Etika Santri di Pesantren Saat Makan dan Minum

0
1598

BincangSyariah.Com – Pesantren menjadi tempat hijrah paling cocok bagi pemuda masa kini. Bukan hanya paling cocok, tapi paling aman. Memang ada sebagian pesantren yang tidak sejalan dengan ahlussunah waljamaah, tidak cocok dengan pola pikir masyarakat Indonesia. Wali santri harus selektif memilih pesantren untuk anaknya.

Pola hidup santri akan berubah secara perlahan dari yang sebelum dan saat, bahkan sesudah mondok. Mulai dari cara makan, cara berjalan, cara tidur, dan lain sebagainya. Karena materi utama di pesantren adalah masalah adab setelah ushuluddin. Mayoritas asatidz, bahkan bisa dikatakan keseluruhan, setiap mengajar pasti akan mengingatkan terhadap pentingnya sopan santun santri.

Dalam masalah pentingnya akhlak bagi santri, KH. Abdul Aziz Hosni (Pengasuh PP. Mambaul Ulum Ganding) pernah bercerita tentang salah satu yang menjadi penyebab berimannya para tukang sihir Fir’aun. “Perlu kalian ketahui, penyebab tukang sihirnya Fir’aun beriman pada Nabi Musa as.. adalah karena akhlak mereka. Saat mau memulai sihirnya, mereka izin dulu pada Nabi Musa as. Mereka berkata: Wahai Nabi Musa, kami dulu atau anda yang melempar tongkat pertama kali?”, dawuh beliau.

Lalu beliau mengutip firman Allah Swt. dalam Qs. Taha (20) : 66,

قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِمَّآ اَنْ تُلْقِيَ وَاِمَّآ اَنْ نَّكُوْنَ اَوَّلَ مَنْ اَلْقٰى

Mereka berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan?”

Jadi, tidak heran pesantren mengatur sedemikian rupa semua aktivitas santri. Peraturan-peraturan yang diberlakukan lengkap dengan sanksinya.  Semua santri wajib mematuhi semua aturan tersebut. Jika tidak, maka akan disanksi.

Namun, semua peraturan yang berlaku di pesantren pasti sudah selaras dengan peraturan agama dan disesuaikan dengan kondisi santri secara umum. Sebut saja aturan atau etika makan/minum santri, banyak didasarkan pada ayat dan hadits. Santri dilarang makan atau minum berdiri, apalagi sambil berjalan. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda:

Baca Juga :  Doa Sebelum dan Sesudah Minum

لا يشربن احدكم قائما

Janganlah salah satu diantara kalian minum dalam keadaan berdiri. (HR. Muslim, Bulughul Marom, hal. 328)

Makan atau minum berdiri saja sudah dilarang, apalagi sambil jalan-jalan. Santri ketika diketahui makan berdiri, maka ada sanksi edukatif dari pesantren yang menunggunya. Misal baca istighfar 1000 kali, atau menguras bak mandi pesantren.

Santri juga dilarang minum atau makan dengan tangan kiri. Alasannya simpel, karena setan senang makan dan minum dengan tangan kiri. Hal ini juga termasuk anjuran Rasulullah Saw. kepada umatnya. Beliau bersabda:

اذا اكل احدكم فليأكل بيمينه واذا شرب احدكم فليشرب بيمينه فان الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله

Ketika diantara kalian makan, hendaklah menggunakan tangan kanannya, begitu juga sewaktu minum. Karena setan makan dan minum menggunakan tangan kiri (HR. Imam Muslim, Bulughul Marom, hal. 329)

Santri pasti ditegur apabila minum dengan tangan kiri. Tapi, terkadang santri cari alasan untuk membenarkan kesalahan mereka. “Selesai makan, saya minum pakai tangan kiri karena tangan kanan masih ada sisa makanan, jadinya kotor”, jawab mereka. Iya, alasan tersebut bisa saja diterima. Apalagi wadah airnya dipakai bergiliran, bisa-bisa jijik yang setelahnya.

Namun, tetap saja itu kurang baik, tetap usahakan minum pakai tangan kanan. Caranya, basuh dulu tangan yang kanan. Ambil lap atau tisu untuk mengeringkan tangan, baru kemudian minum. Apalagi cuma air kemasan (AMDK), tentu tidak perlu digilir, karena sudah ada bagian masing-masing, langsung minum saja.

Adapun santri yang langsung minum dari kran yang disediakan untuk minum, ataupun langsung ngambil dari bak mandi, maka tetap usahakan duduk dan menggunakan tangan kanan. Karena aturan pesantren tetap berlaku kacuali terdesak.

Baca Juga :  Ini Doa Nabi Setelah Minum

Disebagian pesantren ada yang melarang santrinya makan atau minum dengan wadah plastik. Setiap ada acara, semisal seminar, pasti disuruh membawa bekal masing-masing dengan wadah yang ramah lingkungan. Menjaga lingkungan dari bekas wadah makanan atau minuman yang dapat menyebabkan kerusakan bumi.

Ada juga pesantren yang menganjurkan makan secara mayoran. Mayoran dalam arti satu nampan dengan beberapa orang. Artinya 3 atau 5 santri makan bersama dalam satu nampan. Hal ini merupakan anjuran Rasulullah Saw.. Beliau bersabda:

فاجتمعوا على طعامكم واذكروا اسم الله يبارك لكم فيه

Makanlah kalian secara bersama-sama, dan bacalah basmalah. Maka Allah Swt. akan memberikan keberkahan pada kalian (HR. Abu Daud).

Oleh karena itu, santri tidak diperbolehkan makan sendirian. Karena makan bersama dapat membawa keberkahan. Makanan yang biasanya tidak mengenyangkan, sebab bersama-sama bisa kenyang.

Banyak masih aturan dan etika makan ataupun minum yang diterpakan dalam setiap pesantren. Ini menandakan begitu besarnya perhatian pondok pada santri sehingga dalam urusan makan saja sudah diatur sedemikian rupa. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here