Habib Ali Al-Jufri dan Jalan Dakwah Kemanusiaan Sebelum Beragama

0
2060

BincangSyariah.Com – Habib ‘Ali Zainal Abidin al-Jufri, sosok keturunan Rasulullah Saw. asal Yaman Selatan ini memang sosok yang mulai dikenal luas di dunia Islam. Selama ini, salah seorang sosok keturunan Rasulullah Saw. yang berperan sebagai ulama dan dikenal luas di tingkat dunia, mungkin yang paling terkenal hanya Habib ‘Umar bin Hafidz, pendiri “pesantren” Dar al-Mushtafa di kota Tarim, Yaman. Perlu diketahui, kota Tarim adalah diantara kota yang menjadi pusat tempat tinggal bahkan asal usul para Habaib baik yang hari ini sudah dikenal sebagai orang Indonesia ataupun yang berada di negara-negara lain. Kebanyakan mereka bertempat di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Dar al-Mushtafa, “pesantren” yang didirikan oleh Habib ‘Umar bin Hafidz inilah yang menjadi tempat belajar para Habaib yang belakangan dikenal sebagai pemuka agama yang populer dikenal di Indonesia. Sebut saja diantaranya mendiang Habib Munzir al-Musawa dan dua bersaudara Habib Ahmad bin Novel bin Salim Jindan dan Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan. Selain yang dari Indonesia, datang juga murid-murid Habib Umar lain dari berbagai negara, salah satunya Habib ‘Ali Zainal al-‘Abidin al-Jufri.

Sosok Habib Ali al-Jufri

Sosoknya tinggi besar, bekulit putih, berjenggot lebat rapi tanpa kumis membuat Habib Ali al-Jufri menarik perhatian orang ketika menyampaikan pengajian di banyak tempat. Tapi, sosok yang lahir pada 16 April 1971/20 Safar 1391 H di Jeddah, Arab Saudi di waktu Jum’at subuh ini, punya sesuatu yang lebih mengesankan dari penampilan fisik.

Yang paling menjadi ciri khas dalam ceramah-ceramahnya, khususnya dalam amatan penulis selama safari dakwah beliau di Indonesia, adalah pandangannya yang kritis terhadap semua gagasan yang disampaikan oleh masyarakat muslim.

Baginya, umat Muslim seharusnya harus terus menerus meningkatkan kualitas pendidikannya dalam bidang apapun, apalagi yang merupakan hal yang dikategorikan sebagai fardhu kifayah. Menurutnya, umat Islam hari ini seringkali meninggalkan keinginan untuk pakar di bidang-bidang yang dalam sudut pandang fikih disebut fardhu kifayah (wajib tapi jika sudah ada yang mengerjakan, hukumnya menjadi sunnah saja), misalnya kepakaran di aneka bidang sains, ekonomi, sosial, atau misalnya kesehatan. “Padahal, membuat sebuah umat tidak bergantung kepada umat yang lain itu sangat dikehendaki oleh agama”, pungkas Habib Ali dalam sebuah seminarnya di UIN Walisongo, Semarang.

Baca Juga :  Sejarah Kesultanan Banten: Didirikan Sultan Cirebon, Mundur Akibat Perang Ayah-Anak

Nama beliau beserta nasabnya sampai kepada Rasulullah Saw. adalah Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Alawi bin Ali bin Alawi bin Ali bin Ahmad bin Alawi bin Abdurrahman Maulah Al-Arsha bin Muhammad bin Abdullah al-Tarisi bin Alawi al-Khawas bin Abu Bakar Al-Jufri bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Sahab Mirbat Muhammad bin Ali Khalil Alawi Qassam bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidullah Ahmad al-Muhajir ila Allah Isa bin Muhammad al-Naqib bin Ali al -Uraidhi bin Jaafar as-Sidiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zain al-Abidin putera dari Hussein (cucu Rasulullah saw) anak dari Ali bin Abu Thalib, suami dari Fatimah al-Zahra puteri Rasulullah . Beliau lebih sering disapa dengan nama lengkapnya, Habib ‘Ali Zainal Abidin Al-Jufri. Ibunya bernama Marumah binti Hassan bin Alawi bin Alawi Hassan bin Ali al-Jufri.

Guru-Gurunya

Habib Ali al-Jufri dalam penelusuran penulis bukan sosok yang menghabiskan pendidikannya seluruhnya di universitas Islam hingga mencapai gelar doktor misalnya. Beliau, layaknya banyak keluarga keturunan Nabi Saw., belajar dari keluarganya dahulu dan guru-guru yang juga dari kalangan Habaib. Guru pertamanya adalah bibinya sendiri, sosok yang dikenal ‘alimah dan ‘arifah, Habibah Shafiyah binti Alwi bin Hasan al-Jufri. Guru berikutnya adalah Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf. Dengan beliau, ia talaqqi (belajar secara langsung) beberapa kitab, misalnya kitab-kitab hadis seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Tajrid al-Bukhari, tasawuf dengan kitab Ihya’ ‘Ulumuddin, dan sejumlah kita penting lainnya sejak ia berusia 10 tahun hingga 21 tahun.

