Mengenal Lebih Dekat Mazhab Fikih Syiah Menurut Syekh Wahbah az-Zuhaili

1
795

BincangSyariah.Com – Syekh Wahbah az-Zuhaili (ulama Sunni terkemuka yang menulis kitab al-Fiqh al-Islamiyy wa Adillatuh, 8 Jilid; Ushul al-Fiqh al-Islami, 2 Jilid; dan at-Tafsir al-Munir, 16 Jilid) menjelaskan delapan mazhab fikih terkemuka dalam Islam di pengantar kitab al-Fiqh al-Islamiyy wa Adillatuh (Dar al-Fikr, 1985, I: 28-46 ).

Tujuh di antaranya masih eksis dan berkembang hingga sekarang, baik dari kalangan mazhab Sunni, Syiah, maupun Khawarij moderat. Sementara satu mazhab lainnya sudah punah, yaitu mazhab azh-Zhahiri (pendirinya adalah Imam Dawud azh-Zhahiri, 202-270 H.). (Baca: Muslim Syiah Hari Ini Menurut Ulama Sunni Kontemporer)

Mazhab fikih Sunni terdiri: Hanafi (pendirinya adalah Imam Abu Hanifah, 80-150 H.), Maliki (pendirinya adalah Imam Malik bin Anas, 93-179 H.), asy-Syafi‘i (pendirinya adalah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi‘i, 150-204 H.), dan Hanbali (pendirinya adalah Imam Ahmad bin Hanbal, 164-241 H.).

Sementara mazhab fikih Syiah terdiri: Zaidiyyah (pendirinya adalah Imam Zaid bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husain, w. 122 H.) dan Imamiyyah (pendirinya adalah Imam Abu Ja‘far Muhammad bin al-Hasan bin Farrukh ash-Shaffar al-A‘raj al-Qummi, w. 290 H.). Adapun mazhab fikih Khawarij moderat adalah Ibadhiyyah (pendirinya adalah Imam ‘Abdullah bin Ibadh at-Tamimi, w. 80 H.).

Dalam hal mazhab Syiah Zaidiyyah, Syekh Wahbah menjelaskan bahwa Imam Zaid lebih mengunggulkan Imam ‘Ali al-Murtadha atas para sahabat Rasulullah saw. yang lain. Namun, Imam Zaid tetap mengakui keabsahan pemerintahan Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq dan Sayyidina Umar al-Faruq.

Bahkan beliau tidak membenarkan para pengikutnya yang menghina kedua sahabat dan khalifah tersebut. Selain itu, beliau membolehkan seorang Muslim memisahkan diri dari penguasa yang zalim (hlm. 43).

Mazhab Syiah Zaidiyyah mengakui keimaman Imam Zaid yang menggantikan ayahnya, Imam Abu Muhammad ‘Ali bin al-Husain Zainal ‘Abidin. Meskipun mereka (kalangan Syiah Zaidiyyah) tidak mengikuti pendapat Imam Zaid dalam masalah fikih furu‘iyyah (cabang). Berbeda dengan kalangan mazhab Hanafi dan mazhab asy-Syafi‘i yang mengikuti para imamnya meskipun dalam masalah fikih furu‘iyyah (hlm. 42-44).

Baca Juga :  Hanasy As-Shanani; Insinyur Sejumlah Masjid di Spanyol

Adapun dasar istinbath hukum mazhab Syiah Zaidiyyah adalah: al-Qur’an, hadis, ijtihad dengan akal, qiyas, istihsan, mashlahah mursalah, dan istishhab. Sementara dalam hal akidah mengikuti mazhab teologi Mu‘tazilah. Menurut Syekh Wahbah, Zaidiyyah merupakan mazhab fikih Syiah yang paling dekat dengan mazhab fikih Sunni. Sehingga perbedaan fikih mereka dengan fikih mazhab Sunni tidaklah banyak (hlm. 43).

Beberapa perbedaan tersebut adalah: kalangan Syiah Zaidiyyah meniadakan (tidak mensyariatkan) mengusap dua sepatu ketika berwudu; mengharamkan memakan sembelihan non Muslim; mengharamkan menikahi ahl al-kitab (seperti Yahudi dan Nasrani); mengharamkan nikah mut‘ah; menambahkan kalimat “hayya ‘ala khair al-‘amal (mari menuju amalan terbaik)” ketika azan; dan bertakbir lima kali ketika salat jenazah. Mazhab Syiah Zaidiyyah berkembang dan bahkan menjadi salah satu mazhab resmi negara di Yaman sampai sekarang (hlm. 43).

Sedangkan mazhab Syiah Imamiyyah masih eksis sampai sekarang dan banyak berkembang di Irak dan Iran. Ia memiliki empat kitab dasar, yaitu: al-Halal wa al-Haram (karya Imam Musa al-Kazhim, w. 183 H.), Fiqh ar-Ridha (karya Imam ‘Ali ar-Ridha), Basya’ir ad-Darajat fi ‘Ulum Ali Muhammad wa Ma Khashshahumullah Bihi (karya Imam Abu Ja‘far Muhammad al-Hasan bin Farrukh), dan al-Kafi fi ‘Ilm ad-Din yang memuat 16099 hadis dari jalur ahlulbait (karya Syaikh asy-Syi‘ah Imam Muhammad bin Ya‘qub bin Ishaq al-Kulaini ar-Razi, w. 328 H.).

