H.R Hidayat Suryalaga: Penulis Buku ‘Nur Hidayat Saritilawah Basa Sunda’ yang Fenomenal

0
621

BincangSyariah.Com – Pikeun unggal umat Gusti/pada miboga kiblatna/tempat madep jejem hate/nu matak pek geura balap/nyarieun kahadean/sanajan di mana dumuk/Allah mah Maha Uninga/sanajan di mana cicing/ andika pada malencar/ baris dikumpulkeun kabeh/ moal aya nu kaliwat/ engke poe kiamat/ Alloh Anu Maha Maphum/ Ngawasa ciptaannana.

Penggalan kalimat di atas adalah tembang Sunda berupa pupuh asmarandana yang diambil dari Q.S al-Baqarah ayat 148:

“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang menghadap kepada-Nya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Tembang Sunda sebagai representasi lokalitas dan identitas adalah media yang tepat untuk menggambarkan budaya adiluhung Sunda. Apalagi jika saat membacanya diiringi kacapi dan seruling.

Inilah bentuk tanggung jawab seorang budayawan Sunda, Hidayat Suryalaga yang melihat bahwa slogan “Islam teh Sunda, Sunda teh Islam” perlu diejawantahkan dalam bentuk akulturasi kebudayaan yang apik dan mengena masuk ke dalam relung sanubari manusia Sunda. Yaitu dengan jalan mengajarkan pesan Alquran lewat bahasa Ibu mereka.

Karenanya, Haji Raden Hidayat Suryalaga (1941-2010) menulis sebuah buku fenomenal berjudul Nur Hidayah Saritilawah Basa Sunda Alquran Winangun Pupuh. Ini adalah buku yang berisi terjemah puitis Sunda Alquran 30 juz dengan kaidah pupuh, yaitu bentuk puisi Sunda buhun (lama) dengan aturan ketat. Bisa dibayangkan kepakaran Suryalaga, selain harus memikirkan aturan baku pupuh ia harus menghasilkan makna sedekat mungkin antara bahasa Alquran dan bahasa Sunda.

Tidak tanggung-tanggung selama 18 tahun (1980-1998) Hidayat Suryalaga menghabiskan waktu menekuni tiap ayat dan makna Alquran demi menyelesaikan Nur Hidayah. Ia merasa bahwa menerjemahkan Alquran merupakan bentuk tanggung jawabnya sebagai urang Sunda sekaligus sebagai seorang Muslim. Padahal sebagaimana diakuinya, ia bukan berasal dari kalangan santri yang belajar agama Islam sejak kecil.

Baca Juga :  Mengenal Entitas Hati dan Tingkatannya Menurut al-Hakim al-Tirmizi

Abah Surya, sapaan akrabnya, adalah seorang budayawan Sunda sekaligus akademisi. Ia adalah sarjana sastra Sunda dari Universitas Padjajaran tahun 1986. Di tahun yang sama Ia diminta mengajar di almamaternya. Sebagai seorang seniman Sunda, Abah Surya turut mendirikan Teater Sunda Kiwari (TSK) tahun 1978, menjadi ketua Daya Sunda Puseur 1993-2000, pengurus Lembaga Bahasa jeung Sastra Sunda (LBSS) 2000-2005 dan lain lain.

Semangat Hidayat Suryalaga untuk berkontribusi terhadap Islam dengan mengakomodir nilai-nilai budaya Sunda adalah bentuk konkret dari kecintaannya terhadap Islam. Abah Surya, tidak merasa kecil hati meskipun pernah dikerdilkan oleh beberapa tokoh karena dianggap tidak kompeten dalam bidang keislaman. Namun demikian, Ia tidak pula menutup diri agar senantiasa terus belajar kepada orang-orang yang lebih alim dari dirinya.

Hal ini dibuktikan dengan turut diundangnya ahli tilawah dan juga ahli tafsir pada saat Abah Surya mengadakan majelis malem reboan. Majelis ini adalah kelompok pengajian untuk menyosialisasikan Nur Hidayah kepada khalayak, tatacara pembacaannya sekaligus penghayatan terhadap Alquran menggunakan bahasa Sunda. Adapun rangkaian acaranya pertama-tama ahli tilawah membacakan ayat Alquran tertentu, kemudian dibacakanlah Nur Hidayah Saritilawah Basa Sunda dengan diiringi petikan kacapi. Setelah itu, barulah ahli tafsir menjelaskan maksud ayat dan jika diperlukan Abah Surya menambahkan keterangan dari perspektif nilai kesundaan.

Pada akhirnya, upaya Hidayat Suryalaga untuk menyemai “Islam teh Sunda, Sunda teh Islam” dalam praktik harus berakhir pada tanggal 25 Desember 2010 di usianya yang ke 69 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here