Kemudian beliau berlanjut belajar kepada para Habaib yang lain semisal kepada Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad ; Almarhum Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki (Rushaifah, Mekkah) ; Habib Hamid bin Alwi bin Thahir al-Haddad ; hingga Habib Abu Bakar al-‘Adni bin Ali al-Masyhur, salah seorang Habib di Tarim yang dikenal dengan keluasan ilmunya.

Baca Juga :  Mengapa Ulama Dulu Haramkan Ucapan Selamat Natal, Sekarang Tidak? Ini Kata Habib Ali al-Jufri

Beliau sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Dirasat Islamiyah Universitas Shan’a dari tahun 1991-1993. Tapi beliau memilih meneruskan di Tarim, Hadramaut, untuk belajar dengan Habib ‘Umar bin Hafidz sejak tahun 1993-2003. Habib Umar yang menjadi guru, sahabat, dan belum lama ini menjadi besannya, mengajarkan kepadanya kitab Shahih al-Bukhari, Ihya’ ‘Ulumuddin, Adab Suluk al-Murid, Risalah al-Mu’awanah, Minhaj al-‘Abidin, Al-‘Iqd an-Nabawi, Ar-Risalah al-Qusyairiyah, al-Hikam, dan kitab-kitab lainnya.

Selain kepada para Habaib, beliau juga belajar kepada banyak ulama lainnya. Banyak diantara gurunya yang lain berasal dari Mesir. Misalnya, Syaikh Umar bin Husain al-Khatib, Syaikh Mutawalli As-Sya’arwi, Syaikh Ismail al-‘Adawi, hingga Syaikh Muhammad Zakiyuddin Ibrahim (sufi kharismatik asal Mesir).

Aktivitas Dakwah dan Pandangan Keislaman: Kemanusiaan sebelum Keberagamaan

Hidupnya bisa dikatakan dihabiskan hanya untuk berdakwah di berbagai tempat. Bahkan, ia sudah hampir mengelilingi seluruh dunia untuk melakukan aktivitas dakwah. Di tahun 1993, beliau sudah mulai berdakwah ke luar negaranya sampai sampai hari ini. Untuk negara-negara, Asia, selain Arab, beliau sudah ke Indonesia (baru saja slesai akhir pekan kemarin), Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, hingga Srilanka. Dakwahnya tersebar mulai dari penduduk-penduduk Afrika sampai keluarga raja di negara-negara Arab seperti Abu Dhabi.

Dari segi materi dakwah, caranya menyampaikan dakwahnya memiliki yang mendalam mendapatkan kesan tersendiri di hati para jemaahnya. Beliau pun sudah terbiasa berdakwah atau menyampaikan ceramah di hadapan tidak hanya orang Islam, tapi juga orang-orang non-muslim yang belum tentu mempercayai atau masih meragukan agama seperti umumnya di Eropa dan Amerika Serikat.

Menurut penulis, yang menjadi ciri khas khususnya dalam dakwah Habib Ali al-Jufri – termasuk dalam rangkaian safari dakwahnya di Indonesia – adalah sikap untuk menerima pendapat dari siapapun jika ada kebaikan di dalamnya. Dalam salah satu sesi tanya jawab di safari dakwah di Indonesia, ia tanpa ragu menyatakan agar jangan ragu bertanya apapun terkait keislaman.

Baca Juga :  Shafiyyah Masuk Islam dan Bermukim di Madinah

Dan, dari semua jawabannya beliau selalu menyajikan jawaban yang reflektif, kritis, mendalam, tapi tetap dalam rangka menegaskan bahwa maju atau mundurnya Islam ini bergantung pada pengamalnya sendiri, umat muslim. Tidak ada sedikitpun sikap mencela orang lain, bahkan “meremahkan” pendapat orang tertentu atau pendapat orang yang bertanya.

Beliau dalam banyak dakwahnya juga banyak menyoroti sikap-sikap dimana umat Muslim terjebak dalam “euforia” merasa Islami padahal tanpa disadari mereka berada dalam kekeliruan. Karena itu, beliau menegaskan pentingnya memahami mushtolahaat atau term-term dalam agama dengan mencari rujukan sebanyak-banyaknya. Menurut beliau, itu penting agar umat Islam tidak terjebak dalam istilah-istilah sehingga merasa sedang Islami, sebut saja penggunaan istilah jihad yang disalahgunakan untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya adalah terorisme. Dalam soal istilah Khilafah, beliau bahkan mengkritisi lebih luas dengan menunjukkan kenyataan sejarah bahwa jika sesuai dengan makna aslinya, maka sebenarnya praktik khilafah tidak pernah ada lagi pasca Khulafurrasyidin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here