Jumlah hadis yang terdapat dalam kitab al-Kafi tersebut (16099 hadis) melebihi jumlah keseluruhan hadis yang terkandung dalam al-kutub as-sittah (kitab hadis yang enam), yaitu: Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, dan Sunan an-Nasa’i.

Mazhab Syiah Imamiyyah meyakini dua belas Imam ahlulbait yang kesemuanya terpelihara dari dosa dan kesalahan (maksum) (hlm. 44). Kedua belas Imam tersebut adalah: (1) Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Abi Thalib al-Murtadha (23 SH.-40 H.); (2) Imam Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali az-Zaki (2 H.-50 H.); (3) Imam Abu ‘Abdillah al-Husain bin ‘Ali asy-Syahid (3 H.-61 H.); (4) Imam Abu Muhammad ‘Ali bin al-Husain Zainal ‘Abidin (38 H.-95 H.); (5) Imam Abu Ja‘far Muhammad bin ‘Ali al-Baqir (57 H.-114 H.); (6) Imam Abu ‘Abdillah Ja‘far bin Muhammad ash-Shadiq (83 H.-148 H.); (7) Imam Abu Ibrahim Musa bin Ja‘far al-Kazhim (128 H.-183 H.);

Baca Juga :  Syaikh Abdul Halim Mahmud: Ulama Sufi dan Tokoh Pelopor Perdamaian Dunia

(8) Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Musa ar-Ridha (148 H.-203 H.); (9) Imam Abu Ja‘far Muhammad bin ‘Ali al-Jawad (195 H.-220 H.); (10) Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Hadi (212 H.-254 H.); (11) Imam Abu Muhammad al-Hasan bin ‘Ali al-‘Askari (232 H.-260 H.); dan (12) Imam Abu al-Qasim Muhammad bin al-Hasan al-Mahdi (255 H./256 H.-sekarang) (Nashir al-Qifari, Ushul Madzhab asy-Syi‘ah al-Imamiyyah al-Itsna ‘Asyariyyah, 1994, I: 105).

Kalangan Syiah Imamiyyah meyakini Imam al-Mahdi masih hidup sampai sekarang meskipun tidak kasat mata (gaib). Beliau akan muncul kelak atas kehendak Allah untuk memimpin dunia dengan keadilan (al-Fiqh al-Islamiyy, hlm. 44).

Adapun dasar istinbath hukum mazhab Syiah Imamiyyah adalah al-Qur’an dan hadis yang diriwayatkan oleh para imam ahlulbait. Oleh karena itu, kaum Muslim Syiah Imamiyyah selama-lamanya hanya mengikuti para imam mereka dalam masalah hukum Islam. Di sisi lain, kalangan mazhab Syiah Imamiyyah menolak qiyas dan ijmak dan meyakini bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka (hlm. 44).

Menurut Syekh Wahbah, sejatinya perbedaan mazhab Syiah Imamiyyah dengan mazhab Sunni tidak berkaitan dengan masalah akidah (iman) ataupun fikih, tetapi berkaitan dengan urusan politik-pemerintahan.

Oleh karena itu, fikih Syiah Imamiyyah sebenarnya lebih dekat dengan fikih mazhab asy-Syafi‘i. Namun demikian, masih terdapat beberapa perbedaan antara fikih Syiah Imamiyyah dengan fikih mazhab Sunni. Meskipun perbedaan fikih antara Syiah Imamiyyah dengan mazhab Sunni tersebut tidak melebihi perbedaan fikih antara mazhab Hanafi dengan mazhab asy-Syafi‘i (hlm. 45).

Perbedaan fikih antara Syiah Imamiyyah dengan mazhab Sunni hanya berkisar (kurang-lebih) dalam 17 masalah, di mana perbedaan yang paling utama adalah mengenai nikah mut‘ah/mu’aqqat.

Beberapa perbedaan utama fikih tersebut adalah: mazhab Syiah Imamiyyah memperbolehkan nikah mut‘ah; mewajibkan adanya saksi dalam talak; mengharamkan memakan sembelihan ahl al-kitab (seperti Yahudi dan Nasrani).

Baca Juga :  Tafsir Surah an-Nisa Ayat 19; Sejarah Kelam Kaum Perempuan Sebelum Islam Datang

Selain itu, mazhab Syiah Imamiyyah mengharamkan menikahi orang Yahudi dan Nasrani; lebih mengutamakan anak paman kandung (sepupu) daripada paman seayah dalam hal warisan; meniadakan (tidak mensyariatkan) mengusap kedua sepatu ketika berwudu; mengusap kedua kaki ketika berwudu; dan menambahkan kalimat “asyhadu anna ‘aliyyan waliyullah (aku bersaksi bahwa sesungguhnya Ali adalah wali Allah)” dalam azan dan syahadat (hlm. 45). Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here