Fungsi As-Sunnah Terhadap Al-Qur’an

0
30

BincangSyariah.Com – As-Sunnah adalah segala ucapan, perbuatan, dan pengakuan (taqrir) yang timbul dari nabi. Ia merupakan salah satu sumber hukum. Seorang mujtahid dalam setiap proses ijtihadnya pasti merujuk kepada al-Qur’an kemudian as-Sunnah. Hal ini menunjukkan bahwa as-Sunnah merupakan sumber kedua setelah al-Qur’an dalam proses istinbath ahkam (penggalian hukum).Di sini, as-Sunnah memiliki relevansi yang erat dengan al-Qur’an. Dalam kitab Ushul Fiqh Abdul Wahab Khallaf, dijelaskan bahwa fungsi as-Sunnah terhadap al-Qur’an dari aspek hukum yang timbul darinya itu ada tiga fungsi.

Pertama, fungsi as-Sunnah sebagai sumber yang menetapkan (muqarrirah) dan menguatkan (muakkidah) terhadap hukum-hukum dalam al-Qur’an. Karenanya, hukum itu memiliki dua sumber: al-Qur’an dan as-Sunnah. Seperti anjuran bagi suami untuk berbuat baik terhadap istrinya. Hal ini merujuk pada riwayat Amr bin Ahwash dari ayahnya, pada saat haji wada’, nabi bersabda dalam khutbahnya:

…أَلَا وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ

…“Ingatlah! Hak mereka (para istri) atas kalian (para suami) adalah agar kalian berperilaku baik kepada mereka dalam menafkahinya (memberi pakaian dan makanan)”. (HR. Ibnu Majah).

Di samping itu, anjuran berbuat baik terhadap istri juga telah dijelaskan dalam al-Qur’an, yaitu terdapat dalam surah an-Nisa’ ayat 19:

…وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ…الآية

…“Pergaulilah mereka (para istri) dengan baik” (QS. An-Nisa’ [4]: 19).

Dengan demikian, as-Sunnah yang berbentuk ucapan dari nabi itu mendukung atau menguatkan ketetapan yang telah tertera dalam al-Qur’an.

Kedua, fungsi as-Sunnah sebagai sumber yang merinci (mufassilah) dan menjelaskan (mufassirah) hukum dalam al-Qur’an yang bersifat global. Seperti hadis nabi:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah kalian sebagaimana aku shalat”. (HR. Al-Bukhari). (Baca: Dalil Shalat Lima Waktu dalam Al-Qur’an dan Hadis)

Baca Juga :  Sa'id bin Musayyib: Ahli Ibadah yang Tidak Gelap Harta dan Jabatan

Hadis ini dan hadis-hadis yang menunjukkan tata cara shalat nabi berfungsi untuk menjelaskan dan merinci perintah shalat yang masih bersifat global sebagaiamana dalam ayat:

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ … الآية

“Dan laksanakanlah shalat”…. (QS. Al-Baqarah [2]: 45).

Ayat ini masih bersifat global. Artinya, ayat ini hanya menjelaskan perintah shalat tetapi tidak menjelaskan bagaimana tata cara shalat itu dilaksanakan. Di sinilah hadis-hadis yang menunjukkan tata cara pelaksanaan shalat nabi berfungsi menjelaskan al-Qur’an yang masih global tersebut.

Ketiga, funsgi as-Sunnah sebagai sumber yang menetapkan (musbitah) dan memunculkan (munsyi’ah) hukum yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an. Dengan demikian, hukum itu ditetapkan berdasarkan as-Sunnah dan tidak ada nash al-Qur’an yang menjelaskannya. Seperti larangan seorang laki-laki memakai perhiasan emas dan kain sutera. Diriwayatkan dari Ibnu Zurair bahwa ia mendengar Ali bin Abi Thalib berkata:

إِنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ، وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ» ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي»

“Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw. mengambil sutera dan meletakkan di tangan kanannya dan mengambil emas dan meletakkan di tangan kirinya. Kemudian beliau bersabda: sesungguhnya dua benda ini haram atas kalangan laki-laki dari umatku”. (HR. An-Nasa’i).

Dalam al-Qur’an, tidak ditemukan ayat yang menjelaskan keharaman seorang laki-laki memakai perhiasan emas dan kain sutera. Di sinilah hadis di atas berfungsi untuk menjelaskan hukum yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kedua sumber hukum ini saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Oleh karenanya, sudah selayaknya seorang pakar hukum Islam mahir dalam kedua sumber hukum tersebut.

Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here