H. Hasan Mustapa: Ulama sekaligus Sastrawan yang Dekat Dengan Snouck Hurgronje

0
1274

BincangSyariah.Com – Sebagai warga penduduk Kota Bandung pastinya tidak asing dengan jalan PHH Mustapa. Jalan inilah yang bisa menyambungkan antara Jalan Surapati dengan Terminal Cicaheum. Mustapa atau versi lengkapnya adalah Hasan Mustapa (1852-1930)  adir sebagai pembesar dalam sejarah Sunda yang multitalenta. Ia sang penulis, seniman, pun yang paling disorot oleh warga Bandung dan sekitarnya ia adalah seorang Ulama. Ia bahkan disebut sebagai penghulu (Kepala Penghulu) Bandung yang paling terkenal.

Kecintaannya terhadap tanah Padjajaran, membuatnya menuliskan banyak karya seperti Martabat Tujuh, Bale Bandung, Quranul Adhimi, dan masih banyak lagi. Begitu juga, sebagai seorang pujangga, ia pun mendalami karya seni sastra juga berupa Dangding, Puyuh Ngungkung dina Kurung (Kinanti), Hariring nu Hudang Gering (Asmarandana), dan masih banyak lagi. Melalui karya puisi Dangding, Mustapa menjadi sorotan para masyarakat, peneliti, dan beberapa seniman lainnya.

Sebagai informasi yang unik, puisi Dangding ini dialihmediakan fesyen Jawa Barat dalam bentuk kaos.

Santri Kelana Keluarga Elit Pribumi

Bisa dikatakan, asal usul Hasan Mustapa (1852 – 1930) adalah kaum elite pribumi. Beliau lahir pada 3 Juni 1852 di Cikajang Garut dari ayah bernama Mas Sastramanggala, seorang Camat wilayah Cikajang dan ibu bernama Nyi Mas Salpah, keturunan Dalem Sunan Pagerjaya dari Suci Garut. Menurut sebagian masyarakat Garut, penamaan Suci di sekitar ruas jalan PHH Mustapa memiliki kaitan dengan daerah asal Suci asal Dalem Sunan Pagerjaya.

Jaringan guru-gurunya tidak terlepas dari jaringan Syaikh Nawawi al-Bantani(1813-1879). Beliau juga pernah belajar ke salah satu murid Syaikh Nawawi yaitu Syaikh Khalil Bangkalan (w.1923). Menurut Jajat Burhanudin dalam bukunya Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim dalam Sejarah Indonesia sebagaimana dikutip Jajang Rohmana,  latar kehidupan pesantren Mustapa sangat berpengaruh terhadap pencarian makna batin sufistik.

Tradisi ulama sufi juga banyak mempengaruhi Hasan Mustapa, misalnya dari ulama sufi Nusantara yang masyhur seperti Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri dan Abdurrauf As-Sinkili al-Jawi. Adapun keahliannya dalam Suluk Jawa terinspirasi saat ia mengikuti perjalanan mendampingi Snouck Hurgronje (1887-1889/1889-1890). Kelak, relasi Snouck dengan Hasan Mustapa terus berlanjut meski Snouck sudah kembali ke Belanda dan meminta Hasan Mustapa memperhatikan keturunannya hasil perkawinan dengan seorang wanita pribumi anak penghulu.

Tak hanya itu, keahliannya dalam bidang Tasawuf merupakan hasil mukim belajarnya di Mekkah sampai dua belas tahun. Menurut Jajang Rohmana, ia adalah sang wondering santri (santri kelana) ke sejumlah pesantren yang ada di tataran Sunda diantaranya Garut, Tanjungsari, Sumedang, dan Kuningan.

