Hadis ’72 Bidadari’ untuk Jihadis Menurut Slavoj Zizek

0
3105

BincangSyariah.Com – Dewasa ini, ada kecendrungan bahwa perilaku fundamentalis yang berpretensi ke arah teror tidak sedikit didasarkan pada pemahaman tekstualis terhadap teks keagamaan, baik Alquran maupun Hadis Nabi. Teror sebagai sebuah aksi melenyapkan orang lain tentu dimulai dari sejak pikiran. Hal ini seperti kata seorang filusuf setengah sawan, “Teror dimulai sejak dalam pikiran.” Barangkali mereka juga termasuk pengikut Pramoedya “garis bengkok” sambil berujar “Berlaku terorlah sejak dalam pikiran.”

Bagi kalangan pemerhati kajian filsafat kontemporer, nama Slavoj Zizek (SZ) tentu  sudah tidak asing lagi. Pemikiran filusuf marxis-kritikus budaya kontemporer asal Slovenia ini bisa ditemukan lewat beberapa karyanya. Tidak terkecuali, kumpulan banyolannya yang disusun oleh seorang Psikiater, Mortesen.

Salah satu kritiknya adalah pada Hadis Nabi yang diterjemahkan secara serampangan tanpa melihat “konteks serta geneologi bahasa”. Salah satunya mengenai kasus hadis 72 bidadari yang merupakan ganjaran bagi mereka yang menyebut dirinya mujahid. Hadis itu diriwayakan oleh Ahmad, Ibnu Majah dan al-Tirmidzi, dan bersumber dari sahabat Miqdam bin Ma’di.

Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang mati syahid mendapatkan tujuh keistimewaan dari Allah; (1) diampuni sejak kematiannya, (2) melihat tempatnya di surga, (3) dijauhkan dari adzab kubur, (4) aman dari huru-hara akbar, (5) diletakkan mahkota megah di atas kepalanya yang terbuat dari permata terbaik di dunia, (6) dikawinkan dengan tujuh puluh dua hur ‘in (bidadari), (7) dan diberi syafaat sebanyak 70 orang kerabatnya.”

Terkait ganjaran untuk mujahid yang nomor 6 dalam Hadis di atas, menurut SZ, bisa dipahami lewat dua arah; makna leksikal serta akar katanya dan konteks hadis. Makna leksikal al-hur al-‘in selalu diartikan dengan bidadari dengan putih lingkaran dan hitam pekat matanya. Pemaknaan inilah yang dominan dipahami para ulama dan pensyarah Hadis. Jika ditelusuri lebih jauh, kata al-hur merupakan serapan dari bahasa Armaik, houris yang berarti panganan lezat.  

Seorang syahid akan mendapatkan 72 “pasangan” dari al-hur al-‘in telah diartikan dalam berbagai kitab syarah dengan “bidadari”. Sesungguhnya penerjemahan ini tidak menjadi masalah pada konteks ketika para ulama menafsirkan. Hal ini karena hadis tersebut tidak diajadikan legitimasi teologis untuk memerangi orang-orang kafir.

Baca Juga :  Habib Abu Bakar al-Adni: Kemunculan Wabah Penyakit Tanda Kiamat Sudah Dekat

Namun demikian, Zizek membuat banyolan terhadap Hadis ini. Seseorang berkata “Gerbang surga telah dibuka untukmu. Ada perawan bidadari anggun bermata lentik menunggumu.” Beberapa sesaat setelah memasuki gerbang surga, lanjut Zizek, “Betapa terkejutnya para fundamentalis-jihadis yang hanya menemukan panganan lezat, bukan bidadari yang diharapkannya.” Hal ini karena menurut Zizek al-hur bermakna panggangan lezat, bukan bidadari.

Hadis reward ini dalam konteks Timur Tengah, khususnya mereka yang terafiliasi dengan al-Qaeda, Jabhah Nushra, dan Daesh, sudah dijadikan semacam seruan berjihad melawan orang-orang kafir, rezim Syiah, dan seterusnya. Intinya orang yang berbeda dengan “minhum” selalu dianggap kafir, syiah, dan bla-bla. Dalam konteks Indonesia, seharusnya hadis ini bisa dipahami dengan pemaknaan “jihad yang lebih luas dan haqiqi (substantif)”. Jihad intelektual, jihad konstitusi dan sebagainya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here