Enam Alasan Perbuatan yang Ditinggalkan Nabi Belum Tentu Haram (Bagian 1)

1
1153

BincangSyariah.Com –  Nabi Muhammad saw. sebagai pembawa risalah bertugas untuk menyampaikan hukum Alah Swt pada umatnya, dengan wafatnya beliau maka ajaran Islam telah sempurna. Dalam artian prinsip-prinsip ajaran Islam telah dituangkan dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw.

Sepeninggal Nabi Saw, tidak ada lagi wahyu yang turun menjelaskan ajaran agama. Kesempurnaan ini oleh sebagian kalangan dipandang sebagai hal yang sangat baku. Sehingga mereka beranggapan bahwa apapun yang tidak pernah dilakukan Nabi Saw hukumnya haram.

Mereka berargumen bahwa apa yang ditinggalkan oleh Nabi Saw, maka wajib kita ikuti. Sayyid Abdullah Al-Ghumari membahas tema ini secara khusus dalam risalahnya yang berjudul Husnu al-Tafahhum wa al-Darki li mas’alati al-Tarki. Di sana beliau menyampaikan bahwa ketika Nabi Saw tark (meninggalkan/tidak melakukan) suatu hal, itu sama sekali tidak menunjukkan atas haramnya hal tersebut.

Beliau melandasi argumennya dengan banyak dalil. Di antaranya adalah, bahwa ketika Nabi Saw tidak melakukan suatu hal tertentu, bisa jadi ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, karena faktor kebiasaan, seperti ketika Nabi Saw disuguhi daging dhab, beliau tidak memakannya karena di daerah beliau tidak ada makanan seperti itu, namun beliau mengatakan bahwa daging dhab tidaklah haram. Ini menunjukkan bahwa meskipun apa yang tidak dilakukan Nabi Saw tidak lantas menjadi haram.

Kedua, bisa jadi karena beliau lupa, seperti ketika salat kemudian meninggalkan salah satu rukunnya. Ketiga, karena beliau takut apa yang beliau kerjakan akan diwajibkan bagi umatnya, seperti ketika beliau meninggalkan salat tarawih di masjid setelah sebelumnya beliau melakukannya di masjid dan para Sahabat berbondong-bondong mengikuti apa yang beliau lakukan.

Keempat, ada kalanya Nabi Saw tidak melakukan sesuatu karena memang tidak terlintas dalam benak beliau, seperti ketika para Sahabat berinisiatif untuk membuatkan mimbar sebagai tempat beliau berkhutbah, beliau sepakat terhadap inisiatif tersebut. Sebelumnya Nabi Saw tidak memakai mimbar. Ini menunjukkan bahwa apa yang tidak dilakukan Nabi Saw tidak lantas menjadi haram.

Baca Juga :  Kisah Peter Sanders, Menemukan Islam Lewat Fotografi

Kelima, karena sudah ada dalil secara umum yang menjelaskan hukumnya, seperti beliau tidak salat Dhuha, dan kesunahan-kesunahan lain. Karena hukumnya sudah tercakup dalam ayat 77 surah Al-Hajj:

وَافْعَلُوْا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan perbuatlah kebajikan (khoir) supaya kamu sekalian mendapat kemenangan”

Keenam, beliau meninggalkan suatu hal karena menjaga perasaan para Sahabat. Dalam sebuah hadis yang dalam Sahih Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa Nabi berkata pada Aisyah ra “Andaikan tidak karena kaummu baru masuk Islam, niscaya aku robohkan baitullah dan membangunnya kembali sesuai dengan pondasi yang dibangun Ibrahim As, sesungguhnya orang-orang Quraisy mempersempit bangunannya” Nabi Saw mengurungkan niatnya membangun kembali baitullah demi menjaga hati para Sahabat yang belum kuat imannya karena baru masuk Islam. Dan masih banyak kemungkinan lain yang menjadi alas an Nabi Saw meninggalkan atau tidak mengerjakan suatu hal.

Maka, menghukumi haram pada suatu hal hanya dengan berdasarkan karena Nabi Saw tidak pernah melakukannya, adalah pendapat yang tidak dapat diterima, karena ketika Nabi Saw meninggalkan atau tidak melakukan suatu hal, ada beberapa kemungkinan yang menjadi alas an beliau seperti yang telah disebutkan di atas. Dan dalam kaidah Ushul Fiqh disebutkan:

ما دخله الاحتمال سقط به الاستدلال

Sesuatu yang mengandung beberapa kemungkinan, tidak bisa dijadikan dalil

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here