Fakhruddin ar-Razy dan Kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah (bag I)

1
954

BincangSyariah.Com – Tulisan ini ialah kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang al-Imam Fakhruddin ar-Razy, filosof Asy’ariyyah yang paling terkemuka setelah al-Ghazali dan as-Syahrastani. (Baca: Mengenal Fakhruddin Al-Razi, Sosok Ulama Tafsir Multidisipliner Abad Ke-5). Sebelum membaca kelanjutan ide-ide yang tertuang dalam tulisan ini, saya anjurkan pembaca yang budiman untuk membaca terlebih dahulu tulisan-tulisan saya tentang Manhaj Ulama Asy’ariyyah dalam Menyusun Ilmu Kalam, Abdul Qahir al-Baghdadi dan Puncak Penulisan Ilmu Kalam Mutaqaddimin dan Imam al-Ghazali dan kitab al-Iqtisad fil I’tiqad. Tiga tulisan ini paling tidak menjadi pengantar awal tentang adanya pergeseran paradigma dalam ilmu kalam dari metode mutaqaddimin ke metode muta’akhirin.

Yang pertama diwakili oleh Abdul Qahir al-Baghdadi dan yang kedua diwakili oleh Fakhruddin ar-Razy. Kedua-duanya bisa dikatakan sebagai perintis bagi masing-masing metode yang digunakan di masanya. Pembaca mungkin bertanya bagaimana posisi al-Ghazali di antara dua ulama besar ini?

Al-Ghazali sering dianggap sebagai pemikir Asy’ariyyah yang membuka jalan bagi metode muta’akhirin. Ulasan ilmu kalam dalam kitabnya al-Iqtisad fil I’tiqad merupakan bukti adanya ruang bagi pergeseran ini. Dalam kitab ini, kita temukan bahwa secara materi, ilmu kalam yang disajikan oleh al-Ghazali masih berasal dari ulama mutaqaddimin. Kendati demikian, jika dilihat secara metode, kitab ini mulai mengadopsi logika Aristoteles dalam pembahasan kalam.

Bila kita bagi berdasarkan fase-fase perkembangan ilmu kalam, bisa dikatakan bahwa al-Ghazali ini merupakan ulama Asy’ariyyah yang berada pada masa transisi, yakni transisi dari metode kalam mutaqadimin ke metode kalam muta’akhirin. Dan yang membuka secara resmi metode muta’akhirin ialah ar-Razy.

Baiklah kita coba ulas kandungan kitab al-Mabahits al-Masyriqiyyah ini. Judul lengkap kitab ini sebenarnya ialah al-Mabahits al-Masyriqiyyah fi at-Tabi’iyyat wal Ilahiyyat.

Kata at-Tabi’iyyat dan al-Ilahiyyat ini menunjukkan bahwa ar-Razy tidak sedang membahas masalah logika dan matematika dalam kitab ini. Logika dan matematika  merupakan unsur pembentuk filsafat Aristoteles yang diulas Ibnu Sina dalam kitab as-Syifa. Namun dalam kitab ini yang diulas al-Razy hanyalah filsafat Timur. Ini artinya yang hendak diulas olehnya ialah filsafat Ibnu Sina.

Baca Juga :  al-Ghazali dan Sikapnya terhadap Ilmu Fisika

Ulasan ar-Razy dalam kitab ini tidak mengikuti paradigma pemikiran yang dibangun oleh para filosof peripatetik. Ar-Razy di dalam kitab ini hanya mengikuti jejak Ibnu Sina dalam mensinkronkan, mensintesakan dan mensinergikan pemikiran-pemikiran filsafat. Itulah yang ingin ditegaskannya dalam pendahuluan karyanya. Ar-Razy menyatakan bahwa dirinya akan memilih bahasan-bahasan yang paling inti dari karya-karya Ibnu Sina tersebut.

Ar-Razy juga menjelaskan metode pembahasan karyanya ini dengan menekankan bahwa: “Ulasan dalam buku ini akan dibagi menjadi beberapa bab. Dalam tiap bab kami sajikan penilaian sekaligus kritikan terhadap pandangan-pandangan filosofis Ibnu Sina. Selain itu, kami sajikan pula keberatan-keberatan dan keraguan-keraguan yang disertai dengan jawaban dan solusi yang tepat bagi persoalan-persoalan yang dikemukakannya.”

Ar-Razy kemudian menambahkan: “Barangkali di sela-sela pembahasan seperti ini, ada pandangan kami yang menyalahi pandangan umum dan bahkan mungkin bertentangan dengan pandangan para filosof kebanyakan. Tapi, yang perlu kami tekankan di sini ialah bahwa seorang yang berpikir tidak akan mungkin keluar dari pandangan umum jika memang ia sudah menemukan jalan keluarnya. Seorang yang berpikir juga tidak akan mungkin menghindar dari kebenaran jika sudah menemukan bukti yang valid tentangnya, baik bukti secara global maupun bukti secara rinci.”

