Fakhruddin ar-Razy, Perintis Integrasi Keilmuan Kalam dan Filsafat

2
1125

BincangSyariah.Com – Jika kita menilik lebih jauh posisi Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razy (544-606) dalam sejarah pemikiran Islam, dapat ditegaskan bahwa beliau menandai fase pergeseran paradigma dalam sejarah relasi antara ilmu kalam dan ilmu filsafat. Sebelumnya, ilmu kalam di awal perkembangannya, baik di tangan kaum muktazilah dan kalangan Ahlu Sunnah awal-awal maupun di kalangan Asyariyyah seperti al-Ghazali dan as-Syahrastani, selalu digunakan untuk menyerang filsafat dan kaum filosof.

Karya-karya yang ditulis untuk menyerang kaum filosof, baik Aristoteles maupun kaum filosof Islam, sangatlah banyak dan beragam sampai-sampai tidak ada satu masa pun di empat abad pertama hijriah, yakni setelah masa kodifikasi pengetahuan (dari 150 H sampai 550 H), yang lepas dari karya-karya yang ditulis para ahli kalam untuk menyerang pandangan-pandangan kaum filosof, baik dari kalangan Muktazilah maupun Asyariyyah.

Sayangnya kita kehilangan sebagian besar karya-karya yang ditulis untuk menghantam basis-basis pemikiran filsafat ini. Yang tersisa saat ini mungkin hanya kitab Tahafut al-Falasifah karya Imam al-Ghazali dan kitab Musaraatul Falasifah karya as-Syahrastani.

Dua karya ini paling tidak mewakili sekaligus menahbiskan tradisi melawan filsafat.
Melawan filsafat merupakan pekerjaan wajib bagi setiap ulama yang menulis tentang ilmu kalam. Ilmu kalam sedari awal memang tercipta untuk melawan pemikiran yang kontra”. Ini tentu sesuai dengan makna awalnya, yakni bahwa ilmu kalam ialah ilmu debat.

Namun demikian, tradisi melawan filsafat di kalangan ahli kalam ini berakhir dengan kemunculan karya-karya ar-Razy. Ar-Razy merupakan seorang filosof yang sekaligus ahli kalam. Beliau mempraktekan dan menerapkan paradigma ilmu kalam dalam menulis filsafat. Ini seperti yang dilakukannya dalam kitabnya yang terkenal; al-Mabahits al-Masyriqiyyah.

Ar-Razy juga seorang ahli kalam yang sekaligus filosof. Maksudnya beliau menerapkan paradigma filsafat dalam menulis ilmu kalam. Ini seperti yang dilakukannya pada kitab Muhassal Afkar al-Mutaqaddimin wal Mutaakhirin. Belum lagi karya-karyanya yang lain. Ar-Razy menuliskan pandangan-pandangannya tentang filsafat dan ilmu kalam dalam kitab tafsirnya yang terkenal dengan sebutan Mafatih al-Ghaib.

Baca Juga :  Filsafat Ar-Razi dalam Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah; Ulasan mengenai Substansi dan Aksiden

Muhammad Salih az-Zarkan dalam bukunya Fakhruddin ar-Razi wa Arauhu al-Kalamiyyah wal Falsafiyyah menyebutkan bahwa kitab Mafatih al-Ghaib ini menghimpun pembahasan-pembahasan ilmu kalam, filsafat dan agama serta bantahan-bantahan terhadap sekte Muktazilah, terutama tafsiran mereka terhadap Alquran. Ar-Razy juga dalam kitab ini mencoba mensinergikan filsafat dan agama. Tentunya dengan banyaknya pembahasan tentang filsafat dan ilmu kalam ini, Ibnu Taymiyyah sampai berkomentar pedas: semuanya dibahas dalam kitab ini kecuali tafsir.

Tentu yang terpenting dalam karya-karya ar-Razy ini bukan soal pandangan-pandangan kalam dan filsafatnya namun soal bagaimana mekanisme penalarannya yang sampai pada usaha untuk memasukkan bahasan ilmu kalam dalam filsafat dan bahasan filsafat dalam ilmu kalam. Usaha integrasi dan sinkretisasi antara kalam dan filsafat yang dilakukan oleh ar-Razy ini memberikan pengaruh yang cukup besar bagi para ulama setelahnya sampai-sampai batasan-batasan ilmu kalam dan ilmu filsafat ini menjadi kabur.

Ibnu Khaldun dalam kitab al-Muqaddimah menyebut usaha yang dilakukan oleh ar-Razy sebagai thoriqat al-mutaakhirin, sebuah metode yang menggabungkan bahasan filsafat dan kalam secara bersamaan. Sebelumnya, di kalangan mutaqaddimin, dua ilmu ini sangat bertentangan dan tidak bisa disinergikan.

Namun di kalangan ulama mutaakhirin, dua ilmu ini bercampur aduk; konsep-konsep dan permasalahan-permasalahan ilmu kalam bercampur baur dengan konsep-konsep dan permasalahan-permasalahan filsafat. Dan yang bertanggung jawab terhadap implikasi yang cukup jauh ini ialah ar-Razy.

Kita akan coba melihat bagaimana ar-Razy menerapkan paradigma kalam dalam ilmu filsafat melalui kitabnya al-Mabahits al-Masyriqiyyah dan bagaimana menerapkan paradigma filsafat dalam ilmu kalam melalui kitabnya Muhassal Afkar al-Mutqaddimin. Kita akan perjelas lebih jauh di artikel lain. Semoga waktu memungkinkan untuk mengulas dua karya besar ar-Razy ini.

Baca Juga :  Mi'yar al-'Ilm Karya Imam al-Ghazali

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here