Gula dalam Sejarah Islam: Jadi Pemanis sampai Bahan Obat

0
1899

BincangSyariah.Com – Masyarakat hari ini sangat lekat dengan gula. Kebanyakan dari kita suka makanan atau minuman manis, baik olahan maupun kemasan. Begitupun pada buah. Standar dari buah yang enak disantap adalah yang cenderung manis. Tentu setiap orang punya preferensi tersendiri soal konsumsi produk dengan rasa manis, baik karena tradisi, kebiasaan, atau mungkin persoalan kesehatan.

Diperkenalkan ke Arab oleh Orang India dan Asia Timur

Gula adalah salah satu komoditi global. Sejarah komoditi produk menyertai persebaran penduduk maupun pola perdagangan. Begitupun dalam tradisi Arab. Pada mulanya, masyarakat Arab tidak banyak menggunakan gula sebagai pemanis. Mereka cenderung mempergunakan madu sebagai campuran makanan. Hal ini dapat ditelusuri misalnya dalam hadis-hadis Nabi, penyebutan gula secara eksplisit tidak cukup banyak.

Ibnu Baythar dan Ibnu Nafis: Gula sebagai Bahan Obat

Komoditi gula yang tiba di Arab diperkenalkan oleh orang-orang India dan Asia bagian Selatan dan Timur. Mekanisme utama penyebaran ini adalah perdagangan. Demikian dipaparkan oleh Tsugitaka Sato dalam bukunya Sugar in the Social Life of Medieval Islam. Lebih lanjut, buku tersebut menelusuri sejarah gula di dataran Arab dan sekitarnya, dan bagaimana ia memengaruhi tradisi Arab lebih jauh.

Selain berperan sebagai pemanis dan menjadi bagian dari beragam aktivitas masyarakat, gula di kemudian hari mulai dipertimbangkan sebagai obat. Di antara ilmuwan Arab yang memperkenalkan gula sebagai obat antara lain adalah Ibnu Baythar, seorang ahli farmakologi; dan Ibnu Nafis.

Ibnu Baythar bin bin Abdullah (wafat 646/1248) dikenal luas sebagai ahli obat dari dunia Islam. Ibnu Abi Usaibiah mencatat dalam karyanya Uyunul Anba’ fi Thabaqatil Athibba’, Ibnu Baythar lahir di Malaga, Spanyol. Pada akhir abad kedua belas, ia menekuni mempelajari botani dan farmakologi di Sevilla yang saat itu dikuasai Dinasti Muwahid di Andalusia. Di kemudian hari ia tinggal di Kairo dan ditunjuk oleh sebagai kepala para farmakolog (ra’is ‘ala saa’ir al-‘ashshaabiyin). Di sana ia melakukan riset dan bertandang juga ke beberapa daerah Afrika dan Eropa, menelusuri jenis-jenis obat yang digunakan di sana. Dari sinilah ia mulai mengenali gula (sukkar).

Baca Juga :  Mengenal al-Khawarizmi: Membawa Konsep Angka 0 ke Dunia Islam

Ibnu Baythar menyusun al-Mughni fi al-Adwiyat al-Mufradah dan al-Jami’ li-Mufradat al-Adwiyah wal-Aghdziyah (Buku Komprehensif Obat dan Makanan). Karya tersebut adalah kompilasi beragam obat, makanan, dan minuman yang banyak digunakan oleh para tabib, dokter, serta masyarakat umum. Selain mencantumkan obat dan makanan dari masa ke masa sejak era Dioscorides, Galen, al-Razi, Ibnu Sina, dan ilmuwan lainnya, ia juga melakukan pengamatan pribadi. Di buku tersebut dicatat entri “sukkar”. Dalam entri tersebut Ibnu Baythar memaparkan efek terapeutik gula yang sudah diketahui ilmuwan sebelumnya, mengutip karya-karya para dokter dan ahli obat.

