Gus Dur yang Mewariskan Jejak Kemaslahatan untuk Kaum Tertindas

0
421

BincangSyariah.Com – Kiprah semasa hayat masih dikandung badan bisa membuat seseorang dielu-elukan, didamba, dikenang walaupun ajal telah datang menjemput orang tersebut. Semua setuju bahwa tidak ada satupun manusia yang -akan dan pasti- wafat tak ingin meninggalkan jejak baik karena dengan jejak itulah dia akan tetap hidup. Namun sayang tidak semua manusia bisa melakukannya.

Jamak diketahui bahwa kali ini, Jawa Timur menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Zhenghe (KIZ) Ke-5. KIZ bertujuan meneladani syiar Islam yang dilakukan Cheng Hoo dengan mengedapankan budaya toleransi, masyarakat agar yang heterogen bisa hidup rukun dan menjaga persatuan. Pembukaan konferensi berlangsung di JX International, Surabaya pada Rabu malam (15/7) memberi penghargaan perdamaian kepada Presiden ke-4, Abdurrahman Wahid allahummagfirlahu.

Memang tidak ada habisnya membicarakan teladan bijak Gus Dur. Salah satunya, untuk menjaga dan menjalin ukhuwah tetap erat nan solid, ia menanggapi cemoohan yang dialamatkan kepadanya dengan humor. Beberapa kali ia dituduh kafir, namun enteng saja dalam menjawab tuduhan tersebut, “Gampang, kalau saya dibaling kafir ya tinggal baca kalimat syahadat lagi…gitu aja kok repot.” Adakah kita merasa lebih Islam dari pada Gus Dur allahummagfirlahu?

Tentu tidak akan pernah lekang dari ingatan masyarakat Indonesia bahkan dunia tatkala Gus Dur turun takhta sebelum waktunya sebagai Presiden RI. Ia melakukan secara suka rela. Alasannya tidak lain kecuali sosok yang identik dengan Nahdlatul Ulama (NU) itu tidak ingin mengorbankan masyarakat Indonesia apalagi dengan tragedi pertumpahan darah. Persatuan, perdamaian, pembela mustadh’afin alias kaum tertindas sudah terlampau melekat dalam darah juangnya yang tak bisa ditukar dengan barang mewah apapun termasuk jabatan nomor satu di republik ini.

Baca Juga :  Sejarah Bulan Ramadhan: Pertempuran Zallaqah di Spanyol

Betul, kita bukan Gus Dur yang ikhlas berjuang, toleran, tafaqquh fiddin, dan meneladani dalam menyikapi kegetiran pun kita tak sanggup. Di sinilah pentingnya kita harus lebih mawas diri dalam bersikap apalagi menjustifikasi orang lain. Sebab justifikasi selama ini hanya berlangsung disematkan pada yang artifisial. Tidak jarang di antara kita yang sesat-menyesatkan hanya karena kita tak mampu (pengetahuan kita terbatas) memahami perilaku “nyaleneh” orang lain.

Mestinya, pada situasi seperti ini yang amat penting dikoreksi adalah khazanah pengetahuan kita. Jangan hanya karena kita tak mampu menjangkau pola pikir orang lain lantas tergesa menggap orang lain salah dan membencinya. Itupun jika kita memang benar-benar mencintai kedamaian dan hendak ingin dikenang baik saat jasad kita dimasukkan ke liang lahat.

Jika kita tak pandai menyudahi perseteruan dengan humor tidak masalah sebab manusia lahir dan tumbuh dengan potensi berbeda-beda. Alhasil, konsistenkan diri untuk selalu berbuat bajik kepada siapapun. Bukan hal mustahil kebajikan-kebajikan kecil yang kita sendiri istikamah dalam mengerjakannya dapat membawa kita pada kemujuran karena kebaikan kita masih dikenang, dirasakan, dan diteladani oleh orang-orang yang masih tinggal di altar bumi ini.

Terakhir jika hayat masih dikandung badan, selama itu pulalah kita memikul perintah Allah Subhanahu wata’ala. Dan antara perintah-Nya yang penting adalah jangan suka berbuat sesuatu yang mencederai kemaslahatan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan)hidup bagimu” (QS al-Anfaal:24).

Menyikapi ayat tersebut Ibnu al-Qayyim rahimahullah menegaskan bahwa kehidupan yang bermanfaat hanyalah didapatkan dengan memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya. Maka barangsiapa yang tidak memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya maka dia tidak akan merasakan kehidupan (yang baik). Meskipun dia memiliki kehidupan tak ubahnya seperti kehidupan binatang yang paling hina. Maka kehidupan baik yang hakiki adalah kehidupan seorang yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya secara lahir maupun batin. (Tafsir Ibnu Katsir, (4/34). Wallahualam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here