Sastra Hasan Mustapa dan Kreativitas Masyarakat Sunda

Kota Bandung tentunya dikenal sebagai salah satu kota kreatif di Indonesia. Ia menjadi sorotan publik tentunya anak muda untuk menjadi penikmat produk kreatif anak muda. Dari segi musik, kuliner, pun hingga fashion (dalam tulisan bahasa Sunda fesyen). Menurut Jajang Rohmana dalam artikelnya Makna Baru Naskah di Era Ekonomi Kreatif: Dangding Haji Hasan Mustafa dalam Kaos mengatakan bahwa banyak distro kaos yang memproduksi kaos beraksara kutipan puisi Dangding karya Hasan Mustapa. Puisi Dangding yang ditampilkan berupa puisi sufistik Sunda dan ditulis dengan pola 17 jenis pupuh. Dangding sufistiknya banyak menggunakan aksara Sunda pegon. Tentang sejak kapan Hasan Mustapa menulis puisi Dangding tersebut, diperkirakan beliau menulis sekitar tahun 1900-1902 seperti disebutkan Jajang Jahroni dalam bukunya The Life and Mystical Things of Haji Hasan Mustapa.

Dangding: Sastra Memadukan Nilai Sufi dan Budaya Sunda

Mustapa membangun kekhasan dalam penulis Dangding. Pertama, diksi dalam Dangding dibangun dengan kreatifitas kata yang seringkali tidak dapat diduga. Salah satu contohnya imbuhan –um pada banyak kata yang tidak biasa, imbuhan –ing sebagai pengaruh bahasa Jawa yang dikelola secara kreatif. Pun demikian ada pengaruh bahasa Arab bercitarasa sufistik bersumber dari ayat atau hadis yang menjadi hiasan larik Dandingnya itu. Kedua, dari segi struktur, bait-bait yang ia gunakan berupa sampiran sebagai pembuka layaknya rajah (puji-pujian) oleh masyarakat Sunda. Berikut contoh Dangding yang ia tulis tentang permainan katakuring, kurang,kurung.

Kuring ngawula ka kurung – Aku menghina ke kurung (badan)

Kurunganana sim kuring – Kurangnya aku sendiri

Kuring darma dipiwarang – Aku sekedar disuruh

Dipiwarangna ku kuring – Disuruhnya oleh aku

Kuringna rumingkang kurang – Akunya hidup kekurangan

Kurangna puguh ge kuring – Kekurangannya memang aku

 

Mikihiro Moriyama dalam bukunya Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 sebagai dikutip oleh Jajang Rohmana menjelaskan bahwa dalam rancangan struktur Dangding , Mustapa membacanya dengan bersuara dan menyanyikannya dalam lagu dengan penuh penghayatan. Selain itu, Dangding juga dipakai oleh Mustapa sebagai wawacan (Dangding berbentuk cerita) sambil dinyanyikan di depan banyak orang saat ritual upacara adat, upacara kelahiran, ataupun acara manakiban Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Memang ini merupakan tradisi yang telah dimiliki leluhur Jawa dan mempengaruhi budaya Sunda. Namun, para leluhur sebelumnya melekatkan Dangding ini dengan bacaan atau nyanyian dalam keseharian Sunda layaknya cerita pantun.

Dengan demikian, sebuah Dangding sufistik yang telah dirancang oleh Mustapa merupakan wadah mistisisme dan memang ia adalah sebuah puisi yang bermutu tinggi. Isi Dangding tersebut penuh dengan metafor, purwakanti, dan memenuhi kaidah puisi yang sangat rumit. Puisinya pun lebih dari sebuah karya sastra, karena ia merupakan pertemuan antara ekspresi sufistik dan sebagai tempat suluknya. Dalam arti, di satu sisi ia merupakan ungkapan mistis, namun di sisi lain juga dituangkan dalam sebuah bentuk karya sastra puisi yang disesuaikan dengan sifat dan watak puisinya sendiri secara tepat. Berikut tulisan Dangding  Mustapa yang tertera dalam sebuah kaos.

Sapanjang neangan kidul

Sepanjang mencari selatan

Kaler deui kaler deui

hanya utara kujumpa

Sapanjang neangan wetan

sepanjang mencari timur

Kulon deui kulon deui

hanya barat kujumpa

Sapanjang neangan aya

sepanjang mencari yang ada

Euweuh deui euweuh deui

hanya tiada kujumpa

Itulah salah satu puisi dangding popular yang dibuat oleh Mustapa dan dijadikan sebagai kutipan pendek dalam kaos oblong yang beredar di kalangan anak muda yang tergabung dalam komunitas Institut Nalar Jatinangor. Lembaga ini merupakan sebuah komunitas kajian di sekitar Universitas Padjadjaran (UNPAD) di kampus Jatinangor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here