Faktor Pemberontak Dihukum pada Masa Abu Bakar

1
1905

BincangSyariah.Com – Selain Masa kenabian, masa Khulafa Rasyidin merupakan masa keimanan dan keyakinan. Semua ucapan, perbuatan dan kebijakan yang diproduksi oleh aktor-aktor sejarah di masa ini, dimulai dari politik, ekonomi, militer, budaya dan persoalan-persoalan duniawi lainnya akan selalu dipandang sebagai sunnah keagamaan, dan karenanya, bagi sebagian orang, harus dijadikan rujukan bagi generasi selanjutnya.

Cara pandang seperti ini, dalam literatur sirah kenabian dan sirah khilafah disebut sebagai ‘sunnah’. Sebut saja ‘sunnah Nabi’ untuk pengertian  yang merujuk ke masa Nabi SAW, atau sunnah Abu Bakar atau sunnah Umar untuk merujuk kepada masa kepemimpinan keduanya. Karena itu, ada sunnah lain yang menjadi rujukan selain sunnah Nabi SAW, yaitu sunnah Abu Bakar dan sunnah Umar. Dan seringkali, atas nama sunnah, semua perilaku di belakang hari, dapat dicari-carikan justifikasinya dari sunnah, bahkan perilaku yang lahir bukan dari jantung Islam sendiri pun bisa dipaksakan pengertiannya sebagai sunnah keagamaan.

Ketika Muawiyah mengemukakan pandangannya bahwa Yazid akan menggantikan posisinya sebagai khalifah, Marwan bin al-Hakam berujar: “sungguh pengangkatan ini benar-benar mengikuti sunnah Abu Bakar dan Umar ”. Muhammad bin Abi Bakar yang mendengar hal itu sontak berujar: “Tidak, praktik ini bukan sunnah Abu Bakar dan Umar, melainkan sunnahnya Heraklius dan Kaisar.” Heraklius merujuk kepada sebutan raja di kerajaan Romawi sedangkan kaisar merupakan sebutan raja bagi kerajaan Persia.

Riwayat ini paling tidak menunjukkan bahwa sesuatu yang duniawi seperti kebijakan-kebijakan politik yang temporal selalu dicari-carikan justifikasinya dari masa keimanan dan keyakinan masa kenabian dan masa khilafah rasyidah sehingga kemudian praktik ini seolah bersifat agama. Padahal dalam Usul Fiqh selalu dikumandangkan bahwa tidak semua tingkah laku nabi bermuatan agama. Hal demikian juga berlaku bagi masa khilafah rasyidah ini.

Karena itu, persoalan yang selalu muncul di kemudian hari, ialah problem pembacaan terhadap dua masa ini. Semua hal yang diproduksi di kedua masa ini akan selalu dianggap agama. Dengan cara pandang seperti itu, beberapa kelompok tertentu  dalam melakukan sesuatu mencari-mencari justifikasinya dari kedua masa ini. Jadi melalui perspektif ini pula kita kan sulit untuk memisahkan mana yang benar-benar agama dan mana yang bukan karena semuanya masuk ke dalam bab yang disakralkan yang serba keimanan dan keyakinan sampai-sampai ada adagium:

لا يصلح أمر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

Baca Juga :  Tiga Perbedaan Antara Azan dan Iqamat

“Tidak akan baik nasib umat ini kecuali jika ia mengikuti generasi pertamanya”

 Dengan adagium ini, semua aliran dalam Islam selalu mengais-ngais justifikasi kebenaran dalam setiap langkah dan strategi mereka agar selalu sesuai dengan generasi di masa salaf. Maraknya gerakan-gerakan radikal saat ini seperti ISIS, al-Qaeda, Jama’ah Anshar Tauhid dan lain-lain beserta aksi kekejamannya terhadap sesama manusia bisa dipastikan berangkat dari cara membaca yang serba agama terhadap semua ucapan, perbuatan dan kebijakan yang sebenarnya  di masa kenabian dan khilafah tidak bisa dikategorikan sebagai bagian dari agama, melainkan sebagai kebijakan politik yang temporal belaka yang tak sepenuhnya harus ditiru. Kenyataan demikian dapat diperparah lagi oleh pemakaian hadis yang tidak pada tempatnya:

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين من بعدي.

