Habib Basirih: Waliyullah asal Banjarmasin

0
2831

BincangSyariah.Com – Ajaran Islam sebenarnya memperkenalkan adanya wali atau pemimpin dan pelindung bagi umat manusia. Mereka diangkat oleh Allah sebagai kekasih-Nya dan disebut waliyullah. Biasanya wali itu memiliki sesuatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa. Mereka sepatuhnya mematuhi ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi-Nya sehingga tetap berada diatas koridor yang ditunjukkan Allah kepada umat manusia.(Harpandi Dahri, 2007,22)

Kehadiran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Sebab, didalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang keharusan manusia menyikapi hidup dan kehidupannya untuk menuju kehidupan yang lebih bermakna. Ajaran Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan al-Hadis yang didalamnya mengatur segala tata kehidupan manusia. Agama juga seringkali dipahami sebagai bentuk keyakinan pada adanya kekuatan Tuhan sebagai sesuatu yang supranatural diluar kekuatan manusia. Oleh karena itu agama cenderung memiliki sifat sakral dan suci yang menyentuh dimensi invidual dan sosial. .(Harpandi Dahri, 2007, 24)

Kemurnian setiap agama terletak pada ajarannya yang dipandang sakral oleh para pemeluknya. Sebagai panutan hidup, setiap pemeluk agama akan berusaha sedapat mungkin dan sesuai dengan kadar pengetahuannya masing-masing dalam mewujudkan ajaran agama tersebut dalam tingkah laku sosialnya sehari-hari. Dalam keadaan seperti ini, maka agama kemudian menyatakan dirinya dalam bentuk tingkah laku keagamaan, baik format individu maupun kelompok. (Harpandi Dahri, 2007,26)

Dalam hal ini khususnya di kota Banjarmasin provinsi Kalimantan Selatan memiliki kepercayaan khusus kepada waliyullah yang dianggap penting. Oleh karena itu, kebanyakan orang menganggap waliyullah tersebut adalah orang yang ma’shum. Dari kepercayaan itulah menimbulkan perlakuan-perlakuan khusus dari masyarakat semacam mendirikan bangunan kubah pada makam-makam waliyullah, salah satunya adalah maqam Habib Hamid bin Abbas Bahasyim.

Baca Juga :  Cara Nabi Mengisi Malam Bulan Ramadan dan Hikmah di Baliknya

Makam wali Allah Habib Hamid bin Abbas Bahasyim atau lebih dikenal dengan sebutan Habib Basirih, letaknya tidak begitu jauh dari jembatan tol menuju pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Kubah ini berada di Jl Keramat RT 13, Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan

Nama Basirih bersinar tak lepas dari dari sosok Habib Hamid, sehingga kelurahan Basirih dikenal luas dengan nama Habib Basirih. Setiap hari makam Habib Basirih tak pernah lepas dari para penziarah. Sebelum mencapai kubah Habib Basirih beberapa meter sebelumnya terdapat makam ibunda beliau yaitu Syarifah Ra’anah, yang mana makam keduanya digolongkan sebagai objek wisata religius yang layak dikunjungi.

Beliau masyur dikenal dengan julukan “Habib Basirih/Datuk Basirih.” Begitulah orang Kalimantan mengenal beliau, karena beliau tinggal dan di makamkan dikampung Basirih. Dimata orang Kalimantan beliau adalah orang yang woro’ dan memiliki berbagai kelebihan/karomah yang luar biasa dan ajaib.

Adapun silsilah Habib Basirih ialah Habib Hamid bin Abbas bin Abdullah bin Husain bin Awad bin Umar bin Ahmad bin Syekh bin Ahmad bin Abdullah bin Aqil bin Alwi bin Muhammad bin Hasyim bin Abdullah bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad al-Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath. Konon antara habib Basirih dan salah satu wali songo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat), masih ada hubungan kekeluargaan. Sama-sama keturunan dari Waliyullah Muhammad Shahib Mirbath (keturunan generasi ke-16 dari Rasulullah Muhammad saw), jika Sunan Ampel adalah keturunan ke-23 dari Rasulullah saw, maka Habib Basirih merupakan keturunan ke-36. Dari segi usia Sunan Ampel lebih tua dan lebih sepuh dari Habib Basirih yang hidup dimasa yang lebih muda. Habib Basirih hidup dizaman masa penjajahan Belanda dan Jepang. Sunan Ampel hidup sekitar 400 tahun sebelum Habib Basirih.(Ahmad Mujahid dkk, 2018, 72)

