Empat Wasiat Nabi Nuh Agar Selalu Disayangi Allah dan Makhluk-Nya

2
2576

BincangSyariah.Com – Nabi Nuh as. lahir sekitar 126 tahun dari wafatnya Nabi Adam as. Nasabnya bersambung ke Nabi Idris as. dan Nabi Syis as., yaitu: Nuh bin Lamik bin Mutawasylakh bin Khanûkh (Idris) bin Yarid bin Mahlayil bin Qainan bin Anusy Bin Syis bin Adam ‘alaih as-salam sebagaimana disebutkan Ibn Kasir dalam Qasas al-Anbiya’ (2009: 75).

Beliau adalah rasul pertama yang diutus kepada penduduk bumi. Beliau diutus kepada kaum yang menyembah berhala dan setan dan menjalani kehidupan dalam kesesatan dan kekafiran. Pengutusan Nabi Nuh as. ini merupakan bentuk kasih-sayang Allah kepada para hamba-Nya agar mereka keluar dari kesesatan, kekafiran, dan kezaliman menuju cahaya iman dan kedamaian abadi. (hlm. 76).

Namun demikian, meskipun Nabi Nuh as. berdakwah siang hari dan malam dan mengerahkan segala cara dalam kurun waktu 950 tahun, tetapi mereka tetap ingkar dan semakin lari dari kebenaran. Sehingga Allah memusnahkan mereka semua melalui banjir bandang dan menyelamatkan Nabi Nuh as. beserta orang-orang yang mengimaninya. Hal ini dilakukan karena ada permintaan langsung Nabi Nuh as. kepada Allah (al-‘Ankabut (29): 14-15 & Nuh (71): 6 & 26-27).

Oleh karena itu, beliau selain termasuk ulul ‘azmi (gelar yang diberikan kepada para rasul karena ketabahannya dalam berdakwah, yaitu: Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as., Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad saw.), juga dianggap sebagai abu al-basyar ats-sani (bapak manusia kedua). Sebab, Nabi Nuh as. adalah orang yang meneruskan kehidupan manusia sampai sekarang setelah peristiwa banjir bandang tersebut.

Allah memuji perjuangan dan keteguhan dakwah Nabi Nuh as., mengecam keingkaran dan kezaliman kaumnya, serta menimpakan azab kepada mereka yang diabadikan dalam beberapa surat al-Qur’an, seperti: al-A‘raf, Hud, al-Anbiya’, al-Mu’minun, asy-Syu‘ara’, al-‘Ankabut, as-Saffat, al-Qamar, an-Nisa’, al-An‘am, at-Taubah, Ibrahim, al-Isra’, al-Ahzab, Sad, asy-Syura, Qaf, az-Zariyyat, al-Hadid, dan at-Tahrim (hlm. 76-81).

Baca Juga :  Mengenal Buya Syakur Yasin: Kyai Berwawasan Luas asal Indramayu

Bahkan nama Nabi Nuh as. sendiri diabadikan menjadi salah satu nama surah al-Qur’an yang secara khusus menceritakan perjuangan dakwah Nabi Nuh as. dan kaumnya yang kafir, durhaka, dan zalim (Nuh (71): 1-28).

Selain itu, Allah memuji Nabi Nuh as. sebagai ‘abdan syakura (hamba yang banyak bersyukur), sebagaimana disebutkan dalam al-Isrâ’ (17): 3. Sebab, beliau senantiasa bersyukur kepada Allah, baik menyangkut makanannya, minumannya, pakaiannya, dan semua urusannya. Menurut Rasulullah saw., Allah memang senang (rela) kepada seorang hamba yang senantiasa bersyukur kepada Allah meskipun hanya memakan sesuap nasi dan meminum seteguk air (hlm. 101).

Kemudian, ketika mau wafat, Nabi Nuh as. berpesan kepada anak-anaknya agar mengerjakan dua hal dan meninggalkan dua hal. Dua hal yang harus dikerjakan adalah: pertama, senantiasa membaca dan berpegang teguh kepada la ilaha illallah: “tiada Tuhan selain Allah”. Sebab, seandainya langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis disatukan dan kemudian ditimbang dengan la ilaha illallah, maka masih lebih berat la ilaha illallah. Selain itu, seandainya langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis menyatu dan membentuk lingkaran yang kokoh, maka la ilaha illallah bisa memutus dan menghancurkannya. 

Kedua, senantiasa membaca dan berpegang teguh kepada subhanallah wa bi hamdihi “Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya”. Sebab, kalimat subhanallah wa bi hamdihi merupakan hubungan (koneksi) segala sesuatu kepada Allah dan dengan subhanallah wa bi hamdihi ini pula Allah memberikan rezeki kepada seluruh makhluk.

