Habib Ali al-Habsyi: Pengarang Kitab Maulid Simthud Duror

0
1673

BincangSyariah.Com – Sebelum abad ke-21, kitab Maulid Simthud Duror kurang begitu populer di Indonesia—khususnya Jawa, kecuali di beberapa daerah saja yang memang merupakan pusat penyebarannya seperti Solo dan Sekumpul (Kalimantan Selatan). Kitab Maulid Diba’, Burdah dan Barzanji lebih akrab di telinga kita dan lebih sering dibaca saat perayaan Maulid Nabi. Namun lambat laun, lantunan indah Simthud Duror—yang dikenal juga dengan kitab Maulid Habsyi—mampu merasuk ke dalam relung hati pendengarnya dan semakin dicintai di Indonesia. Hari ini popularitas Simthud Duror setara dengan pendahulunya, kitab Maulid Diba’, Barzanji dan lainnya. Maulid Simthud Duror ditulis oleh  Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi.

Keluarga dan Nasab Habib Ali

Habib Ali ibn Muhammad ibn Husein (24 Syawal 1259 – 20 Rabi’uts Tsani 1333 H) merupakan seorang dzurriyah Rasulullah Saw dari daerah Seiwun Hadramaut, Yaman. Ia dilahirkan di desa Qasam dari pasangan Habib Muhammad ibn Husein dan Hababah Alawiyyah. Dari segi nasab, Habib Ali termasuk Bani Alawi. Menurut Novel ibn Muhammad Alaydrus dalam bukunya Jalan Nan Lurus: Sekilas Pandang Tarekat Bani ‘Alawi, pada umumnya sebutan ‘Alawi’ atau ‘Bani Alawi’ digunakan bagi setiap keturunan Sayidina Ali ibn Abi Thalib. Namun dalam perkembangannya, pengertian ini bergeser dan secara khusus diperuntukkan bagi anak cucu Rasulullah Saw yang berasal dari keturunan Sayid Alwi ibn Ubaidillah ibn Ahmad al-Muhajir.

Secara lengkap, nasabnya adalah Ali ibn Muhammad ibn Husein ibn Abdullah ibn Syeikh ibn Abdullah ibn Muhammad ibn Husein ibn Ahmad Shahib asy-Syi’b ibn Muhammad Asghar ibn Alwi ibn Abu Bakar al-Habsyi ibn Ali ibn Ahmad ibn Muhammad Asadullah ibn Hasan at-Turabi ibn Ali ibn al-Faqih al-Muqaddam Muhammad ibn Ali ibn Muhammad Sahib Mirbath ibn Ali Khali Qasam ibn Alwi ibn Muhammad ibn Alwi ibn Ubaidillah ibn al-Muhajir Ahmad ibn Isa ibn Muhammad Nagib ibn Ali al-Uraidhi ibn Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn Ali Zainal Abidin ibn Husein ibn Fatimah binti Muhammad Saw.

Baca Juga :  Soal Ruh Rasulullah Hadir pada Majelis Maulid

Berkhidmah untuk Ilmu 

Menginjak usia 17 tahun, Habib Ali diminta ayahnya untuk pergi ke Mekah. Selama dua tahun ia tinggal dan belajar di Mekah bersama ayahnya. Selepas dari Mekah, ia pulang ke Seiwun untuk belajar dan mengajar. Sesekali ia bepergian ke Tarim untuk menuntut ilmu dari para ulama di sana seperti Sayid Abdullah ibn Husein ibn Muhammad, Syaikh Muhammad ibn Ibrahim, al-Allamah Umar ibn Hasan al-Haddad dan lain sebagainya. Ia belajar kepada banyak guru. Sedangkan syaikh fath (guru yang membuka mata hati ruhani) Habib Ali adalah Habib Abu Bakar ibn Abdullah al-Atthas.

Habib Ali menikah dua kali. Dari pernikahannya yang pertama dengan wanita dari Qasam, ia dikaruniai seorang putra bernama Abdullah. Sedangkan dari pernikahannya dengan Hababah Fathimah binti Muhammad ibn Saggaf Maulakheila, ia diberi empat anak, yakni Muhammad, Ahmad, Alwi dan Khadijah.

Saat berumur 37 tahun, ia membangun ribath (pondok pesantren) di Seiwun. Ribath ini memiliki dua lantai dan setiap orang yang tinggal di sana untuk mencari ilmu ia tanggung sendiri biayanya. Tujuh tahun kemudian, ia membangun sebuah masjid di dekat ribath-nya dan dinamakan Masjid Riyadh sebagai pusat keilmuan dan ibadah. Ia menghabiskan sepanjang hidupnya untuk melayani ilmu hingga wafat pada hari Ahad, 20 Rabi’uts Tsani 1333 H. Jasadnya dikebumikan di sebelah barat Masjid Riyadh.

Simthud Duror, Dipopulerkan oleh Anak-Cucu di Solo

Dalam buku Biografi Habib Ali Habsyi Muallif Simthud Durar dituliskan bahwa Habib Ali al-Habsyi mengarang Simthud Duror di usia 68 tahun. Tepatnya pada hari Kamis 26 Safar 1327 H pertama kali ia mendiktekan paragraf awal Simthud Duror. Kitab ini selesai ditulis pada hari Selasa serta disempurnakan pada esoknya, Rabu 9 Rabi’ul Awwal 1327 H dan langsung dibaca di rumahnya.

Baca Juga :  Krisis Qatar; Saatnya Islam Nusantara Go-Overseas

Pada hari Kamis esoknya, kitab ini disempurnakan kembali dan tepat pada tanggal 12 Rabiul Awal 1327 H ia membacakan kitab maulid tersebut di rumah muridnya, Sayyid Umar bin Hamid Assegaf. Sejak hari itu, Habib Ali membaca kitab maulidnya sendiri setelah sebelumnya selalu membaca kitab Maulid Diba’. Tentang kitabnya ini, Habib Ali berkata, “Dakwahku akan tersebar ke seluruh wujud. Maulidku akan tersebar ke tengah-tengah masyarakat, mengumpulkan mereka kepada Allah dan membuat mereka dicintai Nabi Muhammad Saw.”

Putra Habib Ali yang hijrah ke Jawa adalah Habib Alwi. Pada tahun 1934, Habib Alwi mendirikan masjid di Pasar Kliwon, Solo Surakarta. Masjid ini dinamakan Masjid Riyadh, merujuk kepada masjid dengan nama serupa yang didirikan ayahandanya di Seiwun. Dari sinilah Simthud Duror digaungkan.

Pasca wafatnya Habib Alwi, perjuangan diteruskan oleh putranya, Habib Anis. Melalui Habib Anis, kitab Simthud Duror semakin dikenal di Solo dan Indonesia pada umumnya. Kini setiap tanggal 19, 20, 21 Rabi’uts Tsani, di Masjid Riyadh Solo selalu digelar acara haul Habib Ali al-Habsyi yang dipenuhi oleh puluhan bahkan ratusan ribu orang setiap tahunnya

Sesuai dengan namanya, Simthud Duror, yang berarti untaian mutiara, merupakan kitab maulid yang isinya meliputi kisah kelahiran, kehidupan, keluarga, peristiwa, sifat, dan akhlak Nabi Muhammad Saw dalam bentuk pujian yang dikemas dengan kata-kata yang indah dan menyentuh hati. Kata-kata indah ini tak lain terlahir dari keindahan hati penulisnya, Habib Ali al-Habsyi. Semoga para pembaca kitab Maulid Simthud Duror juga senantiasa memperoleh pancaran keindahan dari Rasulullah Saw. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here