Empat Faktor Penyebab Perceraian di Indonesia

0
21

BincangSyariah.Com – Angka Perceraian di Indonesia terbilang cukup tinggi. Dari hasil riset Narasi TV, terdapat empat faktor penyebab perceraian  di Indonesia semakin naik setiap tahun. Tentu ini sebuah peringatan dini bagi kehidupan berumah tangga Indonesia.

Setiap manusia pasti punya siklus kehidupan yang rata-rata hampir serupa. Lahir ke dunia, tumbuh besar dibawah asuhan orangtua, kemudian memutuskan untuk menikah. Tentu ada pula orang-orang yang memutuskan untuk membuat cerita sendiri. Mengambil sikap untuk tidak menikah dan berkomitmen mengaktualisasikan diri demi kegiatan yang produktif.

Tapi jika bicara soal pernikahan, hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dipikirkan dalam semalam. Perlu upaya yang cukup besar untuk membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Belum lagi perihal tanggung jawab anak yang dipegang bersama dan permasalahan yang dihadapi saat menjalankan biduk rumah tangga. Kesimpulannya, perlu orang yang tepat agar biduk tersebut tidak oleng lalu karam saat dihantam gelombang masalah.

Saat menikah, tentu tidak ada pikiran akan berpisah ketika mengucap janji setia. Ketika laki-laki terpekur mendengarkan ayah atau wali mempelai perempuan, yang terpikirkan dalam benak mereka adalah bagaimana kehidupan bisa bahagia dan berjalan semestinya. Maka perceraian adalah pantang untuk terlintas di dalam pikiran.

Namun siapa yang tahu? Angka perceraian di Indonesia tiap tahun justru semakin meningkat. Data dari Narasi TV mencatat setidaknya sepanjang tahun 2019 tercatat ada 439.000 kasus peceraian di Indonesia. Dan jumlah ini hampir seperempat dari total pernikahan yang terjadi selama tahun 2019.

Empat Faktor Penyebab Perceraian di Indonesia

Faktor pertama yang menjadi penyebab perceraian naik di Indonesia adalah perselisihan dan pertengkaran. Menurut seorang psikologi anak dan keluarga, Anna Surti Ariani menyebut 53% kasus perceraian terjadi karena perbedaan pendapat antara suami dam istri, yang berujung dengan pertengkaran.

Penyebab utama pertengkaran karena komunikasi yang buruk dalam keluarga. Aktivitas yang berbeda dari pasangan setiap harinya menimbulkan ganjalan-ganjalan dalam pikiran mereka. Ganjalan itu berubah menjadi masalah yang dibiarkan membenam di dalam benak  psangan masing-masing.  Ini ibarat bom waktu, jika terus dibiarkan,  tanpa ada solusi akan meledak kapan saja.

Faktor kedua yang membuat angka perceraian tinggi adalah ketercelaan yang dilakukan oleh salah satu pihak (nusyuz).  Dalam Alquran dijelaskan  nusyuz itu bisa datang dari seorang istri. Allah berfirman dalam Alquran yang terdapat dalam surat an-Nisa;

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوۡنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعۡضَهُمۡ عَلٰى بَعۡضٍ وَّبِمَاۤ اَنۡفَقُوۡا مِنۡ اَمۡوَالِهِمۡ‌ ؕ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ‌ ؕ وَالّٰتِىۡ تَخَافُوۡنَ نُشُوۡزَهُنَّ فَعِظُوۡهُنَّ وَاهۡجُرُوۡهُنَّ فِى الۡمَضَاجِعِ وَاضۡرِبُوۡهُنَّ‌ ۚ فَاِنۡ اَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُوۡا عَلَيۡهِنَّ سَبِيۡلًا‌ ؕاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيۡرًا

Artinya:  Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).

