Ini 4 Ulama yang Diangkat Menjadi Pejabat dalam Sejarah Islam

0
13

BincangSyariah.Com – Dalam sejarah Islam,  ada beberapa ulama yang  menduduki jabatan tinggi strategis. Mereka diangkat menjadi pejabat negara. Ada sahabat yang menjadi gubernur di beberapa tempat. Ada ulama yang diangkat menjadi pejabat, seperti kadi (Hakim). Ada pula yang diangkat menjadi komando dalam medan perang.

Fungsi para ulama di sini bukan saja sebagai intelektual, tetapi lebih jauh, mereka ambil bagian dalam jabatan politik dan jabatan publik. Sejatinya tak ada masalah dengan gelar ulama. Toh, banyak juga ulama yang umaro. Mereka bekerja keras demi masyarakat luas.

Nah, di bawah ada empat orang ulama yang diangkat menjadi pejabat publik.

  1. Abu Darda

Nama asli beliau adalah Uwair bin Zaid bin Qais. Beliau adalah sahabat nabi dari golongan suku Anshar. Abu Darda adalah seorang pribadi yang jujur dan punya dedikasi tinggi terhadap Islam. Oleh baginda Nabi Muhammad, Abu Darda dipersaudarakan dengan Salman Al- Faris.

Beliau  menjabat sebagai kadi pada masa khalifah Umar ibn Khattab. Ia merupakan sahabat yang hafal Alquran. Selain itu, kecakapan beliau dalam ilmu Fiqih, membuat sang Khalifah menunjuk dirinya menjadi hakim  di Madinah untuk memutus perkara di antara umat.

  1. Abu Musya al-Asyari

Siapa yang tak kenal dengan sahabat nabi ini. Sosok yang sangat bersahaja dan memiliki pengetahuan yang tinggi. Abu Musa adalah sosok yang ahli dalam hukum Islam. Pemikirannya tajam, dan mampu menjawab pelbagai persoalan yang sulit sekalipun.

Sahabat Nabi yang bernama asli Abbdulah bin Qais ini seorang yang ahli dalam berfatwa. Hal ini pula yang memantik umar bin Khattab mengangkatnya menjadi kadi. Itu semua berkat kepiawaian ilmu beliau.

Dalam kitab Al-Qadha Fil Islam, dijelaskan Abu Musa al-Asyari pun pernah dilantik menjadi Gubernur (Amir) Kufah. Ia juga pernah dilantik menjadi gubernur mesir. Dalam bidang pertempuran, ia ditunjuk oleh Rasul dan Umar sebagai komandan perang dalam pertempuran Authas. Itulah sekelumit jabatan strategis yang dipegang sahabat yang banyak meriwayatkan hadist ini.

  1. Abu Yusuf

Ulama yang  berasal dari Baqdad memiliki nama asli Ya’qub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari. Abu Yusuf  diangkat  menjadi pejabat dengan jabatan hakim agung pada era dinasti Abbasiyah. Dalam Kitab Bidayah wa al Nihayah,  dijelaskan bahwa lahir di Kufah pada tahun 113 Hijrah.  Abu Yusuf merupakan pakar dan ahli ilmu; Fiqih, Ushul Fiqih, ekonomi, dan mantik.

Kecakapan dalam ilmu pengetahuan ia dapatkan karena sikap yang haus akan ilmu. Sembari itu, beliau berguru kepada ulama-ulama hebat masanya. Certatat beberapa nama yang pernah menjadi gurunya, antara lain; Abu Hanifah, Abul Qasim Abdul Wahid as Saimari dan  Ibnu Abi Laila.

  1. Al-Kindi

Darah biru sudah mengalir dalam diri Al-Kindi sejak balita. Ia lahir terlahir dari keturunan bangsawan. Punya akses kepada kerajaan  Abbasiyah. Di era Khalifah al-Mahdi (775-785M)  dan  khalifah Harun Arrasyid (786 M – 809 M) ayahnya menduduki jabatan gubernur.

Al-Kindi lahir dan hidup di era dinasti Abbasiyah dalam kejayaan. Dunia Islam kala itu menjadi lokomotif peradaban dunia. Kejayaan segala lini, terutama ilmu pengetahuan, membuat al-Kindi menjadi sosok yang sangat cerdas. Ia menguasai lintas disiplin ilmu pengetahuan.  Bukan hanya yang datang dari dunia Islam, dari  luar pun ia tampung.

Ia dalam bidang filsafat. Al- Kindi pun ahli dalam berhitung. Dan salah satu keahliannya di bidang kodekteran.  Untuk itu, ia pun diangkat menjadi dokter spesialis kerajaan Abbasiyah  pada era Al-Amin (809 – 813 M)  hingga Al-Wasiq (842 – 847 M).

Demikianlah para ulama yang  menjadi pejabat negara. Mereka berkiprah dalam jabatan publik. Dengan pangkat yang tinggi, mereka dedikasikan ilmunya untuk umat dan masyarakat luas. (Baca: Tujuh Ulama yang Dipenjara Era Khalifah Islamiyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here