Pemahaman terhadap hadis ini tanpa memilah-milah mana yang mengandung muatan agama dan mana yang tidak bermuatan agama akan dapat menjerumuskan kita kepada pencampur bauran yang politik dan yang agama ketika kita memahami peristiwa penumpasan kaum murtad di masa Abu Bakar. Praktik pembakaran kaum murtad oleh Abu Bakar yang merupakan kebijakan politik termporal di masanya kemudian dijadikan sebagai referensi utama dan keteladanan abadi bagi generasi-generasi berikutnya dalam menumpas kaum murtad.  Riwayat memerangi kaum murtad ini seperti riwayat-riwayat lainnya menunjukkan bahwa yang diperangi ialah kaum murtad harbi, yakni yang mencoba memberontak melawan negara.

Karena itu, reaksi negara dalam hal ini ialah harus menumpas pemberontakan semaksimal mungkin, karena mudarat dan kerusakannya lebih besar daripada dibiarkan begitu saja. Abu Bakar dengan siasat ulungnya yang jitu dapat membaca dengan baik bahwa di balik keengganan kabilah-kabilah Arab untuk membayar zakat ada maksud untuk menghancurkan dan memberontak kepada Negara Madinah. Karena itu, semangat hadis Nabi tentang kewajiban dilakukannya had atas orang murtad yang ‘faraqa al-jama’ah’ dipegang teguh oleh Abu Bakar. Di masa ini paling tidak, ada tiga faktor yang menjustifikasi penumpasan kaum murtad:

Pertama, faktor politik. Masa Abu Bakar ialah masa keengganan suku-suku selain Quraish dan Taif untuk tunduk kepada pemerintahan Abu Bakar. Bisa dikatakan suku-suku tersebut dalam bahasa kekiniannya ialah tidak memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Mereka membelot dari negara dan mencoba mengadakan perlawanan terhadap negara, yang saat itu disimbolkan dengan baiat kepada Abu Bakar dan membayar zakat. Membayar upeti sebelum Islam merupakan simbol kepatuhan suatu kelompok yang lemah terhadap yang kuat. Zakat di masa Nabi dan Abu Bakar dipahami oleh suku-suku sekitar sebagai bentuk pembayaran upeti zaman jahiliyyah ini. Ketika nabi wafat, suku-suku tersebut mulai menampakkan ketidakpatuhannya.

Baca Juga :  Sejarah Pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan

Kedua, faktor kesukuan. Suku-suku yang murtad di zaman Abu Bakar  seperti Bani Madlaj, Bani Hanifah, Bani Salim, Bani Asad, Bani Fazarah, Ghatfan, Bani Yarbu, sebagian Bani Taym, Bani Kindah, Bani Bakar bin Wail merupakan suku-suku yang ingin melawan dominasi Quraisy dalam soal kepemimpinan agama dan politik (lihat za-Zamakhsyari dalam al-Kasyaf). Bani Hanifah misalnya ingin menyaingi Quraish dalam kenabian dan tempat peribadatan.

Sehingga dalam hal ini muncullah Musailamah al-Kazdab dan bangunan mirip Ka’bah yang bernama dzu al-Khilsah di Yaman. Ketiga, faktor keagamaan. Suku-suku selain Quraisy juga menggunakan kacamata agama sebagai tameng untuk memperkuat jaringan politik mereka. Pemberontakan al-Aswad al-Anasi, Musailamah al-Kazdab dan Tulaihah bin al-Khuwailid terhadap Negara Madinah didorong oleh kepentingan persaingan agama. Suku-suku ini ingin lebih maju dalam agama daripada Quraisyh, saingan mereka dari masa jahiliyyah yang saat itu menjadi pusat peribadatan berhala-berhala dan di masa nabi dan Abu Bakar menjadi pusat keislaman.

Dengan  demikian, Abu Bakar sangat memahami betul bahaya suku-suku ini bagi persatuan warga negara Islam. Karena itu, murtad di sini bagi Abu Bakar tidak melulu agama, namun juga ada warna politik dan kesukuan, yakni keengganan untuk taat kepada dominasi Quraisyh dan itu artinya akan merongrong negara Madinah. Ketiga aspek ini saling berkait kelindan dan tidak bisa dipisahkan. Kalau hanya soal keluar dari agama Islam secara individu itu tidak akan bermasalah bagi Abu Bakar dan dalam hal ini Abu Bakar memaafkan Malik bin al-Astar dan beberapa orang yang murtad lainnya.

