Fudhail bin Iyadh dan Si Yahudi yang Menguji Tobatnya

0
1370

BincangSyariah – Disebutkan dalam kitab Hilyah Al-Awliya wa Thabaqat Al-Asyfiya karya Abu Nu’aim Al-Ishfahaniy (w. 430 H), Fudhail memiliki nama lengkap Fudhail bin Iyadh bin Mas’ud bin Bisyr Al-Tamimiy Al-Yarbu’iy. Ia lahir pada tahun 105 H di Samarkand, sebuah daerah di Uzbekistan.

Fudhail bin Iyadh dikenal sebagai sosok zahid yang terpercaya, tekun dalam hal beribadah, ahli Hadist, dan termasuk dalam golongan Atba’ Al-Tabi’in, generasi yang hidup setelah tabi’in.

Seperti halnya yang telah dituliskan dalam artikel sebelumnya, Fudhail bin Iyadh dahulu merupakan seorang penyamun, seorang pemimpin dari kalangan rampok, pencuri, dan juga pembunuh yang telah bertobat. (Baca: Fudhail bin Iyadh dan Pentingnya Selalu Berharap pada Allah)

Selain terkenal sebagai seorang penyamun, Fudhail bin Iyadh juga terkenal sebagai sosok yang ksatri dan berhati mulia. Ia tidak akan merampas harta benda dari golongan wanita dan juga orang-orang miskin. Dan untuk setiap korban yang telah ia rampok, Fudhail bin Iyadh selalu meninggalkan sebagian harta benda yang telah ia rampok tersebut.

Suatu saat setelah Fudhail bin Iyadh bertobat, ia mendatangi teman-temannya yang sekaligus anak buahnya tersebut. Kedatangan Fudhail bin Iyadh ini memiliki maksud untuk menghapuskan janji-janji yang telah disepakatinya dahulu, yakni menyangkut perkerjaannya dalam hal rampok.

Seluruh anak buah Fudhail bin Iyadh menyetujui penghapusan tersebut, kecuali satu. Ia merupakan seorang perampok Yahudi yang berasal dari Abiward.

Sekarang kita bisa dengan mudah mengejek pengikut Muhammad”, bisik si Yahudi kepada temannya sembari menahan tawa.

Wahai Fudhail, baiklah, aku bersedia menghapuskan janji setia di antara kita. Namun ada syaratnya. Kamu harus meratakan bukit itu”, lanjut si Yahudi menunjuk sebuah bukit berpasir.

Baca Juga :  Ini Teks Khutbah Nabi Menyambut Bulan Suci Ramadan

Bukit itu tidak mungkin dapat ku ratakan oleh manusia kecuali dengan waktu yang sangat lama”, gumam Fudhail bin Iyadh dalam hati.

Namun demikian, demi menghapuskan perjanjian itu, Fudhail bin Iyadh kemudian menyetujui permintaan anak buahnya tersebut. Hingga berhari-hari Fudhail bin Iyadh belum juga mampu untuk meratakannya.

Pada suatu pagi, ketika Fudhail bin Iyadh yang telah lelah mencangkul bukit tersebut, datang sebuah badai angin yang dengan sekejab dapat meratakan bukit tersebut. Si Yahudi yang melihat kejadian tersebut panik bukan main seraya berkata, “Sesungguhnya aku telah bersumpah tidak akan pernah menghapuskan perjanjian itu kecuali engkau dapat memberikan kepada uang”.

Masuklah ke dalam rumahku dan ambillah segenggam uang yang berada di bawah permadaniku. Dengan begitu, aku akan menghapuskan seluruh perjanjian tersebut”, lanjut si Yahudi.

Demi menghapuskan perjanjian tersebut, Fudhail bin Iyadh kembali menuruti permintaan si Yahudi tersebut. Dengan langkah yang sedikit tidak seimbang akibat kelelahan, Fudhail bin Iyadh berjalan dan memasuki rumah si Yahudi.

Si Yahudi hanya bisa menahan tawa ketika melihat Fudhail bin Iyadh, yang notabene dahulu adalah pemimpinnya mau menuruti segala perintahnya.

Dasar Fudhail, tidak akan engkau jumpai uang di sana, sebab aku telah memasukkan ke dalam permadani ku segumpalan tanah”, gumam si Yahudi dalam hati.

Tatkala Fudhail bin Iyadh mulai memasukkan tangannya ke dalam permadani tersebut, tanpa disangka yang diperoleh Fudhail bin Iyadh adalah segenggam uang emas sesuai dengan permintaan si Yahudi.

Dengan uang emas yang ku serahkan ini, sudah berarti menghapuskan perjanjian tersebut”, kata Fudhail bin Iyadh.

Melihat hal tersebut, si Yahudi hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka, keajaiban kembali mendatangi Fudhail bin Iyadh. Dengan sedikit terbata-bata, si Yahudi berkata, “Islam-kanlah aku, wahai Fudhail bin Iyadh”.

Baca Juga :  Tiga Macam Orang dalam Bermusyawarah

Dengan penuh kegembiraan, Fudhail bin Iyadh kemudian menuntun si Yahudi untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.

Melalui kisah tersebut kita sama-sama belajar bahwa akhlaq dan perilaku yang baik merupakan hal yang paling utama dalam ajaran agama Islam. Mari menjadi muslim yang ramah, bukan yang marah.

Wallahu’alam..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here