Gaya Hidup Masyarakat Muslim Kekinian

3
954

BincangSyariah.Com –Bukankah dalam pengertian ‘gaya’ itu sendiri sudah terkandung pengakuan tentang adanya suatu unsur permainan tertentu?” -Johan Huizinga, 1938-

Kita telah digodok dalam bejana abad 21 yang penuh sensasi selebritas. Pada setiap kesempatan, panggung, pertunjukkan dunia, marak dilabel ini dan itu tergantung kepentingan yang ada di belakangnya. Termasuk kondisi di mana sensibilitas agama dimanfaatkan untuk meraup keuntungan bisnis. Masyarakat Muslim sebagai mayoritas di Indonesia menjadi sasaran utama melalui akses sensibilitas tersebut. Sudah lama kita berkenalan dengan istilah wisata, pakaian, perumahan, kosmetik, bisnis waralaba, restoran sampai perjalanan ibadah berlabel syar’i. Bahkan puncaknya bisa kita saksikan selama bulan Ramadan berlangsung. Fenomena konsumerisme yang lahir dari gaya hidup masyarakat muslim kekinian.

Media menjadi alat paling ampuh untuk menggencarkan kepentingan gaya hidup. Sosok manusia yang diangkat menjadi selebritas media pun bukanlah para pemikir atau pembaharu. Mereka tidak lahir dari tempaan perjuangan macam Tan Malaka atau pun memiliki karya dan prestasi besar macam Rohana Kudus ataupun Sukarno. Perilaku atau perbuatan sosok selebritas yang diangkat media kini, khususnya yang bermuatan Islam tidak lebih dari sekedar cerita ‘hijrah’ seorang artis. Begitulah jurnalisme gaya hidup mengangkat selebriti versi mereka untuk kemudian menggantikannya lekas-lekas dengan sosok lain yang tak kalah recehnya.

Kisah hijrahnya beberapa artis wanita di Indonesia ataupun perjalanan hidup mualaf digaungkan media sebagai fenomena akbar. Sekilas, tapi bombastis. Usianya tidak lama memang, karena akan diganti oleh sosok lain seperti halnya perubahan mode pakaian. Namun, peristiwa sekilas yang berkesinambungan ini berdampak buruk dan intens bagi masyarakat muslim Indonesia.

Sesudah sosok artis A dikabarkan berhijab, semua berita tentangnya akan di-framing positif. Media mengangkat kehidupan ‘hijrahnya’ dengan sangat apik. Lalu beruntun berbagai promosi dan iklan ‘menempel’ pada artis tersebut. Mulai dari sponsor hijab, kosmetik sampai perawatan tubuh yang dilabel halal dan syar’i agar sesuai dengan perjalanan hijrahnya.

Artis dengan kemunculan seperti ini di media sangat disanjung oleh sebagian Muslimah Indonesia. Tidak jarang dari artis-artis yang baru ‘hijrah’ ini menyampaikan tausiyah agama Islam dan bahkan sampai menggurui. Ironisnya, jika mereka tidak berhijab lagi, citra mereka menjadi buruk.

Baca Juga :  MC Ricklefs dan Amal Jariyahnya

Media kembali campur tangan dengan menurunkan ‘citra’ baik yang sebelumnya ia bangun dengan kuasanya sendiri. Fenomena ini, disadari atau tidak telah meracuni alam pikir muslim Indonesia tentang konsep gaya hidup. Semua penilaian baik dan buruk terbukti dinilai berdasarkan penampilan dan bukan substansi.

Bukan hal yang aneh memang, sebab dalam abad media, citra adalah segalanya. Citra adalah satu-satunya yang dipertaruhkan selebriti sampai politisi. Berhubung soal ini, kita tentu masih ingat gonjang-ganjing perpolitikan pemilihan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Betapa isu agama dan ras mampu menjadi alat manipulasi dari citra gaya hidup seorang politisi agar mendapatkan dukungan penuh (Chaney,1996).

Candu Gaya Hidup

Dampak kecanduan gaya hidup masyarakat muslim Indonesia jelas terlihat juga dalam beberapa kasus. Misalnya pada marak seruan pernikahan dini dan poligami. Ada kelas-kelas pernikahan bersama ustaz selebriti, penawaran paket pesta pernikahan berlabel syar’i sampai seminar-seminar tentang “kiat berpoligami” yang harganya selangit. Ini harus diakui sebagai bagian dari gaya hidup muslim kekinian di Indonesia.

Bahkan dalam realitas hubungan antarpersonal, sesama muslim tak jarang saling menyakiti. Pertanyaan-pertanyaan seputar “kapan menikah” atau “kapan mapan” dalam pertemuan-pertemuan keluarga dan hari besar Islam (Idulfitri) seakan-akan menjadi alat ukur keberhasilan gaya hidup muslim Indonesia kini.

Oleh karenanya, generasi muda muslim Indonesia banyak yang sibuk mengejar standar itu. Pada usia-usia produktif mereka yang seharusnya bisa mengejar generasi muda bangsa lain di bidang ilmu pengetahuan. Generasi muda kita justru terjerembab dalam candu gaya hidup, standar-standar ‘kelayakan’ berdasarkan semboyan “Bergayalah maka kamu ada.” Menjadi budak budaya tontonan (a culture of spectacle) di mana semua orang ingin menonton dan ingin pula ditonton. Galau dengan status “jomblo” yang disandarkan lingkungan padanya padahal itu bukan akhir dari dunia. Semuanya demi status sebagai muslim kekinian.

