Gus Dur dan Dalil Sampainya Pahala Kebaikan untuk Mayit

0
3774

BincangSyariah.Com – Kiai saya di pondok pernah menerangkan tentang pahala tahlilan. Beliau mengutip guyon Almarhum Gus Dur (qoddasallahu sirroh). Almarhum pernah ditanya tentang ganjaran tahlil untuk mayit, apakah sampai atau tidak. Jawaban beliau, seperti biasa, singkat, padat, dan sambil guyon, tapi memuaskan yang bertanya. Dawuh beliau, “Kiriman tahlil pasti sampai pada mayit. Buktinya, ia tidak balik lagi.”

Sepintas jawaban beliau hanya bercanda, namun sarat makna. Beliau bukan tidak bisa memaparkan dalil yang berkenaan dengan sampainya kiriman tahlil pada mayit, namun bila dianggap tidak perlu, ya buat apa menyampaikan dalil. Entah karena yang bertanya dianggap sudah paham, atau memang dianggap akan tambah bingung bila disertai dalil.

Terlepas dari itu, Imam Muhammad Bin Abu Bakar menyebutkan salah satu hadits nabi yang berkaitan dengan sampainya kiriman pahala untuk mayit. Hadits yang kelima belas ini diriwayatkan dari Sufyan, dari seseorang yang mendengar dari Sayyidina Anas Bin Malik ra. Rasulullah Saw. bersabda,

ان اعمال الاحياء تعرض على عشائرهم وعلى ابائهم من الاموات فان كان خيرا حمدوا الله تعالى واستبشروا وان يروا غير ذلك قالوا أللهم لا تمتهم حتى تهديهم هدية

Sesungguhnya amalan orang hidup akan dikirimkan pada keluarga dan nenek moyangnya yang sudah meninggal. Jika amalannya baik, maka mereka akan bersyukur kepada Allah Swt dan bergembira. Namun ketika yang mereka lihat bukan amal baik, maka mereka mendoakan keluarganya yang masih hidup “Ya Allah, jangan cabut nyawa mereka sebelum Engkau memberi hidayah pada mereka”.

Dalam artian, sebagaimana ilmu yang bermanfaat atau amal jariyah, anak atau keluarga juga akan bermanfaat pada anggota kelurga yang meninggal. Memang akhirat adalah tempat memanen, bukan menanam, namun tetap saja orang yang meninggal dapat fasilitas pahala kiriman dari keluarganya.

Baca Juga :  Asal Usul Marga Habaib; Induk Klan Alatas

Oleh karenanya, berbuat baik walau tidak diatasnamakan keluarga yang meninggal, bila dilakukan oleh anak cucu almarhum, pasti akan sampai. Sebaliknya, keburukan yang dilakukan keluarga orang yang mati, akan membuat sedih mereka. Rasulullah Saw. bersabda,

يؤدي الميت في قبره كما يؤذي في حياته قيل ما ايذاء الميت قال عليه السلام ان الميت لا يذنب ذنبا ولا يتنازع ولا يتخاصم احدا الا انك ان نازعت احدا لا يد ان يشمتك ووالديك فيؤذيان عند الاساة وكذلك يفرحان عند الاحسان في حقهما

Orang yang mati akan merasa sakit bila ia disakiti sebagaimana merasa sakit saat tersakiti waktu hidupnya. Lalu beliau Saw. ditanya, bagaimana bisa menyakiti orang yang sudah meninggal? Beliau menjawab, sesungguhnya mayit tidak lagi berbuat dosa, tidak lagi berseteru atau bermusuhan dengan seorangpun. Hanya saja engkaulah yang yang berseteru dengan orang lain, lalu engkau dicaci maki oleh mereka beserta kedua orang tuamu. Maka kedua orang tua akan merasa sakit bila anaknya berbuat keburukan. Begitu juga, ia akan bahagia bila melihat anaknya berbuat baik.

Artinya, kebaikan yang kita lakukan, pahalanya juga akan mengalir pada kedua orang tua. Mereka akan bangga dan bahagia telah memiliki anak yang berbakti. Sebaliknya, keburukan yang kita lakukan bukan hanya berbahaya pada diri sendiri, melainkan ia juga akan sampai pada keduanya. Mereka akan bersedih saat melihat anaknya berbuat maksiat layaknya Nabi Adam As. yang menangis saat menoleh ke kiri, melihat anak cucunya berbuat kemaksiatan.

Maka dari itu, setidaknya setiap selesai sholat lima waktu mengirim fatihah untuk keluarga yang meninggal. Atau, setidaknya tiap kamis sore ziarah kubur ke makam keluarga. Atau, setidaknya sebula sekali mengundang tetangga dekat, mengadakan selamatan yang dihadiahkan pada seluruh almarhumin dan almarhumat dari keluarga.

Baca Juga :  Di Maroko, Gus Dur Menangis Setelah Membaca Buku Ini

Tidak perlu khawatir masalah sampai atau tidaknya pahala semua kebaikan yang kita lakukan atas nama keluarga, sebagaimana keyakinan mereka yang di luar aswaja. Karena hakikatnya itu bukan urusan kita, tapi urusan Allah Swt. Pasrahkan semuanya pada-Nya. Yakini bahwa semua itu pasti sampai, sebagaimana meyakini bahwa semua itu tidak akan kembali pulang ke dunia. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here