Etika Menyusun Urutan Buku Agama di Rak Buku

0
1448

BincangSyariah.Com – Seseorang yang pernah belajar di Pondok Pesantren pasti mengenal kitab atau buku agama. Kitab atau pun buku agama yang dimiliki perlu disusun rapi agar enak dilihat. Selain itu, buku yang tersusun rapi akan memudahkan kita mencarinya ketika hendak membacanya.

Koleksi kitab atau buku agama yang banyak memerlukan rak buku yang besar dan bertingkat. Buku-buku tersebut dikumpulkan berdasarkan jenisnya. Buku sosial dikumpulkan sesama buku sosial. Yang sejarah disatukan dengan buku sejarah, dan lain-lain. Lalu bagaimana cara peletakannya di rak? Apakah boleh kitab hadis diletakkan di bawah buku sejarah? Atau yang bertuliskan huruf arab diletakkan paling atas? Atau buku yang paling lama ada di posisi paling atas?

Menurut Ibnu Jamaah dalam risalah kecil berjudul Tadzkirah al-Sami’ wa al-Mutakallim fi adab al-‘alim wa al-Muta’allim peletakan kitab berdasarkan kedudukan sebuah ilmu, kemuliaannya, ataupun penulis, serta kehormatannya. Ini bila buku-buku tersebut disusun dengan posisi meningkat ke atas, bukan menyamping. Susunan yang diberikan oleh Ibnu Jamaah adalah sebagai berikut:

Pertama, Al-Qur’an ada di posisi paling atas. Sebab al-Quran adalah sumber dari semua ilmu. Letakknya pun diusahakan suci. Meletakkan al-Quran di posisi paling atas merupakan bentuk memuliakannya. An-Nawawi dalam al-Majmu’ mengatakan:

أجمع العلماء على وجوب صيانة المصحف واحترامه

Ulama sepakat mengenai wajibnya menjaga mushaf Al-Qur’an dan memuliakannya

Kedua, kitab matan hadis, seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, atau semacamnya. Sebab hadis bersumber dari Nabi Muhammad.

ما اثِرَ عنِ النبى ص م مِن قولٍ أو فعل أو تقرير أو صفة أو خَلْقِيّةٍ أوسِيَرَةٍ،سواء كان قبل البِعْثَةِ أو بعدها

Segala yang bersumber dari Nabi SAW. Baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, perangai, budi pekerti, perjalanan hidup, baik sebelum diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya

Ketiga, kitab-kitab tafsir Al-Qur’an dan syarah hadis, seperti Tafsir al-Jalalain, Ibnu Katsir, syarah Shahih Muslim, syarah Shahih Bukhari, dan lain-lain.

Baca Juga :  Nabi Khidir Sebut Imam asy-Syafi‘i Sebagai Wali Abdal

Keempat, kitab Ushuluddin, yaitu buku-buku agama yang menerangkan tentang tauhid dan akidah.

Kelima, kitab Ushul Fikih. Keenam, Fikih. Dan ketujuh, Ilmu Nahwu, Sharaf, Syair, ataupun ‘Arudh.

Apabila ada dua kitab yang kedudukannya sama, kitab yang memiliki kandungan Al-Quran dan hadis lebih banyak didahulukan. Jika masih tetap sama, acuannya adalah kemuliaan pengarangnya. Jika masih setara maka kitab yang lebih dulu dikarang. Dan jika tetap seperti itu, maka yang paling banyak sampai di tangan ulama dan para auliya untuk diajarkan.

Bagaimana dengan buku? Di atas juga berlaku pada buku bacaan. Jika buku itu buku agama kita klasifikasi apakah buku tersebut termasuk katagori hadis, katagori ilmu alat, atau yang lainnya. Setelah selesai, kita letakkan sesuai di atas. Mengenai buku umum dan agama, tentu buku umum ada dibawah buku agama.

Wallahu taala a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here