Gambaran Interaksi Rasulullah Saw. dengan Warga Non-Muslim Madinah

2
1628

BincangSyariah.Com – Sidang Komisi Bahtsul Masail Maudlu’iyyah, Munas Alim Ulama Nu, para kiai mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir terhadap warga negara non-muslim. Karena dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Tapi meski begitu menurut Abdul Moqsith Ghazali sebagai pemimpin sidang  bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir dalam al-Quran dan hadis.

Pasca beredarnya Usulan tersebut masyarakat sontak ramai membicarakan usulan uang dirasa aneh serta tak seharusnya keluar dari tubuh NU sebagai organisasi terbesar dan berpengaruh di Indonesia pada khususnya dan di dunia pada Umumnya. Mereka beralasan bahwa istilah Kafir bagi Non Muslim sudah tidak bisa ditawar lagi karena sudah jelas-jelas digunakan dalam al-Qur’an dan hadis sebagai bentuk penanda dan pembeda teologis antara muslim dan Non-Muslim.

Maka dari itu kita sebagai masyrakat yang terdidik jangan mudah menvonis NU yang tidak-tidak. Kita harus mencari serta membaca ulang sejarah bagaimana Rasulullah berinteraksi dengan masyrakat non-muslim pada saat berada dimadinah agar tidak memperkeruh suasana serta bisa menilai NU dengan bijaksana.

Dr. Hani Ahmad Faqih salah satu dosen Universitas al-Madinah al-Munawwarah memberikan gambaran sejarah Rasullullah Saw dalam berinteraksi dengan non-muslim Madinah dalam bukunya yang berjudul Khatwaat Fi Fiqh al-Ta’ayusy wa al-Tajdid yang sangat perlu kita ketahui sebagai berikut:

“وأما اليهود فقد كان بإمكانه عليه الصلاة والسلام طردهم من المدينة أو اضطهادهم ، وهو القادر على ذلك لكنه لم يفعل، وإنما حرص منذ قدومه على إقامة علاقة سلم مرنة بينه وبينهم ، فاللهم باحترام، وتواصل معهم، وقبل هداياهم، وكتب بينه وبينهم معاهدة خطية، أشبه ما تكون بالعقد الإجتماعي، أقرهم فيها على دينهم، وأمنهم على أنفسهم وأهليهم وحرمانهم وأموالهم، بشرط ألا يحاربوه ولا يعينوا عليه.”

Baca Juga :  Tiga Alasan Kenapa Umat Islam Harus Bershalawat kepada Rasul

“Rasulullah pada saat di Madinah sekalipun mampu mengusir non muslim yang beragama yahudi dengan kekuasaannya ternyata tidak dilakukan. Justru beliau semenjak baru kedatangannya di Madinah sangat menjaga hubungan baik serta harmonis dengan penduduk non-muslim yang bergama yahudi. Mereka sangat dimuliakan oleh Rasul, berinteraksi layaknya orang islam. Beliu Menerima pemberian mereka. Beliau Meyepakti kontrak sosial dengan mereka dengan mengakui agamanya dan menjaga keamanan diri, keluarga serta harta mereka dengan syarat mereka tidak memerangi orang islam dan membuat kegaduhan di negara Madinah.”

Lebih lanjut beliau menyebutkan setidaknya piagam Madinah yang ditulis oleh Rasulullah saw pada saat hijrah ke Madinah setelah mendapat perintah dari Allah swt mengandung tiga prinsip utama dalam berinteraksi dengan non-muslim sebagai berikut:

Pertama, menjaga Keadilan Sosial bagi seluruh masyrakat

Negara dalam islam tidak boleh semena-mena. Ia harus memiliki prinsip keadilan sosial sebagai landasan pembangunannya. Denagan demikian hak asasi manusi harus terjamin tanpa pandang bulu. Ia harus melihat praktek keadilan pada seluruh lapisan masyrakkat bukan melihat perbedaan ras, agama, keyakinan dan sukunya sehingga bisa berat sebelah.

Kedua, menjunjung Tinggi Perdamaian

Islam sekalipun dimasa awal sejarah penyebarannya bersinggungan dengan peperangan bukan berarti ia menghilangkan prinsip perdamaian dan keamanan sehingga dappat dikatakan sebagai agama peperangan. Peperangan dilakukan hanya untuk melindungi dari serangan musuh bukan malah mengawalinya. Terbukti dalam piagam madinah perinsip ini sangat dijugjung tinggi dan ditekankan. Jadi, islam sangat tidak menghendaki kegaduhan apalagi peperangan dalam menata negara Cuma gara-gara perbedaan keyakinan dan agama.

Ketiga, negara Harus Menjadi tempat berlindung dari segala ancaman

Negara menurut Islam harus bisa memberikan perlindungan yang maksimal terhadap semua masyrakat dan warganya tanpa diskrinasi dan membedakan antara yang satu dengan yang lainnya, baik yang satu agama ataupun berlainan keyakinanannya.  Sehingga keutuhan negara tetap terjaga dan berjalan dengan maksimal.

Baca Juga :  Pesan Damai dari Mekkah

Kesimpulannya, penjelasan Dr. Hani Ahmad Faqih dalam teks diatas dapat mencerahkan kita untuk memandang baik usulan Munas Alim Ulama NU terkait penghapusan sebutan kafir bagi non muslim yang berada ditengah-tengah kita yang juga sama-sama membesarkan serta merawat tanah air kita, indonesia raya. Karena kenyataannya, Rasulullah dalam berinteraksi dengan penduduk non muslim Madinah sangat baik dengan menjaga keharmosisan serta tidak menyakitinya dengan tindakan apapun baik berupa perkataan dan sebutan kafir ataupun hal-hal lainnya. Non muslim ditanah air selama ini sangat bersahabat dengan kita sehingga sangatlah tidak etis dan tidak beradab jka mereka disebut sebagai kafir yang dapat berkonotasi pada kekerasan teologis. Wallahu A’lam

2 KOMENTAR

  1. Sebutan Kafir memang berimplikasi pada pemahaman yang akan melegalkan kekerasan
    Artikel yang sangat baik sebagai tambahan ilmu agar lebik bijak menanggapi hasil munas NU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here