Gus Baha dan Kiai Najih Maimun Soal Peci Santri

0
1406

BincangSyariah.Com – Ketika mendengar kata santri maka nalar kita akan mengarah pada sekelompok orang yang sedang menimba ilmu di dalam pesantren. Santri, rata-rata berpeci, bersarung, dan berbaju koko. Iya, santri putra. Santri putri tak mungkin berpeci, tapi berkerudung atau berjilbab.

Santri bukan harus berjidat hitam, kebanyakan songkokoknya saja yang hitam; nasional. Tidak sedikit juga santri yang dibiasakan pakai peci putih; sunah. Peci hitam atau putih dibebaskan. Peci hitam, lambang nasionalisme. Peci putih agamisnya. Tapi tidak perlu pakai peci hitam-putih, karena peci bukan papan catur.

Gus Baha (KH. Bahauddin Nursalim) pernah bercerita dalam sebagian ceramahnya tentang santri Sarang yang tidak berpeci putih. Kira-kira bahasanya beliau seperti ini, “Santri di Sarang tidak diperkenankan memakai peci putih oleh Almarhum Yai Maimun Zubair. Karena peci putih menjadi ciri khas orang yang baru datang haji. Orang naik haji kadang harus jual sawah, baru bisa berpeci putih, eh santri cuma merogoh 15 ribu sudah bisa berpeci putih.”

Tapi, menurut Gus Baha, di bagian Pondok Sarang juga (Yai Najih Maimun, Putra Almarhum Mbah Maimun), justru beliau menganjurkan peci putih, sebagai wujud (ittiba‘) kesunahan dari nabi. Namun, terlepas dari itu, peci memang menjadi ciri khas santri. Bahkan santri akan dicap “kurang sopan” oleh masyarakat apabila tidak berpeci.

Selain peci, ciri khas santri adalah sarung. Jarang pesantren yang membiasakan santrinya bercelana. Baik santri putra ataupun santri putri, ketika beraktivitas di pesantren, terbiasa memakai sarung. Baru santri putra bercelana dan santri putri pakai rok ketika mereka masuk kelas formal.

Sarung santri terkadang menjadi gambaran kepribadiannya. Jika sarung yang dipakai sekelas “Gajah Duduk” atau “Wadimor”, maka berarti prinsip hidupnya sederhana dan bersahaja. Tapi jika sarung yang dipakai selevel “Lamiri” atau “Bugis”, berarti prinsipnya hidupnya di pesantren agak mewah dan penuh gengsi. Namun, kualitas sarung yang dipakai santri tidak menjamin kepribadian dan keilmuannya.

Baca Juga :  Rasulullah Tolak Permohonan Abu Umamah yang Ingin Mati Syahid

Di sebagian pesantren ada yang membatasi kualitas dan kuantitas sarung santri. Kadang santri dilarang membawa sarung lebih dari 3 dan harus di bawah harga 200 ribu. Ini barangkali pesantren mengajarkan pada santrinya itu untuk hidup sederhana.

Di tengah-tengah masyarakat, selain peci, sarung yang menjadi penilaian pokok. Ketika sarungnya terlalu tinggi, misal lututnya hampir kelihatan, apalagi santri putri, biasanya santri ini dinilai negatif. Karena semakin ke atas sarung santri, semakin besar kemungkinan auratnya terbuka. Lebih-lebih perempuan yang betisnya memang termasuk aurat.

Namun, secara umum, ketika santri sudah berpeci dan bersarung, ia termasuk kategori santri baik. Terlepas dari kepribadiannya yang terpendam. Secara lahir, ia sudah menunjukkan akhlak kesantrian.

Simpulan, aksesoris kesantrian bagi santri itu penting, namun bukan segala-galanya. Berpeci dan bersarung tidak menjamin baiknya kepribadian santri. Hanya saja sebagai santri tidak boleh sungkan atau malu untuk tampil dengan tradisi kepesantrenannya. Kedepankan etika dibandingkan dialektika.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here