Filsafat Politik Al-Kindi

0
60

BincangSyariah.Com – Dalam literatur fiilsafat Islam klasik, ada pemikiran dari Abu Yusuf Ya’qub ibn Ishaq al-Kindi atau biasa disebut sebagai al-Kindi saja, tentang politik.

Al-Kindi memang tidak menjelaskan secara langsung bagaimana suatu negara seharusnya dibentuk seperti pemikiran Ibnu Abi Rabi, al-Farabi, al-Mawardi, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun. Tapi, yang menarik dari filsafat politik al-Kindi adalah pemikirannya yang berfokus pada etika dan moral seseorang untuk mencapai kebahagiaan.

Dalam tulisan berjudul Membangun Kerangka Keilmuan IAIN Perspektif karya Mulyadhi Kartanegara, dijelaskan bahwa Al-Kindi mencoba menghadirkan kebahagiaan kepada orang lain dalam konteks negara adalah masyarakat dan mencegah kesedihan. Menurut al-Kindi, kesedihan adalah penyakit jiwa yang menghalangi manusia mencapai kebahagiaan.

Al-Kindi adalah filsuf pertama yang menggagas tentang politik. Politik al-Kindi tidak fokus pada pembentukan suatu negara atau kota yang ideal atau makmur. Al-Kindi lebih banyak menelurkan pemikiran pada masalah jiwa, etika, dan moral juga kebahagiaan. Menurut al-Kindi, kebahagiaan adalah tujuan akhir manusia di dunia.

Tujuan akhir manusia bagi al-Kindi bukan memperkaya diri, tapi mencari kebijaksanaan, kedamaian, dan ketenangan. Jika hanya mencari kekayaan, maka kehidupan akan membawa manusia pada kesengsaraan dan kesusahan.

Manusia yang bijaksana menurut al-Kindi akan selalu mengejar keadilan untuk keseimbangan hatinya untuk menahan dan mengontrol hasrat serta hawa nafsu. Kontrol itulah yang nantinya akan membawa pada kesedihan tak berkesudahan.

Apa yang dimaksud politik menurut al-Kindi adalah konsep kebahagiaan. Karena berangkat dari pemikiran tentang kebahagiaan, maka hakikat politik bagi al-Kindi adalah menghadirkan kebahagiaan kepada orang lain. Dalam konteks negara bisa diartikan sebagai usaha pemimpin dalam menghadirkan kebahagiaan untuk rakyatnya.

Kebahagiaan rakyat bisa disamakan dengan kesejahteraan dan rasa aman. Politik bukanlah suatu usaha untuk memperebutkan tahta dan jabatan serta pengakuan. Selain itu, Al-Kindi memandang keadilan sebagai keseimbangan. Baginya, kekuatan terbesar manusia adalah kekuatan jiwanya, yakni saat manusia mampu mengekang hasrat hawa nafsu dan kemarahannya.

Baca Juga :  Tiga Objek dalam Filsafat Islam yang Harus Kamu Tahu

Jika dikontekstualisasikan dengan kondisi negara Indonesia saat ini, konsep politik al-Kindi sangat bisa dipraktikkan meskipun terkesan utopis. Masalah Indonesia seperti kemiskinan dan tindakan kriminal yang merajalela adalah cerminan negara yang tidak bahagia. Rakyat sama sekali belum bahagia atau sejahtera.

Maka dari itu, para elit pemerintahan sebaiknya kembali kepada hakikat politik. Dalam filsafat politik al-Kindi, pemimpin mestinya menghadirkan kebahagiaan, bukan saling rebut kekuasaan dan jabatan serta saling menjatuhkan satu sama lainya. Sebab, tujuan akhir politik pada hakikatnya adalah menyejahterakan dan menenteramkan kehidupan rakyatnya.

Pada sisi yang lain, ajaran-ajaran etika dan moral yang dikemukakan al-Kindi bisa menjadi pemelihara dan pengobat ruhani jiwa-jiwa manusia yang sakit. Anjurannya untuk menemukan kembali esensi manusia sebagai makhluk susila bisa membantu manusia menemukan kembali kebahagiaan hakiki yang telah hilang.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here