Namun jika gerakannya sudah pada tataran gabungan antara politik, suku dan agama yang digaungkan secara masif, Abu Bakar tentu akan menindak dengan tegas. Hal demikian seperti yang terjadi pada suku Malik bin Nuwairah yang memerangi pasukan kaum beriman dengan pembakaran, pembunuhan, penyerangan dan lain-lain. Ketika pasukan muslim dibantai oleh kaum murtad, Abu Bakar memerintahkan Khalid bin al-Walid untuk balik membantai.

Sikap demikian merupakan contoh dari semangat al-Quran tentang qisas yang artinya jika seorang muslim dibakar oleh orang murtad, maka hukuman si murtad ya harus dibakar. Tentu hal ini harus dilakukan di bawah komando pemimpin yang benar-benar disepakati semua bukan dengan cara yang sendiri-sendiri di negara yang melandaskan semua aturannya pada Islam. Jika tidak, maka cukup mencontoh raja Najasyi saja dimana beliau masuk Islam namun tidak memaksakan kehendaknya untuk mengislamkan warganya yang Kristen padahal beliau memiliki kekuasaan penuh atas kerajaannya dan nabi pun tidak memaksakan raja Najasyi untuk mengislamkan warganya.

Baca Juga :  Dosa Pemberontak Pemerintahan yang Sah

Selain itu, logika negara masa itu menuntut untuk melakukan demikian. Wajar jika riwayat pembakaran atas kaum murtad didorong oleh perlakuan mereka yang membantai orang-orang Islam yang tidak bersalah jika memang riwayat tentang hal ini benar adanya.  Mekanisme pertahanan diri seperti yang berlaku di masa nabi sudah tidak berlaku di masa Abu Bakar ini karena kondisi negara dalam keadaan genting. Mau tidak mau negara yang baru berdiri dan baru ditinggal pendirinya itu kemudian harus menyatukan kembali elemen-elemen umat yang terpecah belah akibat murtad secara afiliasi politik dan ditambah dengan motif keagamaan dan kesukuan. Dan jika jalur damai dan dialog tidak bisa menekan ini, maka pedanglah kemudian yang bekerja.

Dengan demikian, suku-suku Arab yang tidak mau lagi tunduk kepada kepemimpinan keagamaan dan politik yang terpusat di Madinah harus diperangi berdasarkan logika hadis nabi al-mariq li din wa al-mufariq an al-jama’ah ‘yang keluar dari agama dan yang memisahkan diri dari jama’ah’. As-Syaukani dalam Nayl al-Authar menafsirkan al-mufariq an al-jama’ah sebagai al-indimam ila sufuf al-aduww ‘bergabung dengan barisan musuh’.

Hadis ini muncul ketika banyaknya orang-orang Yahudi yang masuk Islam hanya sekedar memata-matai Islam dari dalam dan menghancurkannya dari dalam. Setelah informasi yang didapat itu cukup, mereka kembali ke agama mereka dan menginformasikan pemimpin-pemimpin mereka seperti Ka’ab bin al-Asyraf, Huyay bin al-Ahtab dan lain-lain tentang siasat Nabi dan para sahabat-sahabatnya. Wajar jika kemudian orang-orang murtad di masa Nabi yang harus dibunuh ialah yang bergabung dengan barisan musuh ini. Dari konteks ini, harusnya hadis:

من بدل دينه فاقتلوه

“Barang siapa yang menukar agamanya, bunuhlah ia”

Hadis di atas  seharusnya dipahami dan dibaca dari perspektif bagaimana Nabi memperlakukan orang murtad di zamannya, yakni membiarkan tetap hidup jika memang hanya pindah keyakinan dan membunuhhnya jika murtadnya disertai pengkhianatan dan permusuhan terhadap Islam dan berkonspirasi dengan musuh.

1 KOMENTAR

  1. “…yakni keengganan untuk taat kepada dominasi Quraisyh dan itu artinya akan merongrong negara Madinah”
    ini pendapat penulis atau ada sumbernya ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here