“Para pemikir yang mengharuskan kita untuk mengikuti pandangan-pandangan para filosof Yunani di semua aspeknya ini dan yang melarang kita untuk menentang pandangan mereka tentunya tahu bahwa para filosof Yunani itu juga terkadang menyalahi pandangan para filosof Yunani sebelumnya.”

“Sejauh yang kita tahu mengenai inkonsistensi mereka dalam hal ini, kita juga akan  tahu inkonsistensi para pemikir Islam yang mengkritik pandangan para filosof Islam dan Yunani tersebut…. Dan tatkala kami tahu bahwa dua kelompok ini tidak berada dalam jalan yang lurus…kami pilih jalan tengah dan kami pilih pandangan yang terbaik dari dua pandangan yang ada, yakni, dengan jalan kami berusaha untuk menelaah pandangan-pandangan mereka yang ditemukan dalam karya-karya mereka…kemudian kami tambahkan beberapa pokok pikiran dasar yang telah kami yakini kebenarannya yang belum pernah disingkapkan kepada para pendahulu kita.”

Baca Juga :  Kritik Al-Ghazali atas Kesalahpahaman dalam Memaknai Tauhid dan Ilmu Kalam

Ulasan di atas menunjukkan kepada kita bahwa ar-Razy hendak menghadirkan kembali proyek Ibnu Sina yang menginginkan agar filsafat yang ditulisnya itu dapat mencakup persoalan-persoalan ilmu kalam. Namun tentu, membaca Ibnu Sina ini dilakukan dengan mempertimbangkan arahan dari al-Ghazali. Melalui pembacaan terhadap kitab Tahafut al-Falasifah-nya karya al-Ghazali, ar-Razy hanya akan memilih pembahasan Ibnu Sina tentang al-ilahiyyat atau teologi atau sebut saja filsafat ketuhanan dan juga ontologi atau at-tabi’iyyat yang dalam terminologi Aristoteles disebut sebagai filsafat pertama.

Kutipan di atas juga menunjukkan bahwa ar-Razy mengkritik dua sikap para pemikir muslim yang saling kontradiktif terhadap filsafat Yunani; pertama, sikap Ibnu Sina yang mengadopsi filsafat Yunani dan yang seolah membenarkan semua pandangan mereka; kedua, al-Ghazali dan juga as-Syahrastani yang mengkritik Ibnu Sina dan filsafat Yunani.

Yang pertama menerima pandangan filsafat Yunani secara mentah-mentah dan yang kedua, menolak filsafat Yunani secara membabi buta. Kedua-duanya, kata ar-Razy, jelas keliru dan tidak berada dalam jalan yang benar. Lalu Ar-Razy mengambil jalan tengah, yakni memilih pandangan-pandangan filsafat Ibnu Sina yang sekiranya relevan untuk dibahas berdasarkan perspektif Asy’ariyyah.

Dengan demikian, jika kita baca kutipan di atas dan kita hadirkan kembali dengan menggunakan istilah kita sendiri, mungkin ar-Razy akan mengatakan seperti ini: “Saya akan memfokuskan perhatian saya kepada filsafat Ibnu Sina, terutama filsafat kalam-nya yang sesuai dengan selera pemikiran saya.

Meski begitu, saya tetap tidak akan memperlakukan filsafatnya seperti yang dulu pernah dilakukan al-Ghazali dan as-Syahrastani. Mereka ini yang mengkritik filsafat Ibnu Sina (dan filsafat Yunani) secara habis-habisan. Nah, saya tidak akan menempuh jalan mereka. Saya hanya akan ambil jalan tengah, yakni dengan mengambil beberapa persoalan yang dibahas Ibnu Sina, lalu saya sinkronkan dengan ilmu kalam, terutama ilmu kalam Asy’ariyyah yang saya anut.”

Baca Juga :  Sayyid Usman bin Yahya: Mufti dari Betawi

Sampai di sini, kita melihat bahwa ar-Razy sedang berusaha untuk menjadikan filsafat ketuhanan (al-ilahiyyat) Ibnu Sina, filsafat yang berambisi untuk membahas persoalan-persoalan ilmu kalam itu, menjadi filsafat yang terbuka untuk ilmu kalam sendiri sehingga ilmu kalam memasukkan persoalan-persoalannya dalam filsafat dan pada akhirnya ilmu kalam dapat merengkuh filsafat.

Pertanyaan yang kemudian muncul ialah bagaimana ar-Razy berusaha memasukkan persoalan-persoalan ilmu kalam ke dalam filsafat padahal kedua ilmu ini di tangan al-Ghazali dan as-Syahrastani merupakan ilmu yang saling menegasikan? Kita akan jawab pertanyaan ini di tulisan berikutnya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here