Hadis-hadis Keutamaan Mengingat Kematian

0
46031

BincangSyariah.Com – Setiap makhluk yang bernyawa akan meninggal dunia. Hanya saja tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan dalam keadaan seperti apa ia akan meninggal dunia. Kita hanya diperintahkan untuk terus mempersiapkan dan mengingatnya. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab ke tiga puluh tujuh, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan hadis hadis keutamaan mengingat kematian yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Hadis Pertama:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ:: {الْمَوْتُ جِسْرٌ يُوْصِلُ الْحَبِيْبَ إِلَى الْحَبِيْبِ}

Nabi saw. bersabda, “Kematian itu jembatan yang menghubungkan sang kekasih (orang mukmin) kepada kekasihnya (Allah swt.).” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kedua:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ:: {الْمَوْتُ أَرْبَعٌ مَوْتُ الْعُلَمَاءِ وَمَوْتُ الْأَغْنِيَاءِ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فَمَوْتُ العُلَمَاءِ ثُلمَةٌ في الدِّينِ وَمَوْتُ الأَغْنِيَاءِ حَسَرَةٌ وَمَوْتُ الْفُقَرَاءِ رَاحَةٌ وَمَوْتُ الْأُمَرَاءِ فِتْنَةٌ}

Nabi saw. bersabda, “Kematian itu ada empat, matinya orang-orang yang berilmu, matinya orang-orang kaya, matinya orang-orang faqir, dan matinya para pemimpin. Maka kematian orang-orang memiliki ilmu itu dapat menyebabkan perpecahan di dalam agama, matinya orang-orang kaya itu dapat menyebabkan kesusahan (sangat sedih), matinya orang-orang faqir itu istirahat, dan matinya para pemimpin itu fitnah.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Ketiga:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {إنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لَا يَمُوْتُوْنَ وَإِنّمَا يَنْتَقِلُوْنَ مِنْ دَارٍ إلَى دَارٍ أُخْرَى}

Nabi saw. bersabda, “Sungguh wali-wali Allah itu tidak wafat, mereka hanya berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Baca Juga :  Karakter Pesantren

Hadis Keempat:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ:  {نِعْمَ الْمَوْتُ رَاحَةُ الْمُؤْمِنِ}

Nabi saw. bersabda, “Sebaik-baik kematian adalah istirahatnya orang mukmin.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kelima:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ:  {مَوْتُ الْعُلَمَاءِ ظُلْمَةٌ فِى الدِّيْنِ}.

Nabi saw. bersabda, “Kematian ulama itu kegelapan di dalam agama.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Keenam:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ:  {إذَا مَاتَ ابْنَ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاّ مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يَنْتَفِعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ} يَدْعُوْ لَهُ.

Nabi saw. bersabda, “Jika manusia itu meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga hal, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak yang shalih.” yang mendoakannya.  Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari, imam Muslim, imam Abu Daud, imam At-Tirmidzi, imam An-Nasa’i dari sahabat Abu Hurairah r.a.

Hadis Ketujuh:

وَقَالَ عَلَيْهِ السَّلَامُ: {اذْكُرُوْا هَاذِمَ اللَّذَّاتِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا هَاذِمُ اللَّذَاتِ؟، قَالَ: الْمَوْتُ الْمَوْتُ الْمَوْتُ} ثَلًاثًا

Nabi saw. bersabda, “Ingatlah pemutus kelezatan-kelezatan. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, apakah itu pemutus kelezatan-kelezatan? Beliau bersabda, “Kematian., kematian, kematian.” Tiga kali. Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kedelapan:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْعَابِر سَبِيْلٍ وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ}

Nabi saw. bersabda, “Jadilah di dunia seperti kamu mengembara atau berjuang di jalan Allah dan anggaplah dirimu (termasuk) dari ahli kubur.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, imam Abu Daud, imam At-Tirmidzi, dan imam Ibnu Majah dari sahabat Ibnu ‘Umar r.a.

Baca Juga :  Pengajian Ihya’ Gus Ulil: Kisah-Kisah Orang yang Memiliki Kesabaran Tinggi

Hadis Kesembilan:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {إذَا مَاتَ الْعَالِمُ بَكَتْ عَلَيْهِ أَهْلُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضِ سَبْعِيْنَ يَوْمًا}

Nabi saw. bersabda, “Jika seorang alim meninggal dunia, maka penduduk langit dan bumi akan menangis sampai tujuh puluh hari.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kesepuluh:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ الْعَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قَالَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang tidak bersedih karena wafatnya orang yang berilmu, maka ia adalah munafiq, munafiq, munafiq.” Beliau mengatakannya tiga kali.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Hadis Kesebelas:

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ تَقُوْلُ الْمَلاَئِكَةُ مَا قَدَّمَ وَيَقُوْلُ النَّاسُ مَا خَلَّفَ}

Nabi saw. bersabda, “Jika ada orang yang meninggal dunia maka malaikat berkata apa yang telah lalu (amal), sedangkan manusia membicarakan apa yang ia tinggalkan (warisan).”  Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah r.a.

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang keutamaan mengingat kematian di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis (namun di dalam bab ini beliau menyantumkan sebelas hadis) dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya. Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab.

Baca Juga :  Hadis-hadis tentang Larangan Meratapi Orang Mati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here