Fathimah Az-Zahra: Putri Bungsu Kesayangan Rasulullah saw.

0
831

BincangSyariah.Com – Fathimah Az-Zahra adalah putri bungsu Rasulullah saw. dari istrinya; Khadijah binti Khuwalid. Ia lahir 18 tahun sebelum Hijrah atau beberapa tahun sebelum kenabian, ketika kaum Quraisy sedang memperbaiki Ka’bah. Sosok perempuan yang sabar, taat, baik, kreatif, qana’ah, ahli puasa, ahli shalat, dan selalu bersyukur kepada Allah Swt. ini merupakan istri dari Ali bin Abi Thalib; keponakan Rasulullah saw. sendiri.

Ali bin Abi Thalib r.a. menikahi Fathimah pada bulan Dzul Qa’dah atau sebelumnya tahun kedua Hijriyyah setelah perang Badar dengan mahar sebuah baju besi untuk berperang miliknya dan ia baru mengumpulinya setelah perang Uhud. Ketika itu Fathimah berusia 15 tahun lebih lima belas bulan, ada yang mengatakan 18 tahun, sedangkan Ali bi Abi Thalib berusia 21 tahun lebih 5 bulan. Adapun buah hati dari hasil pernikahan mereka adalah Hasan, Husein, Muhsin, Ummu Kultsum, dan Zainab. Kemudian setelah dewasa, putrinya Ummu Kultsum dinikah oleh Umar bin Al-Khattab, dan Zainab menikah dengan Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib.

Aisyah r.a. mengatakan bahwa cara jalan, berbicara, dan bercerita Fathimah sangat mirip dengan Rasulullah saw. Dan beliau sangat mencintai putri bungsunya tersebut. Bahkan ketika Fathimah datang ke rumahnya, beliau selalu menyambutnya dengan mengatakan, “Selamat datang wahai putriku.” Lalu beliau mencium keningnya. Perlakuan Rasulullah saw. menunjukkan bahwa betapa beliau sangat menghormati dan menghargai seorang perempuan, berbeda di masa Jahiliyah sebelum datangnya Islam, seorang anak perempuan tak segan-segan dibunuh oleh kaum Quraisy karena menurut mereka anak perempuan tidak ada gunanya dan hanya memalukan saja.

Saking cintanya Rasulullah saw. kepada Fathimah sampai beliau tidak rela jika putrinya tersebut diduakan oleh suaminya; Ali bin Abi Thalib yang hendak melamar putri Abu Jahal. Beliau bersabda, “Demi Allah, putri seorang nabi Allah dan putri musuh Allah tidak akan berkumpul, sungguh Fathimah adalah bagian dariku, apa yang membuatnya tidak suka maka aku pun tidak suka, dan apa yang menjadikannya tersakiti, maka ia pun sama saja menyakitiku.” Akhirnya Ali bin Abi Thalib pun mengurungkan niatnya untuk mengkhitbah putri Abu Jahal tersebut untuk menjaga hati Fathimah, dan ia tidak menikah dengan perempuan mana pun selama Fathimah masih hidup.

Baca Juga :  Siapakah Orang Paling Lemah Menurut Rasulullah?

Kedekatan dengan ayahnya itulah yang membuat Fathimah memiliki informasi tentang hadis Rasulullah saw. Sekitar 18 hadis telah ia riwayatkan kepada murid-muridnya. Di antaranya adalah anaknya sendiri; Husein, Aisyah, Ummu Salamah, Anas bin Malik, dan lainnya. Riwayat-riwayatnya pun tersebar dalam Al-Kutub As-Sittah.

Suatu hari Nabi saw. mendatangi Fathimah yang sedang memakai kalung dari emas pemberian Ali, lalu beliau bersabda, “Wahai Fathimah, Apakah ucapan orang-orang membuatmu gembira ‘Ini Fathimah putri Muhammad yang memiliki rantai dari api?” Kemudian Rasulullah saw. pergi, Fathimah pun langsung membeli seorang budak dengan kalung tersebut lalu ia merdekakan. Lalu Rasulullah saw. berdoa, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari neraka.”

Fathimah pernah duduk bersama Nabi saw. lalu beliau membisikkan suatu rahasia kepadanya yang membuatnya menangis, kemudian dibisikkan lagi kemudian ia tertawa. Aisyah ra. pun penasaran. Lalu ia menanyakan kepada Fathimah, namun ia tidak mau membuka rahasia. Tetapi ketika Rasulullah saw. wafat, ia baru mau menceritakan di balik misteri tangisan dan senyumannya saat dibisiki oleh Rasulullah saw. Fathimah menceritakan bahwa Rasulullah saw. memberitahukan bahwa Jibril selalu mengajarkannya Al-Qur’an setahun sekali, namun pada tahun ini ia mendatanginya dua kali, dan itu pertanda Rasulullah saw. telah dekat dengan ajalnya, “Maka bertaqwalah dan bersabarlah.” Mendengar cerita itu Fathimah pun menangis. Ketika beliau melihatnya sedih, beliau pun bersabda, “Apakah kamu tidak rida menjadi tuannya perempuan seluruh alam atau tuannya seluruh perempuan umat ini?” Fathimah pun tertawa.

Ketika Rasulullah saw. wafat, Fathimah sangat terpukul sekali. Fathimah berkata kepada Asma’ binti Umais, “Sungguh aku malu jika besok keluar (saat meninggal dunia) orang-orang laki-laki dapat melihat tubuhku.” Lalu Asma’ berkata, “Maukah kamu aku buatkan sesuatu yang pernah aku lihat di negeri Habasyah?” Lalu, Asma’ pun membuatkan keranda, dan Fathimah berkata, “Semoga Allah menutupimu sebagaimana engkau mau menutupiku.” Dengan demikian, Fathimah dikenal sebagai orang yang pertama kali ditutupi keranda saat meninggal dunia di dalam Islam.

Baca Juga :  Anas Bin Malik: Sahabat yang Mendedikasikan Hidupnya untuk Melayani Rasulullah saw

Enam bulan kemudian setelah wafatnya Rasulullah saw., Fathimah pun ikut menyusul keharibaan Allah Swt. Fathimah sudah mewasiatkan agar Asma’ binti Umais dan suaminya saja yang memandikannya ketika meninggal dunia. Bahkan Aisyah r.a. yang ikut mau memandikannya pun dicegah oleh Asma’ demi menjalankan wasiat fathimah. Fathimah wafat Selasa malam di tiga hari terakhir bulan Ramadhan tahun 11 H./632 M di usianya yang menginjak ke 27 tahun (ada yang berpendapat 24, 25, atau 28).

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

 

Sumber: Kitab Siyar A’lamin Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi dan Tadzhibul Kamal karya imam Al-Mizzi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here