Hadis-hadis Keutamaan Azan

0
3193

BincangSyariah.Com – Azan merupakan seruan panggilan untuk menunaikan ibadah shalat lima waktu. Di dalam kitab Lubbabul Hadis bab ke delapan , imam As-Suyuthi (w. 911) menuliskan sepuluh hadis tentang fadhilah atau keutamaan azan yang perlu kita perhatikan sebagaimana berikut.

Hadis Pertama:

قال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ أَذَّنَ لِلصَّلاَةِ سَبْعَ سِنِيْنَ مُحْتَسِبًا كَتَبَ اللهُ لَهُ بَرَاءَةً مِنَ النَّارِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mengumandangkan azan untuk shalat tujuh tahun karena mengharap ridha Allah swt. (bukan untuk mendapatkan gaji), maka Allah menuliskan untuknya bebas dari api neraka.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi dan imam Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Abbas r.a.

Hadis Kedua:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ أَذَّنَ ثِنْتَيْ عَشَرَةَ سَنَةً وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mengumandangkan azan dua belas tahun (karena mengharap ridha Allah swt.), maka wajib baginya surga.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah dan imam Al-Hakim dari sahabat Ibnu Umar r.a.

Hadis Ketiga:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ أَذَّنَ خَمْسَ صَلَوَاتٍ إيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mengumandangkan azan dalam shalat lima waktu karena iman dan mengharapkan ridha Allah swt. maka dosanya (yang kecil) yang telah lalu akan diampuni.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah r.a. dengan sanad yang dhaif.

Hadis Keempat:

وقال صلى الله عليه وسلم: {ثَلاَثَةٌ يَعْصِمُهُمُ اللهُ تَعَالَى مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الشَّهِيْدُ وَالْمُؤَذِّنُ وَالْمُتَوَفَّى يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةَ الْجُمُعَةِ}.

Nabi saw. bersabda, “Tiga orang yang akan dijaga oleh Allah swt. dari adzab kubur adalah orang yang mati dalam keadaan syahid, muadzin (orang yang mengumandangkan azan karena mengharap ridha Allah bukan untuk mendapatkan upah), dan orang yang meninggal di hari Jum’at serta di malam Jum’at.”

Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya sebagaimana hadis-hadis lainnya. Hanya saja imam An-Nawawi menerangkan bahwa maksud dari orang yang mati dalam keadaan syahid di sini adalah syahid akhirat saja. Seperti orang yang mati karena tenggelam, terhimpit bangunan yang roboh, terbakar, sakit perut, dan contoh-contoh mati syahid akhirat lainnya (yang disebutkan imam An-Nawawi banyak sekali)

Hadis Kelima:

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: {لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِى التَّهْجِيْرِلَاسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِى الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا}.

Baca Juga :  Keberkahan Azan, Banyak Orang Tidak Menyadarinya

Nabi saw. bersabda, “Seandainya manusia mengetahui pahala di dalam seruan azan dan shaf yang pertama kemudian mereka tidak menemukannya melainkan mereka akan mengundi (untuk dapat bergiliran mengumandangkan azan dan berada di shaf yang pertama), seandainya mereka mengetahui pahala di dalam menyegerakan shalat di awal waktu niscaya mereka akan berlomba-lomba padanya, dan seandainya mereka mengetahui pahala di waktu ‘atamah (antara Isya’ dan Shubuh) serta di waktu Shubuh (dengan berjamaah) maka mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” Hadis ini diriwayatkan oleh imam Malik, imam Ahmad, imam Al-Bukhari, imam Muslim, imam An-Nasa’i, dan imam Abu Daud dari sahabat Abu Hurairah r.a.

