Hadis-hadis Keutamaan Ibadah Shalat Fardhu

0
5938

BincangSyariah.Com – Setiap umat muslim yang sudah baligh dan berakal memiliki kewajiban-kewajiban yang harus ia lakukan, seperti shalat lima waktu. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab ke empat belas, imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan sepuluh hadis tentang fadhilah atau keutamaan ibadah shalat fardhu yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Hadis Pertama:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {بُنِيَ الْإسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةُ أنْ لاَ اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَإقَامُ الصَّلَاةِ، وَإيْتَاءُ الزَّكَاةِ، وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ}.

Nabi saw. bersabda, “Islam dibangun atas lima hal, bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sungguh Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, imam Al-Bukhari, imam Muslim, dan imam At-Tirmidzi dari sahabat Ibnu Umar r.a. Dan di dalam riwayat imam Muslim terdapat riwayat yang mendahulukan puasa daripada haji ke baitullah. Imam An-Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa kesimpulan dari hadis tersebut adalah ibadah itu adakalanya ibadah qauli (ucapan), yakni syahadat. Dan adapula ibadah ghairu qauli (bukan ucapan), yakni ibadah tarki (ibadah yang harus meninggalkan sesuatu), yakni puasa, ibadah fi’li atau badani’ (ibadah fisik) yakni shalat, ibadah mali (ibadah materi) yakni zakat, dan ibadah badani wa maali (ibadah yang terdiri dari fisik dan harta) yakni haji.

Hadis Kedua:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {صَلُّوا خَمْسَكُمْ وَزَكُّوا أَمْوَالَكُمْ وَصُوْمُوْا شَهْرَكُمْ وَحُجُّوا بَيْتَ رَبِّكُمْ تَدْخُلُوْا جَنَّةَ رَبِّكُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Shalatlah lima waktu kalian, zakatilah harta-harta kalian, puasalah di bulan (Ramadhan) kalian, hajilah ke rumah Tuhan kalian, kalian akan masuk ke surga Tuhan kalian dengan tanpa hisab.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Baca Juga :  Sambut Hari Pahlawan, Memaknai Ulang Jihad dalam Sejarah Perjuangan Kelompok Santri

Hadis Ketiga:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {الصَّلاةُ عِمَادُ الدِّيْنَ، فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنَ}.

Nabi saw. bersabda, “Shalat itu tiangnya agama, siapa yang mendirikan shalat, maka ia telah menegakkan agama dan siapa yang meninggalkannya, maka ia telah menghancurkan agama.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya. Namun, kami menemukan riwayat dari imam Al-Baihaqi dari sahabat Umar dengan redaksi hanya As-Shalatu Imaaduddin saja.

Hadis Keempat:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {المَرْأةُ إذَا صَلَّتْ خَمْسَهَا وَزَكَّتْ مَالَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَجَّتْ بَيْتَ رَبِّهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا تَدْخُلُ جَنَّةَ رَبِّهَا مِنْ أيِّ بَابٍ شَاءَتْ}.

Nabi saw. bersabda, “Wanita itu jika shalat lima waktu, menunaikan zakat hartanya, berpuasa di bulan (Ramadhan)nya, berhaji di rumah Tuhannya, mentaati suaminya, dan menjaga kemaluannya, maka ia kan masuk ke dalam surga Tuhannya dari pintu manapun yang ia kehendaki.” Imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya. Namun, kami menemukan riwayat ini dengan redaksi sedikit berbeda tapi memiliki makna yang sama di dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqaatul Asfiyaa’ karya imam Abu Nu’aim Al-Ashbahani dari sahabat Anas bin Malik sebagai berikut.

الْمَرْأَةُ إِذَا صَلَّتْ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا فَلْتَدْخُلْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

Hadis Kelima:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {لِكُلِّ شَيْءٍ عَلَمٌ وَعَلَمُ الْإِيْمَانِ الصَّلَاةُ}

Nabi saw. bersabda, “Segala sesuatu itu memiliki tanda, dan tandanya keimanan adalah shalat.”Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya.

Baca Juga :  Tafsir Yasin [36]: 68, Menjadi Bayi Setelah Menua

Hadis Keenam:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {اتَّقُوا اللهَ فِى الصَّلَاةِ، اتَّقُوا اللهَ فِى الصَّلَاةِ، اتَّقُوا اللهَ فِى الصَّلَاةِ، اتَّقُوا اللهَ فِيْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، اتَّقُوا اللهَ فِى الضَّعِيْفَيْنِ المَرْأةِ الْأَرْمَلَةِ وَالصَّبِيِّ الْيَتِيْمِ}.

Nabi saw. bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di dalam shalat, bertaqawalah kepada Allah di dalam shalat, bertaqwalah kepada Allah di dalam shalat, bertaqwalah kepada Allah di dalam harta-harta kalian miliki, bertaqwalah kepada Allah di dalam dua orang yang lemah, yakni wanita janda dan anak yatim.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dari Anas bin Malik. Imam An-Nawawi Al-Bantani mengatakan bahwa hadis ini termasuk derajat hadis hasan. Beliau juga menjelaskan bahwa maksud bertaqwa di dalam shalat adalah hendaknya kita memperhatikan shalat dengan mempelajari rukun, syarat, sunah haiat, sunnah ab’adh shalat, serta melaksanakan shalat dengan tepat waktu. Adapun beliau mengulanginya tiga kali adalah untuk menekankan pentingnya memperhatikan masalah shalat.

Hadis Ketujuh:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ}.

Nabi saw. bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku melaksanakan shalat.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari dari Malik bin Al-Khuwairits.

Hadis Kedelapan:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ كَفَرَ جِهَارًا}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka ia telah kafir dengan terang-terangan.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ath-Thabarani dari sahabat Anas bin Malik dan sanadnya hasan.

Hadis Kesembilan:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ، وَالْجُمُعَةُ إلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَزِيَادَةُ ثَلاثَةِ أيَّامٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Shalat-shalat lima waktu itu pelebur dosa-dosa di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi dan jumat sampai jumat berikutnya itu pelebur dosa-dosa di antaranya ditambah tiga hari.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Abu Nuaim Al-Ashbahani dalam kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqaatul Asfiyaa’ dari sahabat Anas bin Malik.

Baca Juga :  Tiga Perbedaan Antara Azan dan Iqamat

Hadis Kesepuluh:

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {مَنْ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَقَدْ أتَى بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْكَبَائِرِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang menggabungkan dua shalat dengan tanpa ada udzur maka ia sungguh telah mendatangi pintu dari pintu-pintu dosa.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dan imam Al-Hakim dari sahabat Ibnu ‘Abbas r.a.

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang keutamaan ibadah shalat fardhu di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya. Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here