Adapun dua hal yang harus ditinggalkan adalah: pertama, syirik. Kedua, sombong. Menurut Rasulullah saw., sombong di sini bukan karena memakai pakaian mewah, atau memiliki banyak perhiasan, atau mengenderai kendaraan mewah, atau memiliki teman dan relasi yang banyak. Namun, yang dinamakan sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia (hlm. 103).

Baca Juga :  Tingkat Sosial, Religi dan Teknologi Kaum Nabi Nuh

Habib Zain bin Smith menyebutkan bahwa salah satu sumber maksiat adalah sombong. Perbuatan ini dilakukan pertama kali oleh iblis yang tidak mau melaksanakan perintah Allah, yaitu bersujud kepada Nabi Adam as. Iblis menolak perintah Allah tersebut karena merasa lebih baik daripada Nabi Adam as. Sehingga ia dilaknat sampai hari kiamat karena kesombongannya. Sebab, kesombongan hanyalah milik Allah semata. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Fawa’id al-Mukhtarah (2008: 406).

Keempat wasiat Nabi Nuh as. ini mengajarkan dua hal, yaitu: menjaga hubungan baik dengan Allah dan sesama manusia. Kedua hal ini sangat ditekankan dalam al-Qur’an: “maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu (al-Anfâl (8): 1).” Pertama, Allah adalah Tuhan Yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang ada dalam kehidupan ini. Sehingga manusia yang maha lemah harus senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya, baik atas segala hajat hidup (dunia maupun akhirat), maupun dalam menjalani kehidupan dunia yang seringkali berjalan di luar jangkauan akal.

Sebab, meminjam istilah Bindereh Abduh (Pasean Madura), Allah adalah Zat Yang Maha Menetapkan dan juga Maha Mengubah. Sesuatu yang menurut akal pasti bisa dan langgeng terkadang berubah dan berhenti di tengah jalan. Sebaliknya, perkara yang menurut akal tidak mungkin bisa dan pasti berubah terkadang berjalan dengan mudah dan kekal. Di sinilah, meminjam istilah Sujiwo Tejo, Allah memang Maha Asyik!

Kedua, kita tidak boleh merasa diri lebih baik dan kemudiaan seenaknya merendahkan orang lain. Meskipun kita tidak suka perilaku buruk seseorang, tetapi tidak boleh benci apalagi merendahkan kemanusiaannya. Sebab, Allah sendiri telah memuliakan manusia melebihi makhluk-makhluk lain (al-Isrâ’ (17): 70). Selain itu, semua manusia adalah bersaudara (ukhuwwah basyariyyah) dan merupakan mitra dalam mengemban amanah untuk mengelola dan memakmurkan bumi.

Baca Juga :  Mengenal al-Khawarizmi: Membawa Konsep Angka 0 ke Dunia Islam

Dengan demikian, kita tidak boleh sombong dan merendahkan orang lain hanya karena berbeda pemikiran, kepercayaan, agama, mazhab, organisasi, partai politik, status sosial, pekerjaan, warna kulit, jenis kelamin, dan tingkat pengetahuan. Ketika hubungan baik di antara sesama manusia terjalin erat, maka kita bisa terhindar dari virus kebencian, caci-maki, konflik, dan perang. Sebaliknya, ketika kita sudah saling hujat dan merendahkan satu sama lain, maka kekhawatiran para malaikat menemukan jawabannya, yaitu: “apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana (bumi)? (al-Baqarah (2): 30).”

Imam Ali as. pernah berkata: “jadilah kamu orang yang paling baik di sisi Allah dan jadilah kamu orang (yang merasa) paling buruk di sisi manusia.” Oleh karena itu, menurut Syekh ‘Abdul Qadir Jailani, ketika kita bertemu seseorang, maka tanamkan dalam hati kita bahwa dia lebih baik daripada kita. Sebab, meskipun secara lahir dia tampak lebih rendah daripada kita, tetapi bisa jadi secara ruhani dia memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dan mulia di sisi Allah. Hal ini sebagaimana dijelaskan Imam Nawawi al-Jawi dalam Syarh Nasa’ih al-‘Ibad (hlm. 12). Allah berfirman: “maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia Mengetahui tentang orang yang bertakwa (an-Najm (53): 32).”

Bahkan sebagian ulama melarang kita merasa lebih baik dari orang kafir. Sebab, bisa jadi dia masuk Islam dan mengakhiri hidupnya dengan kebaikan dan bisa jadi kita menjadi kafir dan mengakhiri hidup dengan keburukan. Sebab, seseorang dinilai dari akhir hidupnya (al-Fawa’id al-Mukhtarah, hlm. 407). Dengan demikian, kita bisa terhindar dari sikap sombong, yaitu merasa diri lebih baik dan merendahkan orang lain, sebagaimana pernah dilakukan oleh iblis dahulu kala. Na‘ûżubillâh! Ketika kita sudah meninggalkan sikap sombong, maka kita akan menerima kebenaran dengan senang hati dari manapun datangnya.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here