Fudhail bin ‘Iyadh: Ahli Hadis yang Pernah Rasakan Mabuk Cinta

1
370

BincangSyariah.Com – Di antara ahli hadis yang fenomenal adalah Fudhail ibn ‘Iyadh (107 – 187 H). Di masanya, beliau merupakan ikon dalam hal warak, zuhud, dan ibadah, di samping sebagai sosok yang luas ilmunya dan banyak penguasaan hadisnya.

Tak tanggung-tanggung, seorang Abdullah Ibnu Al-Mubarak, yang merupakan Imam Sunnah semasa dengan Fudhail, sampai-sampai mengatakan:
“Tak ada satu orang pun di muka bumi saat ini, menurutku, yang lebih afdhal (lebih hebat) dari Al-Fudhail Ibn ‘Iyādh”.

Ternyata, di balik harumnya nama Fudhail tersimpan masa lalu yang kelam. Ya…benar-benar kelam. Mungkin, orang yang hidup dan menyaksikan saat masa lalunya itu sedang ia lakoni, tak seorang pun terfikir bahwa anak muda yang “kurang ajar” ini kelak menjadi sosok panutan dan dikenang sepanjang zaman.

Bagaimana tidak dikatakan kelam, Fudhail muda adalah seorang tukang begal, dalam istilah fikihnya “qāthi’ al-tharīq” (pemutus jalan). Kekuatan fisiknya ia gunakan untuk merampas hak-hak orang, menghadirkan rasa takut pada banyak orang.
Kisah-kisah Fudhail ini diabadikan oleh banyak ahli sejarah, seperti Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lāmin Nubalā`. Kisahnya menjadi lambang hijrahnya seorang penjahat.

Syaikh Ramadhan Al-Buthi, karena kekaguman beliau kepada sosok Fudhail, mendorongnya untuk menamai bayinya dengan nama Fudhail Ibn Ramadhan Al-Buthi, dengan penuh harapan, semoga sisi-sisi baik Fuhdail pun kelak didapati oleh bayinya ini.
Namun, di saat Syaikh Ramadhan membawa bayinya tersebut kepada seorang syaikh bernama Sa’id, Syaikh Sa’id ini pun menamakan bayi yang sudah dinamai ini dengan nama Sa’id.

Maka, bayi kecil inipun jadi memiliki dua nama: Fudhail dan Sa’id. Namun, nama yang kemudian dicatat dalam pencatatan sipil adalah Sa’id. Sosok bayi ini tumbuh besar menjadi orang hebat dan saleh, panutan umat Islam di dunia, dengan kehebatan ilmu dan akhlaknya, ialah Syaikh Dr. M Sa’id Ramadhan Al-Buthi (2013 M).

Baca Juga :  Sejarah Penghancuran Masjid al-Aqsha oleh Nebukadnezar dan Kaisar Titus

Syaikh M Sa’id Al-Buthi, dalam bukunya “Pribadi-pribadi yang Membuatku Tertegun”, menceritakan enam orang tokoh, diawali dengan kisah Fudhail. Jadi bagaimana kisah hijrahnya Fudhail? Masa mudanya, ia habiskan sebagai jagoan yang merampas harta orang di jalanan, membegal kafilah dagang di suatu tempat dekat kota Marwa, di Persia, Iran sekarang.

Dalam hanyutnya dia dengan hidup sebagai penjahat, ia berjumpa dengan seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta dan merasa terpikat. Setiap ada kesempatan untuk melihat gadis itu, ia selalu ambil kesempatan. Lama-lama hati dan pikirannya semakin dipenuhi dengan rasa cinta pada sosok wanita itu, hingga perlahan kesibukannya untuk berbuat jahat semakin tersingkirkan oleh sibuknya dalam merasakan cinta.

Cinta dan rindunya semakin membuncah, pikirannya selalu tergantung pada sosok wanita itu, seiring dengan itu, gejolak api kebuasan dan kejahatannya semakin meredup, hingga yang dipikirkannya hanya ingin menemui gadis pujaannya.

Pada suatu malam, di saat yang kira-kiranya tepat, saat orang-orang terlelap, ia tak lagi memikirkan bagaimana cara bisa merampok, tetapi ia berfikir bagaimana cara bertemu si gadis untuk meredam rasa rindunya.

Lantas di gelap malam itu ia berjalan menuju rumah si gadis. Yang ia bayangkan hanyalah ia akan berdiri di dekat orang yang ia cintai. Ia kemudian menaiki pagar. Di saat ia akan melompat dari pagar itu, ia berhenti sejenak mengintai sumber suara, untuk memastikan bahwa ini adalah waktu yang tepat, lantas ia mendengar suara orang membaca Alquran, surat Al-Hadid ayat 16:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ …

Baca Juga :  Para Tokoh Bangsa dan Pengalaman Pindah Agama

Artinya: Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras.

Hati Fudhail yang saat itu sedang lepas dari cengkeraman kebuasan dan keganasan jiwanya, yang sedang terbuka dari penutup yang membuat hatinya keras, bacaan ayat itu (yang ia memahami maknanya) menggoncang ke dalam relung kalbunya, sehingga membuatnya tersadar.

Seketika jiwanya bergetar. Di atas pagar itu ia berteriak-teriak histeris seraya mengatakan “Iya, Wahai Rabb…! Sudah datang waktunya”.
Ia pun terjatuh dari pagar itu.

Inilah titik hijrahnya Fudhail, kemudian ia bertobat, dan memulai hidup baru dengan hati yang baru, kemudian ia rihlah, pergi ke Makkah, dan dalam perjalan ke Makkah ia bermukim dulu di Kuffah. Hingga kemudian menjadi sosok panutan.

Terkait hubungan antara jatuh cintanya Fudhail dengan pertobatannya, Syaikh Al-Buthi dalam bukunya Syakshiyāt Istauqafatnī menyatakan bahwa apabila gejolak kebodohan dan kekejaman jiwa seseorang telah tenang, maka emosional yang tulus akan tumbuh dari relung hatinya, dan itu adalah langkah awalnya menuju Allah, apapun halnya yang membuat rasa emosionalnya itu terbangun. Sebab, jalan cinta itu hanya satu. Apapun yang halnya yang dicintai, jika tidak berhenti di situ, dan terus berjalan, ia akan temukan cinta hakikinya, yaitu Allah.

Kisah ini dijadikan pelajaran betapa luas rahmat Allah. Jangan berputus asa. Jangan pesimis untuk berubah, dan jangan pernah merasa bahwa penjahat hari ini akan menjadi penjahat selamanya.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here