Hadis Keenam:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَقَبَّلَ إبْهَامَيْهِ فَوَضَعَ عَلَى عَيْنَيْهِ وَقَالَ مَرْحَبًا بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى قُرَّةَ أعْيُنِنَا بِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَأنَا شَفِيْعُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَقَائِدُهُ إِلَى الْجَنَّةِ }.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mendengarkan azan, lalu ia mengecupkan kedua ibu jarinya (dengan mulutnya), lalu ia meletakkannya ke kedua matanya seraya berkata, “Marhaban bidzikrillahi ta’ala qurrata a’yuninaa bika ya Rasulallah (Selamat datang dengan menyebut nama Allah Yang Maha Luhur yang menyejukkan mata-mata kita dengan mu Wahai utusan Allah.” Maka akulah yang akan menolongnya di hari Kiamat dan menuntunnya ke surga.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya sebagaimana hadis-hadis lainnya.

Hadis Ketujuh:

وَقَالَ صلى الله عليه وسلم: إذَا كَانَ وَقْتُ الأَذَانِ فُتِحَتْ أبْوَابُ السَّمَاءِ وَاسْتُجيبَ الدُّعَاءُ وإذا كَانَ وَقْتُ الإقَامَةِ لَمْ تَرُدّ دَعْوَتُهُ}.

Nabi saw. bersabda, “Jika waktu azan (telah tiba) maka pintu-pintu langit dibuka dan doa dikabulkan, dan jika waktu iqamat (berkumandang) maka doanya tidaklah ditolak.”

Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya sebagaimana hadis-hadis lainnya. Hanya saja imam An-Nawawi menjelaskan hadis lain yang beliau kutip dari imam An-Nawawi di dalam kitab Al-Adzkar dari shahabat Anas bin Malik, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ditolak doa yang dipanjatkan di antara azan dan iqamat.” H.R. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Sunni, dan lainnya. Dan imam At-Tirmidzi menambahi dalam riwayatnya, “Para sahabat pun bertanya kepada Rasulullah, “Lalu doa apa yang kami ucapkan wahai Rasulullah?.” Beliau menjawab, “Mintalah keselamatan di dunia dan akhirat.”

Baca Juga :  Bolehkah Tunanetra Mengumandangkan Azan?

Hadis Kedelapan:

وقالَ صلى الله عليه وسلم: {مَنْ قَالَ عِنْدَ الأَذانِ مَرْحَبا بالقَائِلينَ عَدْلاً، مَرْحَبَا بالصَّلواتِ وَأَهْلاً، كَتَبَ الله تَعَالى لَهُ أَلْفَ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ}.

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang berkata ketika azan, ‘Marhaban bil qaailiina adlan, marhaban bis shalawati wa ahlan, Allah ta’ala akan menuliskan baginya seribu kebaikan dan meleburkan darinya seribu kesalahan, dan mengangkat untuknya seribu derajat.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya sebagaimana hadis-hadis lainnya.

Hadis Kesembilan:

وقال صلى الله عليه وسلم: {مَنْ سَمِعَ الأَذَانَ وَلَمْ يَقُلْ مِثْلَ مَا قَالَ المُؤَذِّنُ فَإنَّهُ يُمْنَعُ مِنَ السُّجُودِ يَوْمَ القِيَامةِ إذَا سَجَدَ المُؤَذِّنُونَ}

Nabi saw. bersabda, “Siapa yang mendengar azan dan tidak mengucapkan seperti apa yang muadzin ucapkan, maka sungguh ia akan ditolak sujudnya di Hari Kiamat ketika orang-orang muadzdzin sujud.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya sebagaimana hadis-hadis lainnya. Hanya saja, imam An-Nawawi menghadirkan hadis shahih lainnya yang setema dengan hadis tersebut, yakni tentang anjuran menjawab azan sebagai berikut.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ. رواه مالك وأحمد وأبو داود والترمذي والنسائي وابن ماجه.

Rasulullah saw. bersabda, “Jika kalian mendengarkan adza, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin.” H.R. Imam Malik, Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Hadis ini juga sebenarnya diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari di dalam kitab shahihnya dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri.

