Fariduddin Attar, Sang Pengisah Ulung Penuh Inspiratif

0
1052

BincangSyariah.Com – Fariduddin Attar lahir di Nishapur, Persia pada 1136 M, kurang dari satu abad sebelum invasi penaklukkan Genghis Khas di Asi dan di sebagian wilayah Eropa. Ia memilki nama pena, yakni Attar yang berarti “penebar wewangian” atau “ahli kimia”. Disebut demikian karena ia adalah seorang usaha farmasi dikotanya. Dia orang kaya, tidak kurang dari 30 karyawan yang bekerja di tokonya.

Laporan mengenai kematian Atta menjadi kisah tersendiri. Ia dibunuh pada tahun 1230-an di tangan seorang prjurit Genghis Khan. Peristiwa ini terjadi ketika invasi Mongol ke Persia.

Berabad-abad lamanya, puisi Attar telah memengaruhi para pencari, baik pencari pengetahuan mistik Barat maupun Timur, walaupun karyanya tidak begitu dikenal luas di dunia Barat.

Attar, penulis The Conference of the Birds (Musyawarah Burung) serta telah menulis lebih dari seribu naskah lainnya, telah menjadi model bagi guru-guru sufi ternama, khususnya Jalaluddin Rumi. Pada suatu kesempatan Rumi berkomentar tentang seorang Attar, Rumi berkata, “Semua yang telah kukatakan mengenai Kebenaran, telah kupelajari dari Attar”.

Attar merupakan salah satu figur sufi yang paling penting. Ia telah membawa sinar baru ajaran sufi dengan menjelaskan jalan sufi melalui seni bertutur, dengan cara yang pernah dilakukan oleh orang-orang sebelunya.  Terkait hal ini, Rumi mengatakan “Attar melintasi ketujuh Kota Cinta, dan kami hanya mencapai sudut salah satu jalannya”.

Sebagian besar kitab Attar telah hilang dimakan sang kala. Setidaknya, tidak kurang dari 30 buah, semuanya dalam bentuk puisi kecuali Memoirs of the Saints (Riwayat Manusia Suci). Buku ini penting sebagai rujukan serta sumber biografis tentang para penulis dan penyair yang menulis hikayat-hikayat muslim. Buku ini dimulai dari kisah Ja’far Shodiq, Imam Syiah ke enam dan guru sufi di abad kedua Hijriah (10 M), dan diakhir dengan biografi Al-Hallaj.

Baca Juga :  Kitab-Kitab Syarah atas Tafsir al-Jalalain

Karya Attar lainnya adalah The Book of God (Kitab Ilahi). Karya ini mendeskripsikan mengenai enam kapasitas manusia yaitu ego, imajinasi, kehausan akan pengetahuan, kepandaian, kehausan akan sikap yang tidak terpengaruh dan kehausan akan Penyatuan.

Dalam cerita ini,  Attar berkisah tentang seorang raja dan enam anakanya. Masing-masing anaknya meminta sesuatu kepada sang ayah. Sang ayah mencoba mendidik putra-putranya tentang apa yang sebenarnya mereka inginkan, dan apa implikasi dari pemenuhan keinginan mereka.

Pelajaran yang diajarkan oleh sang raja adalah agar kita mengejar keberadaan Allah yang Maha Abadi sebagai tujuan tertinggi. Kemudian Attar berkata:

Ketika mereka berenam tunduk dan taat kepada perintah sang raja,

Mereka akan tiba pada keberadaan Allah yang Maha Abadi

Karyalain Attar berikutnya berjudul Book of Secrets (Kitab Rahasia). Karya ini merupakan satu kumpulan cerita singakat yang disajikan untuk meningkatkan spritual dan moral pembaca. The Book of Affliction (Musibatname atau Kitab Derita) karya Attar bercirta tentang pengembara yang sedang mencari Tuhannya.

The Conference of the Birds adalah karya terpenting dari literatur sufi yang dimiliki Attar, yang juga menginsprirasi sebagian besar – jika tidak dikatakan semua— guru-guru sufi. Buku ini berisi tentang kumpulan fabel, lelucon dan kisah-dalam-kisah, yang seluruhnya diwujudkan dlaam satu cerita tunggal tentang pencarian yang bersifat spritual yang dipimpin oleh seorang burung Hudhud, sebagai simbol spritual.

Baragkali, tidak ada guru seorang kecuali Attar, yang telah menggunkan bahasa begitu sederhana, dan menggunakan analogi-analogi yang begitu mudah untuk dipahami untuk mengajarkan tahapan perkembangan di jalan sufi menuju kesempurnaan.

Sumber Tulisan ini disarikan dari buku Telah Cinta Para Sufi Agung, terjemahan Tim Penerjemah Yogyakarta karya Mojdeh Bayat & Muhammad Ali Jamnia.

Baca Juga :  Fakhruddin ar-Razy, Perintis Integrasi Keilmuan Kalam dan Filsafat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here