Hadis-hadis Keutamaan Sabar ketika Mendapatkan Musibah

1
53748

BincangSyariah.Com – Ketika menjalani kehidupan ini, tidak hanya pujian yang kita dapatkan, tetapi ujian atau musibah pun harus kita lalui untuk menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab keempat puluh, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan hadis-hadis keutamaan sabar ketika mendapatkan musibah yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Hadis Pertama:

قَالَ النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُوْلَى}.

Nabi saw. bersabda, “Sabar itu ketika pertama kali mendapatkan musibah.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Bazzar dan imam Abu Ya’la dari sahabat Abu Hurairah r.a. imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kesabaran sempurna yang terdapat pahala yang melimpah darinya adalah kesabaran ketika pertama kali mendapatkan musibah. Hal ini disebabkan karena betapa beratnya menerima hal itu.

Hadis Kedua:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {لَوْ كَانَ الصَّبْرُ رَجُلاً لَكَانَ رَجُلاً كَرِيْمًا}.

Nabi saw. bersabda, “Jika kesabaran itu adalah seorang laki-laki, maka sungguh ia adalah laki-laki yang mulia.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Abu Nu’aim dari sayyidah ‘Aisyah r.a.

Hadis Ketiga:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {إذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا ابْتَلَاهُ بِبَلَاءٍ لَا دَوَاءَ لَهُ، فَإِنْ صَبَرَ اجْتَبَاهُ، وَإِنْ رَضِيَ اصْطَفَاهُ}.

Nabi saw. bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah akan mencobanya dengan cobaan yang tidak ada penawarnya, jika ia sabar maka Dia akan memilihnya, dan jika ia ridha, maka Allah akan memilihnya (sangat mencintainya).” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Keempat:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَا تَجَّرَعَ عَبْدٌ جُرْعَةً أَفْضَلُ عِنْدَ اللهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى}.

Nabi saw. bersabda, “Tidak ada seorang hamba yang meneguk satu tegukan (menerima musibah) yang lebih utama di sisi Allah dari pada satu tegukan yang berat yang ditahan untuk mencari ridha Allah ta’ala.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ahmad dan imam At-Thabarani dari sahabat Ibnu ‘Umar r.a.

Baca Juga :  Kajian Shahih Bukhari Hadis Nomor 3; Kondisi Nabi Saat Terima Wahyu di Gua Hira

Hadis Kelima:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {الصَّبْرُ وَصِيَّةٌ مِنْ وَصَايَا اللهِ تَعَالَى فِيْ أَرْضِهِ، مَنْ حَفِظَهَا نَجَا، وَمَنْ ضَيَّعَهَا هَلَكَ}.

Nabi saw. bersabda, “Sabar itu termasuk dari wasiat-wasiat Allah di bumiNya, siapa yang menjaganya maka ia akan selamat, dan siapa yang menyia-nyiakannya maka ia akan hancur.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Keenam:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {أَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَى مُوسَى بْنِ عِمْرَانَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ يَا مُوْسَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِيْ وَلَمْ يَشْكُرْ نَعْمَائِيْ فَلْيَخْرُجْ مِنْ بَيْنِ أَرْضِيْ وَسَمَائِيْ وَلْيَطْلُبْ لَهُ رَبًّا سِوَائِيْ}

Nabi saw. bersabda, “Allah telah memberikan wahyu kepada Musa bin ‘Imran a.s., Wahai Musa, siapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku, tidak sabar dengan ujian-Ku, dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Ku, maka hendaklah ia keluar dari di antara bumiku dan langiku, dan hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku untuknya.”

Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hanya saja imam An-Nawawi menjelaskan hadis lain yang semakna dengan hadis tersebut riwayat imam At-Thabarani dari sahabat Abu Hindi Ad-Dari r.a. sebagai berikut.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِيْ وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِيْ فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ.

Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, “Siapa yang tidak ridha dengan keputusan-Ku dan tidak sabar atas ujian-Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.”

Imam An-Nawawi juga mengutip hadis riwayat imam Al-Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik r.a. sebagaimana berikut.

Baca Juga :  Ini Cara Identifikasi Musibah sebagai Hukuman, Penghapus Kesalahan atau Pengangkat Derajat Menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

قَالَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: ” مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَقَدَرِي فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا غَيْرِي “

Rasulullah saw. bersabda, “Allah swt. berfirman, “Siapa yang tidak ridha dengan keputusanKu dan ketentuan Ku, maka hendaklah ia mencari Tuhan selain Aku.”

Hadis Ketujuh:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {الصَّبْرُ عِنْدَ الْمُصِيْبَةِ بِتِسْعِمِائَةِ دَرَجَةٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Sabar ketika musibah (diganjar) dengan sembilan ratus derajat.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kedelapan:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {صَبْرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا}.

Nabi saw. bersabda, “Sabar sesaat itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kesembilan:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {الصَّبْرُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ: صَبْرٌ عَلَى الْفَرَائِضِ، وَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيْبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى أذَى النَّاسِ، وصَبْرٌ عَلَى الْفَقْرِ. فَالصَّبْرُ عَلَى الْفَرائِضِ تَوْفِيْقٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى الْمُصِيْبَةِ مَثُوبَةٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى أذَى النَّاسِ مَحَبَّةٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى الْفَقْرِ رِضَا اللهِ تَعَالَى}.

Nabi saw. bersabda, “Sabar itu ada empat macam, sabar atas hal-hal yang wajib, sabar atas musibah, sabar atas gunjingan manusia, dan sabar atas kefakiran. Sabar atas hal-hal yang diwajibkan itu taufiq, sabar atas musibah itu berpahala, sabar atas gunjingan manusia itu  (tanda) dicintai (Allah), dan sabar atas kefakiran itu ridhanya Allah.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hanya saja imam An-Nawawi mengutip riwayat imam Ahmad, imam Al-Bukhari, dan imam Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Umar r.a. sebagaimana berikut.

Baca Juga :  Mengapa Harus Berputus Asa?

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ: الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ.

Dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan ia sabar atas perlakuan buruk mereka itu lebih besar pahalanya dari pada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan ia tidak sabar atas perlakukan buruk mereka.”

Hadis Kesepuluh:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {إذَا حَدَثَ عَلَى عَبْدٍ مُصِيْبَةٌ فِيْ بَدَنِهِ أَوْ مَالِهِ أوْ وَلَدِهِ فَاسْتَقْبَلَ ذٰلِكَ بِصَبْرٍ جَمِيْلٍ اسْتَحْيَا اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْصِبَ لَهُ مِيْزَانًا أوْ يَنْشُرَ لَهُ دِيْوَانًا}.

Nabi saw. bersabda, “Jika musibah menimpa pada seorang hamba di badannya atau anaknya, lalu ia menghadapinya dengan kesabaran yang baik maka Allah di hari Kiamat Allah malu menaikkan timbangan untuknya atau memberikan padanya buku catatan.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang keutamaan sabar ketika mendapatkan musibah di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya. Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here