Hadis Kesepuluh:

وَقَالَ النَّبيُّ صلى الله عليه وسلم: {ثَلاَثَةٌ في ظِلِّ العَرْشِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إلاَّ ظِلُّهُ إمامٌ عَادِلٌ وَمُؤَذِّنٌ حَافِظٌ وَقَارِىءُ القُرْآنِ يَقْرأ في كُلِّ لَيْلَةٍ مائَتيْ آية}

Nabi saw. bersabda, “Tiga orang yang di dalam lindungan Arsy di hari tidak ada lindungan kecuali lindunganNya adalah imam yang adil, muadzin yang hafidz (mampu menjaga bacaannya ketika azan dengan fasih), dan pembaca Al-Qur’an di setiap malam dua ratus ayat.” Berdasarkan penelusuran kami, hadis ini belum kami temukan sanad dan perawinya. Begitupun dalam penjelasan imam An-Nawawi Al-Bantani ketika mensyarah hadis ini tidak menyebutkan riwayat dan perawinya sebagaimana hadis-hadis lainnya.

Baca Juga :  Hukum Azan dan Iqamah Sebelum Melaksanakan Salat Qada’

Hanya saja imam An-Nawawi tetap memberikan syarah atau penjelasannya dengan mengutip dari perkataan Syekh Abdul Qadir Al-Jilani tentang azan. Beliau berkata bahwa seorang muadzin itu wajib menjaga dari salah ketika mengucapkan dua kaliamat syahadat (di waktu azan), ia harus tahu waktu-waktunya azan, serta ia tidak boleh mengumandangkan azan sebelum waktunya kecuali shalat Shubuh (karena ada dua azan di sana).

Seorang muadzin juga harus niat karena mencari ridha Allah swt. bukan karena upah, hendaknya ia menghadap kiblat ketika membaca takbir dan dua kalimat syahadat, serta menoleh kanan dan kiri ketika membaca undangan untuk shalat (hayya ala falah dan hayya alas shalah). Ketika azan untuk shalat Maghrib, muadzin duduk sebentar di antara azan dan iqamah dan dimakruhkan bagi maudzin azan dalam keadaan junub atau berhadas.

Imam An-Nawawi juga mengutip keterangan dari Syekh Abdul Qadir Al-Jilani tentang pentingnya membaca Al-Qur’an di setiap hari. Beliau berkata bahwa disunnahkan untuk tidak tidur terlebih dahulu sampai membaca tiga ratus ayat supaya ia digolongkan dalam kelompok orang-orang yang ahli ibadah dan tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Syekh Abdul Qadir Al-Jilani kemudian mencontohkan surah-surah yang dapat dibaca sebelum tidur di antaranya adalah Surah Al-Furqan dan surah Asy-Syu’ara’ yang di dalamnya terdapat tiga ratus ayat.

Demikianlah sepuluh hadis yang telah dijelaskan oleh imam As-Suyuthi tentang keutamaan azan di dalam kitabnya yang berjudul Lubbabul Hadits. Di mana di dalam kitab tersebut, beliau menjelaskan empat puluh bab dan setiap bab beliau menuliskan sepuluh hadis dengan tidak menyantumkan sanad untuk meringkas dan mempermudah orang yang mempelajarinya.

Meskipun begitu, di dalam pendahuluan kitab tersebut, imam As-Suyuthi menerangkan bahwa hadis nabi, atsar, maupun riwayat yang beliau sampaikan adalah dengan sanad yang shahih (meskipun menurut imam An-Nawawi di dalam kitab Tanqihul Qaul Al-Hatsits ketika mensyarah kitab ini mengatakan ada hadis dhaif di dalamnya, hanya saja masih bisa dijadikan pegangan untuk fadhailul a’mal dan tidak perlu diabaikan sebagaimana kesepakatan ulama). Wa Allahu A’lam bis Shawab

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here