat) nya (di dunia dan akhirat), dan siapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ibnu Mandah dan imam Abu Nu’aim dari sahabat Aus bin Khauli r.a.

Hadis Kedua:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَا مِنْ آدَمِيِّ إِلاَّ وَفِيْ رَأْسِهِ سِلْسِلَتَانِ: سِلْسِلَةٌ فِى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ وَسِلْسِلَةٌ فِى الْأَرْضِ السَّابِعَةِ، فَإذَا تَوَاضَعَ رَفَعَهُ اللهُ بِالسِّلْسِلَةِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، وَإِذَا تَجَبَّرَ وَضَعَهُ اللهُ بِالسِّلْسِلَةِ إِلَى الْأَرْضِ السَّابِعَةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Tidak ada manusia kecuali di kepalanya ada dua rantai, rantai di langit ke tujuh dan rantai di bumi ke tujuh, jika ia tawadhu’ maka Allah akan mengangkatnya dengan rantai ke langit ke tujuh, dan jika ia sombong maka Allah akan merendahkannya dengan rantai ke bumi ke tujuh.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Kharaithi, imam Al-Hasan bin Sufyan, Ibnu La’al, dan imam Ad-Dailami dari sahabat Anas bin Malik r.a.

Hadis Ketiga:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِذَا رَأَيْتُمُ الْمُتَوَاضِعِيْنَ فَتَوَاضَعُوْا لَهُمْ وَإِذَا رَأَيْتُمُ الْمُتَكَبِّرِيْنَ فَتَكَبَّرُوْا عَلَيْهِمْ}.

Nabi saw. bersabda, “Jika kalian melihat orang-orang yang tawadhu’, maka bersikap tawadhu’lah kepada mereka, dan jika kalian melihat orang-orang yang sombong maka sombonglah kepada mereka.” Berdasarkan penelusuran kami, kami belum menemukan periwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menjelaskan periwayatnya.

Baca Juga :  Pesantren: Dulu, Sekarang, dan Akan Datang

Hadis Keempat:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {تَوَاضَعُوْا مَعَ الْمُتَوَاضِعِيْنَ، فَإِنَّ التَّوَاضُعَ مَعَ الْمُتَوَاضِعِيْنَ صَدَقَةٌ وَتَكَبَّرُوْا مَعَ الْمُتَكَبِّرِيْنَ، فَإِنَّ التَّكَبُّرَ مَعَ الْمُتَكَبِّريْنَ صَدَقَةٌ}.

Nabi saw. bersabda, “Tawadhu’lah bersama orang-orang yang bertawadhu’, maka sungguh tawadhu’ bersama dengan orang-orang yang tawadhu’ itu adalah shadaqah, dan sombonglah beserta orang-orang yang sombong maka sungguh sombong bersama orang-orang yang sombong itu shadaqah.” Berdasarkan penelusuran kami, kami belum menemukan periwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menjelaskan periwayatnya.

Hadis Kelima:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {تِهْ عَلَى التُّيَّاهِ فَإِنَّ التِّيْهَ عَلَى التُّيَّاهِ صَدَقَةٌ}.

Nabi saw. bersabda, “Sombonglah kepada orang yang sombong karena sungguh sombong kepada orang-orang yang sombong itu adalah shadaqah.” Berdasarkan penelusuran kami, kami belum menemukan periwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menjelaskan periwayatnya.

Hadis Keenam:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {رَأْسُ التَّوَاضُعِ أَنْ يَبْتَدِىءَ بِالسَّلَامِ عَلَى مَنْ لَقِيَهُ مِنَ الْمُسْلِميْنَ فِى الْمَجَالِسِ}.

Nabi saw. bersabda, “Pangkal tawadhu’ itu dimulai dengan salam kepada orang-orang muslim yang ditemui di majlis-majlis.” Berdasarkan penelusuran kami, kami belum menemukan periwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menjelaskan periwayatnya.

Hadis Ketujuh:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {التَّوَاضُعُ مَعَانِدُ الشَّرَفِ}.

Nabi saw. bersabda, “Tawadhu’ itu tempat-tempat kembalinya kemuliaan.” Berdasarkan penelusuran kami, kami belum menemukan periwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menjelaskan periwayatnya.

Hadis Kedelapan:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {الْكَرَمُ التَّقْوَى وَالشَّرَفُ التَّواضُعُ وَالْيَقِيْنُ الْغِنَى}.

Nabi saw. bersabda, “Kemuliaan adalah taqwa, kemuliaan itu tawadhu’, dan keyakinan itu kekayaan.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ibnu Abid Dunya dari Yahya bin Abi Katsir.

Baca Juga :  Surah Al-Qur'an yang Dinamai dengan Hari Kiamat

Hadis Kesembilan:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {كُلُّ ذِيْ نِعْمَةٍ مَحْسُوْدٌ صَاحِبُهَا إِلاَّ التَّوَاضُع}.

Nabi saw. bersabda, “Setiap orang yang memiliki nikmat itu akan dihasudi kecuali ketawadhu’an.” Berdasarkan penelusuran kami, kami belum menemukan periwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menjelaskan periwayatnya.

Hadis Kesepuluh:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {التَّوَاضُعُ مِنْ أخْلَاقِ الْأَنْبِيَاءِ وَالتَّكَبُّرُ مِنْ أخْلاَقِ الْكُفَّارِ وَالْفَرَاعِنَةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Tawadhu’ itu bagian dari akhlak para nabi, sedangkan kesombongan itu bagian dari akhlak orang-orang kafir dan para fir’aun.” Berdasarkan penelusuran kami, kami belum menemukan periwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menjelaskan periwayatnya.

Hadis Kesebelas:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ تَكَبَّرَ عَلَى الْفُقَرَاءِ لَعَنَهُ اللهُ وَمَنْ تَكَبَّرَ عَلَى الْعُلَمَاءِ أَخْزَاهُ اللهُ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang sombong kepada orang-orang fakir, maka Allah akan melaknatnya, dan siapa yang sombong kepada para ulama maka Allah akan menghinakannya.” Berdasarkan penelusuran kami, kami belum menemukan periwayat hadis ini. Begitu pula dengan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menjelaskan periwayatnya.

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang keutamaan tawadhu’ di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis (hanya saja di bab ini beliau menyantumkan sebelas hadis) dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya. Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here