Fatimah al-Banjari: Perempuan Penulis Fikih asal Banjar yang Hampir Terlupakan

0
1042

BincangSyariah.Com – Fatimah al-Banjari bisa dikatakan sebagai perempuan pertama yang menulis karya fikih. Namun, dalam karyanya sendiri justru yang ditulis sebagai pengarang dalam pamannya, yang juga dikenal masyhur sebagai ulama.

Fatimah al-Banjari adalah cucu dari Muhammad Arsyad al-Banjari, ulama besar asal Banjar, Kalimantan Selatan. Ayah Fatimah, Abdul Wahab Bugis bersahabat dengan Muhammad Arsyad al-Banjari saat belajar di Mekkah. Perlu dicatat, Muhammad Arsyad al-Banjari selama di Mekkah juga bersahabat dengan Syaikh Abdus Shamad al-Falimbani dan Syaikh Abdurrahman al-Mishri (mertua dari Sayyid Utsman bin Yahya, Mufti Betawi di Zaman Kolonial Belanda).

Ibu Fatimah, Syarifah (anak pertama Arsyad), dilahirkan di kota Martapura sesaat setelah Arsyad berangkat ke Mekkah untuk belajar kembali ke Mekkah. Ketika Arsyad mendengar kabar bahw Syarifah telah memasuki usia pernikahan, Arsyad berjanji kepada sahabatnya Abdul Wahab, orang Bugis yang juga belajar di Mekkah, untuk menikahkannya dengan putri pertamanya itu. Pernikahan pun dilaksanakan di Masjidil Haram dengan menghadirkan orang yang menjadi wakil dari Syarifah. Di tahun 1772, mereka berdua kembali ke Martapura. Rupanya, Syarifah sudah pernah dinikahkan oleh Sultan Banjar dengan seorang pria dan melahirkan anak bernama Muhammad As’ad. Kemudian, diputuskanlah bahwa pernikahan Syarifah dengan Abdul Wahab adalah pernikahan yang sah meski mempelai wanita hanya diwakilkan karena pernikahan tersebut dilaksanakan lebih dulu dibanding pernikahan yang diselenggarakan Sultan.

Dari pernikahan Abdul Wahab dengan Syarifah, lahirlah Fatimah dan seorang anak laki-laki bernama Muhammad Yasin. Muhammad Arsyad sendiri saat kembali ke Martapura menikahi beberapa perempuan dan dari pernikahan itu memiliki anak yang banyak. Anak-anak itu kemudian beliau didik untuk menjadi ulama. Salah satu yang dinikahinya adalah Putri Aminah, anak dari Sultan Thaha yang merupakan sepupu dari Sultan Tahmidillah I, Sultan Kerajaan Banjar waktu itu sebagai penghormatan terhadap Syaikh Arsyad al-Banjari. Muhammad Arsyad al-Banjari sejak muda memang sudah diadopsi oleh keluarga istana karena kekaguman mereka kepada Arsyad sejak masih kecil.

Fatimah al-Banjari kemudian besar di Martapura dan belajar dibawah pengasuhan sang kakek. Bersama saudara tirinya Muhammad As’ad, mereka berdua menjadi jajaran ulama yang ungguh. Fatimah menjadi spesialis pengajar agama untuk para wanita. Sementara Muhammad As’ad menjadi mufti pertama Kesultanan Banjar, salah satu institusi keagamaan di lingkungan Kesultanan yang dibentuk atas usulan Muhammad Arsyad. Posisi mufti yang diduduki As’ad ini kelak digantikan oleh Paman Fatimah, Jamaluddin, putra pernikahan Arsyad al-Banjari dengan Putri Aminah.

Disinilah kisah tentang Fatimah al-Banjari menjadi menarik. Fatimah yang merupakan perempuan cerdas, mencatat dengan baik pelajaran-pelajaran yang diajarkan sang kakek dan menjadi sebuah kitab bernama Perukunan. Secara singkat isinya berisi tentang rukun islam dan dasar-dasar tauhid. Para peneliti kemudian menyimpulkan kalau kitab Perukunan ini mirip dengan kitab yang lebih besar dengan tema yang sama yang ditulis sang kakek, Sabil al-Muhtadin.

Namun, Fatimah al-Banjari kemudian tidak diatribusi namanya sebagai penulis kitab Perukunan ini. Justru nama sang Paman yang diatribusi sebagai penulis sehingga saat ini versi yang beredar nama yang tertulis adalah kitab Perukunan Jamaluddin. Martin van Bruinessen adalah diantara pakar yang membicarakan persoalan ini. Dahulu memang tidak ada persoalan hak cipta seperti sekarang, namun alasan mengapa namanya diganti dengan nama sang Paman untuk karya yang ditulisnya sendiri menarik untuk dipahami. Argumen nilai-nilai norma yang digunakan saat itu pun menjadi salah satu alasannya

Ahmad Juhaidi dalam tulisannya Untuk Kartini di Tanah Banjar sebagaimana dikutip oleh Muhamamd Ramli dalam tulisannya Fatimah: Perempuan Pengarang Kitab Kuning dari Banjar, ada dua alasan yang bisa menjelaskan mengapa kemudian nama Fatimah al-Banjari diganti dengan nama sang Paman. Pertama, pihak kerajaan di masa itu hanya mengakui otoritas ilmu keislaman untuk masyarakat luas yang dipegang oleh Mufti Kerajaan, yang tak lain adalah Jamaluddin sendiri. Sehingga, besar kemungkinan kitab Perukunan jika tetap disebut sebagai tulisan Fatimah, maka tulisan di dalamnya menjadi tidak otoritatif di masyarakat saat itu. Kedua, Fatimah mengalah dan lebih mengutamakan otoritas yang dipegang oleh sang paman sebagai mufti. Dengan menjadikan nama sang paman sebagai nama pengarang, kitab itu akan lebih cepat diakui kerajaan, diterima masyarakat luas, dan Fatimah merasa berkewajiban menghormati otoritas sang paman.

Fatimah bin Abdul Wahab ini diperkirakan wafat pada usia 53 tahun pada tahun 1828. Beliau dimakamkan di komplek pemakaman Desa Karang Tengah, Martapura.

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here