Belum lagi jika bicara kemanusiaan, masyarakat muslim Indonesia yang terlanjur menilai apa-apa dari kulit dan bukan isi ini kerap berlaku tidak adil. Menggaungkan empati dan penggalangan donasi dari Lembaga Islam bagi korban kemanusiaan ataupun bencana alam dengan populasi mayoritas muslim terdengar dan terlihat santer. Dibandingkan korban bencana alam atau kemanusiaan yang korbannya terdiri dari masyarakat heterogen (tidak hanya muslim).

Baca Juga :  Lima Surah Diakhiri dengan Ayat Anjuran Hamdalah

Penggalangan dana terhadap korban kemanusiaan di Palestina dan Burma dari kelompok-kelompok Islam santer di spanduk-spanduk jalan dan media-media (TV, radio, majalah, dan koran). Namun miskin suara dan gerakan ketika korban kemanusiaan melanda mereka yang populasinya heterogen (tidak hanya muslim) terlebih non-Islam.

Bandingkan euforia gerakan donasi lembaga Islam untuk korban bencana Aceh (kota yang terkenal dengan julukan Serambi Mekkah) yang mayoritas muslim dengan korban bencana atau korban kemanusiaan lain di bumi Indonesia yang masyarakatnya tidak didominasi muslim. Ini merupakan dampak paling buruk dalam sejarah kemanusiaan. Di mana pertolongan hanya akan hadir bagi mereka yang seiman atau yang sesuai dengan golongannya.

Padahal, dalam memberi bantuan, Islam tidak pernah mengajarkan untuk pilih-pilih casing. Apapun latar belakangnya, korban kemanusiaan, fenomena alam dan korban perang sudah wajib diberi pertolongan dan bantuan.

Gaya Hidup Akar Konsumerisme

Konsumerisme masyarakat muslim kekinian terbukti menjadikan sisi-sisi humanitas terberangus. Menjadikan paradoks antara nilai-nilai Islam humanis yang semestinya dianut dengan realita gaya hidup masyarakat Islam Indonesia yang ada.

Tidak hanya sisi humanitas namun juga perilaku konsumerisme yang kerap berulang tiap bulan Ramadan tiba sangat mengganggu substansi ibadah Ramadan yang sebenarnnya. Seorang Sosiolog Universitas Oxford, Walter Armburst (2004) menyimpulkan bahwa bulan Ramadan merupakan momen penting yang dapat dipergunakan untuk beragam tujuan seperti penjualan aneka produk, pengiklanan barang-barang sampai corak pemikiran politik.

Setiap kedatangan bulan Ramadan yang mewajibkan umat Islam berpuasa, konsumsi makanan malah meningkat signifikan. Melihat fenomena ini, K.H. Ali Mustafa Yaqub dalam Islam is Not Only for Muslim menerangkan bahwa perilaku konsumerisme tidak akan bisa meningkatkan jalinan perdamaian antara sesama umat Islam atau setidaknya mengurangi tingkat kesenjangan sosial-ekonomi di kalangan umat Islam.

Baca Juga :  Hikayat Mualaf dari Ciputat

Konsumerisme, lebih lanjut beliau paparkan, adalah oposisi dari ajaran Islam tentang anjuran berbagi kepada sesama. Berpuasa di bulan Ramadan, di mana orang Iman tidak makan, minum dan berhubungan seksual atau berbuat apapun yang melanggar ketentuan berpuasa. Itu semua merupakan simbol penahanan hawa nafsu. Sedangkan konsumerisme, dinilai sebagai hasrat pemuas hawa nafsu. Untuk itu, konsumerisme merupakan hal yang berlawanan dengan Islam khususnya pada ajaran berpuasa itu sendiri.

Kita Harus Bercermin

Masyarakat muslim sepantasnya mengerti fungsi keberadaan mereka di abad 21 ini dengan kembali mengingat misi yang dibawa Rasulullah Saw; sebagai rahmat bagi semesta alam. Bukan sebaliknya, menghamba pada pergolakan gaya hidup sampai lupa pada anjuran Islam untuk berlaku sederhana dan tidak melupakan yang kekurangan.

Gaya hidup, seperti namanya sendiri ‘gaya’ menurut ahli sejarah, Johan Huizinga dalam Homo Ludens terkandung pengakuan tentang adanya suatu unsur permainan tertentu. Artinya, jika dalam gaya itu sendiri terdapat unsur permainan maka unsur-unsur lain yang membentuk gaya hidup pasti menjadi komoditas permainan konsumsi. Termasuk gaya hidup muslim kekinian.

Muslim Indonesia sudah seharusnya memahami makna ini karena Islam telah mengajarkan berbagai ibadah mahdhah yang berusaha menjauhkan sifat-sifat manusianya dari keinginan atau nafsu duniawi. Sebab, seperti yang dikatakan Erving Goffman dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959) kehidupan sosial terdiri dari penampilan teatrikal yang diritualkan (dramaturgical approach).

Yakni, sebuah pemahaman bahwa manusia kini bertindak seakan-akan berada di atas sebuah panggung. Sebabnya, Goffman menjelaskan bahwa seluruh penggunaan ruang, barang, bahasa tubuh, ritual interaksi sosial tampil untuk memfasilitasi kehidupan bersosial. Singkatnya, dunia ini panggung sandiwara. Panggungnya permainan yang tiada pernah habis untuk memuaskan diri di dalamnya.

Jadi, dari pada sibuk meributkan “sudahkah Anda sholat hari ini?” atau, “si A dan B sudah punya rumah dan menikah, kamu kapan?”; ttau ketimbang mati-matian mengejar status muslim kekinian; lebih baik kita bercermin. Pernahkah kita bertanya pada relung jiwa kita yang paling dalam, “Sudahkah kita bermanfaat bagi semesta hari ini?”

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here