Empat Ilmu dalam Surah al-Fatihah

1
12769

BincangSyariah.com – Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid, ayat-ayat dalam surah al-Fatihah ini menjadi prinsip atas empat ilmu pokok yang ada dalam Islam. Pertama adalah ‘ilm al-Ushul (ilmu tentang dasar-dasar agama/ketuhanan). Dalam ilmu tersebut, terkandung tentang ilmu bagaimana kita mengenal Allah, mengenal para Nabi, dan adanya hari akhir. Kandungan pertama terdapat dalam ayat Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin, Arrahmaanirrahiim. Kandungan kedua dalam potongan ayat «  … alladziina an’amta ‘alaihim… ». Kandungan ketiga terdapat dalam potongan ayat « Maaliki yaumid Diin ».

Ilmu kedua adalah ‘ilm al-Furu’. Ilmu ini utamanya berisi tata acara ibadah baik ibadah fisik maupun ibadah melalui harta. Dari ibadah fisik dan harta tersebut, kita juga mengenal aspek lain dalam ‘ilm al-furu’ yaitu persoalan kehidupan yang tercakup dalam muamalah (tata cara berinteraksi sesama manusia terutama dalam persoalan harta) dan munakahat (tentang pernikahan antara laki-laki dan perempuan). Semuanya ini sebenarnya tercakup di dalam potongan ayat “al-shiraathal mustaqiim”.

Ilmu ketiga adalah ‘ilm al-Akhlaq. Ilmu ini berisi tentang tata cara istiqamah (teguh dan konsisten) menjalankan ajaran agama. Ini tercakup sebenarnya di dalam potongan ayat, “iyyaaka nasta’iin”.

Ilmu keempat adalah ‘ilm al-Qashas wa al-Akhbar. Ilmu tentang kisah-kisah dan cerita Nabi dan umat terdahulu. Ilmu tentang ini terkandung intisarinya di dalam ayat « alladziina an’amta ‘alaihim » untuk menyebut mereka yang beriman. Dan di dalam ayat « ghair al-maghdhubi ‘alaihim wa laaddhalliin » untuk menyebut mereka yang kafir dan membangkang kepada Tuhan.

Kesimpulan-kesimpulan seperti ini banyak dirumuskan oleh para ulama terdahulu untuk menegaskan bahwa segala ilmu yang ada di dunia ini sebenarnya merupakan intisari yang terdalam dalam Alquran. Saya mencoba menghadirkan contoh lain tentang upaya para ulama untuk menyimpulkan bahwa segala sesuatu di dunia ini pada dasarnya sumbernya berasal dari Alquran, lalu al-Fatihah, Bismillah, huruf ba di awal kalimat, sampai titik di huruf ba itu sendiri. Berikut saya kutipkan dari kitab Hasyiyah Baijuri ‘ala Ibn Qasim karya Syaikh Ibrahim al-Baijuri. Karya ini merupakan catatan dan komentar atas kitab Fath al-Qarib, kitab fikih bermazhab Syafi’i

Baca Juga :  Syaikh Ibnu Taimiyah, Sosok Ulama Hebat tapi Banyak yang Tak Suka

معاني كلّ الكتب مجموعة في القرآن ومعاني القرآن مجموعة في الفاتحة ومعاني الفاتحة مجموعة في البسملة ومعاني البسملة مجموعة في بائها. ومعناها الإشاري  بي كان ما كان وبي يكون ما يكون ومعاني الباء في نقطتها … ومعناها الإشاري أن ذاته تعالى نقطة الوجود المستمد منها كلّ الموجود

Makna-makna dalam kitab-kitab (kitab suci terdahulu) terkumpul di dalam Alquran. Dan makna dalam Alquran itu terkumpul di dalam al-Fatihah. Makna dalam al-Fatihah terkumpul dalam kalimat basmalah. Makna dalam basmalah itu terkumpul dalam huruf ba-nya. Salah satu dimensi isyarat maknanya adalah « Karena Allah segala sesuatu yang ada menjadi ada, dan karena-Nya segala sesuatu yang akan ada menjadi ada ». Makna dalam huruf ba’ itu terkumpul dalam titiknya. Dimensi isyarat maknanya adalah bahwa Zat Allah itu adalah titik menjadi sumber segala sesuatu yang ada di alam wujud ini.

Kalau melihat ketajaman para ulama dalam meresapi makna agama, kitab suci, dan relasi keduanya dengan Pencipta Alam Semesta ini, saya selalu terkesima.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here