Baca Juga :  Jejak Islam di Spanyol Selama Tujuh Abad

Berdasarkan riwayat, Habib Basirih mempunyai 4 orang anak, terdiri dari tiga putri dan satu putra. Dari satu putra beliau yang bernama Habib Hasan Bahasyim menurunkan satu anak laki – laki bernama Habib Idrus Bahasyim dan beberapa anak perempuan ( termasuk Syarifah Khadijah Bahasyim / Ibu Dijah yang masih hidup, sedangkan Habib Idrus ( satu – satunya cucu laki – laki Habib Basirih ).

Kemudian Habib Idrus menikah dua kali dan di anugerahi seorang anak. Dari istri pertama yakni Syarifah Raguan Baroqbah, Habib Idrus memiliki putri bernama Syarifah Fizria Maryam (Banjarbaru), Habib Fitri Hamid (Qubah Basirih), Habib Fathur Rahman Bahasyim (Banjarmasin) dan Habib Fadil Bahasyim (Samarinda). Sedangkan dari istri kedua Syarifah Hani Bilfaqih mempunyai tiga keturunan yakni Habib Ali Bahasyim (Jakarta), Syarifah Zuraida Bahasyim (Banjarmasin) dan Habib Fu’ad Bahasyim (Banjarmasin).(Ahmad Mujahid dkk, 2018, 72)

Habib Hamid bin Abbas semasa hidup beliau adalah orang yang taat beragama dan suka sekali melaksnakan amaliah-amaliah sunat. Lingkungan keluarga memang dikenal agamis bahkan bisa dibilang fanatik. Di masa mudanya, Habib Hamid sudah pergi jauh untuk menuntut ilmu agama Islam. Beliau lama mengenyam pendidikan di Mekkah al-Mukarramah, Saudi Arabia. Beliau berguru dengan ulama terkenal dan senior.(Ahmad Mujahid dkk, 2018, 73)

Sepulang dari suci Habib Hamid menerjunkan diri ke tengah-tengah masyarakat. Beliau membimbing umat dan mengarahkan mereka kejalan yang benar, agar memperoleh kebahagiaan hidup didunia dan diakhirat. Sehari-harinya beliau tidak tampil sebagai ulama saja, akan tetapi juga aktif sebagai muballigh dan pengasuh berbagai pengajian di masyarakat. Materi dakwah dan pengjaran yang di berikan kepada umat meliputi ilmu-ilmu yang fardh ain, yaitu seperti ilmu tauhid, fikih dan tassawuf.(Ahmad Mujahid dkk, 2018, 74)

Baca Juga :  Mengapa Banyak Santri yang Rumahnya di Sekitar Masjid? Ini Sejarahnya

Memasuki usia ke-50 tahun, Habib Hamid lebih banyak melakukan perenungan, beliau memilih berkhalwat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. beliau lebih suka menelaah, memperdalam ilmu tassawuf dan melakukan berbagai Riyadhah Tarekat guna memperoleh ma’rifatullah. Adapun tentang kelahiran beliau belum ditemukan data tentang kapan beliau dilahirkan, namun beliau termasuk orang yang diberi umur panjang oleh Allah swt. sebab beliau meninggal dunia menghadap Ilahi pada tanggal 18 Jumadil Awwal 1949 dalam usia lebih dari tiga perempat abad, atau tepatnya kurang lebih 90 tahun.(Ahmad Mujahid dkk, 2018, 74)

Rujukan:

Harpandi Dahri. 2007. Wali dan Keramat dalam Islam.  Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.

Ahmad Mujahid dkk. 2018. Ulama Banjar dari Masa ke Masa edisi revisi. Banjarmasin: Antasari Press.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here