Etika Pendidik Perspektif K.H. Hasyim Asy’ari

0
203

BincangSyariah.Com – Etika merupakan satu aspek yang pentig dalam dunia pendidikan Islam. Perannya memiliki signifikasi yang besar dalam mencapai tujuan pendidikan. Yang mana pendidikan Islam merupakan proses pemahaman nilai-nilai dan bukan sekadar pemindahan ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik belaka. Sistem nilai yang melekat pada pendidikan Islam adalah nilai-nilai yang dijiwai oleh dasar ajaran Islam,yaitu Alquran dan as-Sunnah.

Dalam kaitannya dengan etika pendidikan Islam, K.H. Hasyim Asy’ari seorang tokoh, ahli dan praktisi pendidikan di Indonesia mengarang sebuah kitab yang berjudul Adab al-`Alim wa al-Muta`allim. Kitab ini secara khusus membahas dengan cukup rinci tentang etika seorang pendidik (alim) dan etika seorang peserta didik (muta’allim).

Kitab ini disusun pada tahun 1923 M/1343 H, tatkala mulai tampak perubahan-perubahan yang membawa efek negatif dalam pendidikan Islam terutama dampaknya pada masalah akhlak.
Pendidik merupakan bapak rohani (spiritual father) bagi peserta didik, yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskan perilakunya yang buruk.

Oleh karena itu, pendidik mempunyai kedudukan tinggi dalam Islam. Hal ini sesuai dalam kitab Ihya’ Ulum ad-Din yang menyatakan, seorang yang diberikan ilmu dan kemudian bekerja dengan ilmunya itulah yang dinamakan orang besar di bawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang mencahayai orang lain, sedangkan ia sendiri pun bercahaya ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum.

Senada dengan hal di atas, kitab Adab al-`Alim wa al-Muta`allim juga menyatakan, “Sesungguhnya mengajarkan ilmu adalah perkara yang paling penting menurut agama dan derajat orang mukmin yang paling tinggi….”. Tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawa hati manusia untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah Swt. Hal tersebut karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Baca Juga :  Mengenal Istilah-istilah dalam Ilmu Fikih (Bagian III)

K.H. Hasyim Asy’ari memaparkan dalam kitabnya Adab Al-‘Alim Wa Al-Muta’allim bahwa etika guru di antaranya adalah menyucikan diri dari hadas dan kotoran, berpakaian yang sopan dan rapi dan usahakan berbau wangi, berniat beribadah ketika dalam mengajarkan ilmu kepada anak didik; sampaikan hal-hal yang diajarkan oleh Allah, biasakan membaca untuk menambah ilmu pengetahuan, berilah salam ketika masuk ke dalam kelas; sebelum mengajar mulailah terlebih dahulu dengan berdoa untuk para ahli ilmu yang telah lama meninggalkan kita, berpenampilan yang kalem dan jauhi hal-hal yang tidak pantas dipandang mata, menjauhkan diri dari bergurau dan banyak tertawa, jangan sekali-kali mengajar dalam kondisi lapar, marah, mengantuk dan sebagainya.

Selain itu, beliau juga menganjurkan hal yang tak kalah penting berkaitan dengan proses belajar mengajar beberapa di antaranya ialah selalu melakukan introspeksi diri, mempergunakan metode yang mudah dipahami bagi peserta didik, membangkitkan antusias peserta didik dengan memotivasinya, memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu, dan lain sebagainya.

Terlihat bahwa apa yang ditawarkannya lebih bersifat teknis. Artinya, hal itu barangkat dari praktik yang selama ini dialaminya. Inilah yang memberikan nilai plus tersendiri pada konsep yang dikemukakan oleh K.H. Hasyim Asy’ari. Kehidupannya yang diabdikan untuk ilmu dan agama telah memperkaya pengalamannya dalam mengajar. Beliau memperhatikan hal-hal sampai detail, yang kelihatannya sangat sepele, seperti cara menegur dan mengajarkan kepada anak didik yang datang terlambat.

Pandangan K.H. Hasyim Asy’ari di atas, tampak relevansinya bila dibandingkan dengan pendidikan modern di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai (agama) dan norma-norma (susila). Maka, tawaran etika pendidik tersebut telah memberikan implikasi besar terhadap pendidikan Islam di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here