Enam Pesan Penting Grand Syaikh Al-Azhar tentang Moderasi Islam

4
924

BincangSyariah.Com – Sejak tanggal 30 April malam, Grand Syaikh Al-Azhar, Syaikh Ahmad Thayyib tiba di Indonesia untuk menghadiri sejumlah pertemuan. Di antaranya adalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendekiawan untuk Moderasi Islam, yang diselenggarakan oleh Unit Kerja Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban (UKP-DKAAP) dan Pertemuan Alumni Al-Azhar di Solo, Jawa Tengah. KTT Ulama tersebut di bawah koordinasi Prof. Dr. Din Syamsuddin selaku ketua UKP-DKAAP.

Kali ini pada lawatan ketiga saat beliau ke Indonesia, beliau kembali menggandeng Al-Azhar dan Majlis Hukama al-Muslimin (Muslim Elders Council). Lembaga ini adalah lembaga yang terdiri atas tokoh-tokoh muslim kenamaan dari berbagai negara, yang bertujuan untuk menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam yang membawa perdamaian bagi seluruh dunia.

Pada lawatan kali ini, beliau kembali membawa tema besar al-wasathiyyah fi al-Islam (Moderasi dalam Islam). Tema ini telah dibawa Al-Azhar cukup lama dan disampaikan dalam berbagai bentuk seminar, termasuk di Indonesia.

Grand Syaikh menyampaikan tema ini dalam pidatonya di pembukaan KTT Ulama di Istana Bogor, Jawa Barat, pada hari selasa lalu yang dihadiri oleh Presiden Jokowi. Beberapa poin penting dari pidato beliau kami rangkum dari naskah pidato berbahasa Arab.

Pertama, tema al-Wasathiyyah adalah tema yang telah lama di bawa oleh al-Azhar, dan diseminarkan dalam berbagai kesempatan yang mungkin tidak terhitung, termasuk dalam bentuk kajian, jurnal, opini-opini di media massa, dan banyak lagi.

Namun, membawa tema al-Wasathiyyah, yang sering disandarkan kepada kata al-Islam, menegaskan kalau jati diri Islam adalah moderat. Umat Islam, sesuai dengan Albaqarah: 143, adalah ummatan wasathan (umat yang moderat). 

Kedua, meski makna al-Wasathiyyah sebenarnya sudah jelas berdasarkan ayat-ayat Quran dan Sunnah, namun tetap saja kita masih merasakan perbedaan pendapat bahkan perpecahan ketika wasathiyyah harus berhadapan dengan perdebatan konsep tentang apa itu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, al-Sunnah wa al-Bid’ah, sampai apa al-Tawhid, konsep paling dasar dalam Islam sendiri. Tidak bisa dimungkiri, konsep-konsep tadi menjadi muara konflik antar umat Islam dua abad terakhir yang menyebabkan perpecahan, bahkan pertumpahan darah yang seluruhnya mengakibatkan melemahnya umat Islam. 

Ketiga, memang ada perdebatan serius tentang apa sebenarnya makna wasathiyyah di kalangan umat Islam sendiri. Ada yang mencoba membandingkannya dengan konsep moderat ala Aristoteles, tapi yang terpenting hari ini adalah bagaimana menarik pembicaraan ini dari ruang teoretis ke ranah praktis.

Pembicaraan kita bukan sekedar menunjukkan keindahan-keindahan Islam, tapi menegaskan kembali esensi dari seluruh ajaran dalam Islam (akidah – syariah – akhlak) sendiri yang sebenarnya bersifat moderat. Esensi ini kita praktikkan dalam realitas untuk menegaskan bahwa siapa pun yang mencoba bergeser dari sikap moderat ke salah satu kubu secara radikal, baik kubu yang ekstrimis maupun liberal, keduanya menyebabkan perpecahan dalam umat Islam. 

Keempat, kita juga harus menyadari bahwa kelompok yang keras, berlebihan, sampai mengharamkan yang dihalalkan Allah, tidak kurang dampak kerusakannya dengan orang yang melampaui syariat Allah. Kedua kelompok ini telah melampaui batas-batas ajaran Islam dan telah berdusta dengan klaim bahwa ia sedang menjalankan syariat Allah. 

Kelima, menegaskan bahwa metode pendidikan di Al-Azhar saat ini telah mencerminkan jati diri moderasi Islam tersebut, di mana sejak awal para pelajar di dalamnya telah dikenalkan keniscayaannya perdebatan pendapat dalam beragama sehingga penting dilakukan dialog secara terus-menerus.

Ini membuatnya berbeda dengan kelompok ekstrem yang berpikiran tertutup dan fanatik serta tidak mau mendengarkan orang lain. Al-Azhar menciptakan iklim pentingnya membedakan antara penghormatan mazhab yang berbeda dengan meyakini mazhab tersebut. Ini sesuai dengan kenyataan bahwa anda tidak akan melihat seorang alumni Al-Azhar menjadi seorang teroris karena Al-Azhar sejak dahulu mengikuti mazhab Abu al-Hasan al-Asy’ari yang tidak mengkafirkan seorang pun selama dia masih memiliki kiblat yang sama. 

Keenam, saat merasa gusar dengan kondisi saat ini di mana terjadi perbedaan pendapat dan fanatisme kelompok di antara umat muslim sendiri -baik yang mengeyam pendidikan universitas atau tidak- merupakan akibat dari melupakan spirit moderasi Islam, yang sebenarnya menjadi pengikat sikap adil, keberagaman, sehingga menimbulkan sikap fanatisme.

Ini menyebabkan kelompok-kelompok dalam Islam saling mengumpulkan klaim untuk menilai bahwa kelompok lain tidak benar. Masing-masing menilai yang lain sunni, sufi, salafi, modernis, hingga takfiri. Ini membuat orang membid’ahkan yang lain sampai tidak mau bersalaman, shalat bersama, sampai berakhir dengan pertumpahan darah. 

Terakhir, dalam sambutannya Syaikh Ahmad Tayyib memohon kepada Allah agar umat ini disembuhkan dari penyakit tersebut.

Menurutnya Umat Islam harus menyadari konspirasi-konspirasi yang melemahkan umat sehingga saat ini belum mampu membebaskan al-Quds di Palestina dan mewujudkan perdamaian di sana serta membebaskannya dari makar mereka yang terus berniat jahat.

Begitu juga apa yang terjadi di Rohingya, beliau berharap pertolongan Allah kepada umat muslim di Rohingya. Apa yang diperbuat mereka kepada umat muslim akan tercatat sebagai sejarah kehinaan mereka sendiri. Beliau berkeyakinan penuh Allah akan menolong mereka yang dalam kelemahan dan hampir putus asa. 

Wallahu’alam.

Baca Juga :  Ilmu Lebih Utama dari Ibadah


BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

4 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here