Fenomena Perilaku Konsumtif di Bulan Ramadan

0
125

BIncangSyariah.Com – Puasa merupakan ibadah yang sirr (samar), suatu ibadah yang hanya Allah dan orang yang berpuasa yang mengetahui. Sehingga pantas saja Allah mendedikasikan pahalanya menurut kehendakNya tanpa menentukan bentuk pahala yang terukur. Sebuah hadis agung yang diriwayatkan langsung oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam dari Rabb-nya, bahwa Dia berfirman:

كل عمل ابن آدم له إلا الصوم فإنه لي وأنا أجزي به

“Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung ”. (HR Bukhari).

Pada hakekatnya puasa adalah sebuah evaluasi diri agar kita mampu mengontrol hawa nafsu. Manusia yang diberikan anugerah akal, hati dan nafsu bisa memilih kebebasan dalam menentukan nasib dirinya sendiri. Maka pada bulan Ramadhan inilah kita berpuasa agar segala keinginan nafsu  yang liar bisa kita kontrol, bahkan untuk hal sebelumnya adalah mubah seperti makan dan minum.

Namun ada paradoks yang timbul ketika kita memasuki bulan Ramadhan. Bulan puasa di mana kita tidak diperbolehkan makan dan minum pada siang hari. Akan tetapi menjadikan tingkat konsumsi kita menjadi melonjak. Berbagai data menunjukan bahwa tingkat permintaan akan barang-barang kebutuhan menjadi meningkat sepuluh sampai duapuluh persen seiring masuknya bulan Ramadhan. Fenomena ini setidaknya dilatarbelakangi dua hal.

Pertama, Islam masih dipahami secara fikih oriented. Paradigma ini memandang ibadah hanya secara hitam-putih, halal-haram. “Jebakan-jebakan” fikih yang parsial, telah mendarah daging dan menjadi tradisi yang masif dilakukan kalangan umat beragama.
Menurut Umar Shihab, Fikih belum mampu membangkitkan spiritual umat menghadapi kondisi ril masyarakat yang tengah dilanda demoralisasi individual dan sosial. Maka tak salah kalau puasa hanya dilihat sekedar memenuhi perintah syariat belaka.

Baca Juga :  Halal Bi Halal : Antara Tradisi dan Syariat

Puasa yang berdasarkan pemahaman agama yang fikih oriented ini, seakan belum menyentuh dimensi kemanusiaan. Padahal dalam al-Qur’an dindikasikan bahwa puasa adalah untuk memantapkan ketakwaan. Yang mana ketakwaan merupakan something spiritual yang akan membentuk pribadi manusia yang total dan integral. Karena dalam diri orang yang bertakwa, tak akan muncul krisis percaya diri dan moral.

Kedua, Ramadhan telah dijadikan komoditas yang kapitalistik. Di era modern, ramadhan menjadi lahan kaum kapitalis mengeruk untung lebih. Seperti yang digaungkan Alex Inkeles bahwa kapitalis di era modern bercita-cita menjadikan masyarakat yang konsumeris. Franz Magnis Suseno juga berujar bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang bergantung pada produk industri. Teori lima tahap pembangunan yang digagas oleh W. W Rostow pun berpuncak pada zaman konsumsi masal yang tinggi.
Berbagai industri, media massa, khususnya stasiun televisi, berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk menayangkan program-program dakwah. Semua artis manggung di TV dengan pakaian islami, namun tak sadar kita disuguhi iklan-iklan yang menyuntik mindset kita.

Fenomena tersebut mengajak kita untuk kembali menggali nilai-nilai qur’ani lebih dalam lagi. Bahwa selain menahan haus dan lapar, kita juga perlu menahan untuk belanja yang tidak dibutuhkan, walau diskon gede-gedean melanda dimana-mana. Allah mengingatkan bahwa yang seperti itu adalah pemborosan. Dalam QS Al-‘Isra ayat 26-27 dijelaskan:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا-إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here