Penjelasan Ibnu Baythar tentang efek gula masih mengadopsi teori Yunani terkait elemen dan sifat cairan tubuh. Ia menulis bahwa gula cair dinilai memiliki substansi panas dan lembab, dan gula batu/butir itu panas dan kering. Berdasarkan pengamatannya, ia konon banyak digunakan untuk menyembuhkan nyeri perut, sakit mata, batuk, asma, dan gangguan berkemih.

Keterangan Ibnu Nafis tak jauh berbeda dengan Ibnu Baythar. Gula (sukkar), yang diekstrak dari tebu, bersifat lembap. Dari tebu yang diperah mengeluarkan rasa manis, ketika kering ia mengeras seperti batu. Ketika seseorang ingin melarutkan gula, ia menambahkan air panas.

Ibnu Nafis menyebutkan dalam Asy-Syamil fi Shina’ati Ath-Thibbiyyah bahwa ketika gula naik ke otak, zat ini membantu pasien menjaga keseimbangan cairan tubuh. Tapi jika terlalu banyak gula, sakit kepala dapat timbul. Kemudian jika gula diminum dengan air panas, ia efektif mengurangi serak pada tenggorokan. Ibnu Nafis pun menyarankan konsumsi gula untuk pasien dengan keluhan nyeri dada, batuk kronik, asma, dan keluhan lainnya terkait pernapasan. Demikian para dokter dan ahli obat menjelaskan efek terapeutik gula dari konsep kedokteran Yunani yang mereka pelajari.

Baca Juga :  Jejak Islam di Dunia: Muslim di Rusia dan Hikayat Sahabat Nabi Mengislamkan Raja Bolghar

Attars: Kelompok Distributor Gula sebagai Obat

Orang-orang Arab mulai mengenali tebu dan gula sebagai jenis obat-obatan, karena gula ini dijual oleh kelompok pedagang, seperti dicatat oleh Sato, disebut oleh masyarakat sebagai attars. Mereka menjual beragam jenis gula karena efeknya yang dinilai luar biasa dari keterangan para peminumnya di berbagai negeri yang mereka singgahi.

Para attars ini konon juga memiliki pengetahuan tentang obat-obatan dan minuman yang dijualnya. Barangkali mereka seperti pedagang jamu di Indonesia, namun para attars ini kebanyakan menjual dalam bentuk mentahnya. Sebagian pengetahuan orang Arab tentang gula berasal dari para pedagang ini yang cakap memaparkan efek baik dan cara menggunakannya.

Para attars menjual biji labu, manna, gula batu, gula putih, susu, daging domba, serta ragam bahan lainnya yang dinilai berkhasiat. Suatu ketika daerah yang dikuasai Dinasti Mamluk di sekitaran Kairo, Mesir, terserang suatu wabah. Para attars banyak menuju Mesir dan menjual gula dan bahan obat lainnya – dan akibat meningkatnya kebutuhan, harganya pun meroket di sana. Masyarakat Mesir pun juga mulai familiar dengan gula sebagai tambahan obat karena para pedagang ini.

Gula yang sebelumnya tidak populer di Arab, dicari dan digunakan secara rutin sebagai pemanis. Di era pasca kekuasaan kerajaan Islam konsumsi gula sebagai salah satu jenis pengobatan mulai ditinggalkan akibat berkembangnya ilmu pengetahuan. Perlu diakui bahwa diseminasi konsumsi gula di Arab juga merupakan sumbangsih catatan para dokter dan ilmuwan, serta promosi para attars dalam menjual gula. Meski tak dinilai sebagai salah satu jenis obat lagi, fungsinya sebagai pemanis tetap langgeng dalam gelas-gelas teh dan kopi orang-orang Arab dan Timur Tengah.

Baca Juga :  Hukum Memajukan Zakat Fitrah Sebelum Ramadan

Tentu di era sekarang, konsumsi gula sudah banyak dikaji efek baik dan buruknya. Kegemaran seseorang terhadap gula bisa disebabkan oleh banyak hal. Di era sekarang, muncul beberapa kalangan yang mengurangi konsumsi gula atas dasar kesehatan, menjauhi obesitas atau mengurangi risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here