Isteri-isteri yang kamu khawatirkan akan melakukan perbuatan nusyuz maka nasihatilah mereka, pisahkan diri dari tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka sudah sadar, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka, sesungguhnya Allah Maha Tinggi Lagi Maha Besar.” (Q.S An-Nisa’; 34)

Pun nusyuz itu terkadang datang dari pihak suami. Hal ini berlandaskan pada adalah surah An-Nisa ayat 128 yang berbunyi :

وَ اِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوْزً أَوْ اِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ

Artinya : “Jika seorang isteri khawatir akan nusyuz atau sikap acuh tak acuh suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian. Yang sebenarnya perdamaian itu lebih baik bagi mereka walaupun manusia pada hakikatnya bersifat kikir.” (Q.S An-Nisa ;128).

Terkait masalah ketercelaan ini, Islam memberikan langkah-langkah untuk mendamaikan antara suami istri yang nusyuz, maka langkah awal yang dilakukan oleh suami pada istri adalah memberikan nasihat. Suami memberikan gambaran dampak apa yang bisa diambil baik dari sisi positif maupun negatif (at-tarhib wa tarhib).

Jika cara pertama tidak berhasil, maka lakukan pisah tempat tidur antara suami dengan istri meski keduanya berada dalam satu rumah. Hal ini bertujuan agar istri dalam merefleksikan diri atas kesalahan yang telah dilakukan. Kalau semua cara telah ditempuh dan tidak ada itikad baik dari istri, maka lakukan tindakan ‘pukulan’ namun tanpa melukai dan bersifat membahayakan.

Faktor ke tiga yang memengaruhi perceraian adalah masalah ekonomi. Hal ini berdasarkan pada data Direktorat Jenderal Badan Pengadilan Mahkamah Agung Republika Indonesia. Faktor ekonomi menjadi penyebab banyak pengugat perceraian.

Terlebih saat pandemi seperti saat sekarang ini, faktor ekonomi pun menjadi salah satu alasan banyak biduk rumah tangga berpisah. Dalam riset Narasi TV,  merosotnya ekonomi menyumbang angka 2,6% penyebab perceraian di Indonesia.

Dalam Islam dijelaskan, apabila istri tidak mendapatkan nafkah selama 6 bulan dan ditinggalkan oleh suami tanpa kabar maka diperbolehkan untuk mengajukan perceraian. Hal ini diungkapkan oleh Ketua komisi dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis. Namun bukan berarti kondisi ekonomi yang sulit selama pandemi menjadikan perceraian sebagai solusi

Faktor ke empat yang membuat maraknya  perceraian adalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Terkadang dalam rumah tangga kerap dihadapi oleh KDRT. Walau pun begitu, tidak ada satu alasan yang dapat membenarkan perilaku kekerasan. Begitu juga dengan Islam yang mengusungkan perdamaian dan kelembutan.

Dalam hadits qudsi Allah ta’ala berfirman,

يَاعِبَا دِيْ إِنِّيْ حَرَمْتُ الظُلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتَُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَا لَمُوْ

“Wahai hamba-hambaku! Sesungguhnya aku telah mengharamkan kezaliman atas diriku. Dan aku menetapkannya sebagai perkara yang diharamkan diantara kalian. Maka janganlah kalian saling menzalimi”. (Shalih Muslim (IV/1583), (2577).

Solusi Untuk  Mengantisipasi Perceraian

Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi ‘ledakan’ perceraian di dalam rumah tangga, ada cara yang paling sederhana yaitu membuka obrolan.  Membuka pembicaraan dan saling terbuka (taradhin) pada masalah yang dirasakan akan meminimalisir terjadinya perselisihan.

Ketika sebuah keterbukaan yang berlandaskan pada kerelaan hadir, maka muncul kesepakatan untuk bermusyawarah (tasyawurin). Musyawatah bertujuan untuk mencari solusi atas pemecahan masalah yang saat ini tengah dihadapi.

Dalam Al-Quran sendiri sesungguhnya telah dijabarkan perihal keterbukaan dan musyawarah sebagai kebijakan yang harus diberlakukan dalam rumah tangga. Bahkan misalnya dari segi mengurus anak seperti yang tercantum di dalam Q.S Al-Baqarah; 233:

فَاِنْ اَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗوَاِنْ اَرَدْتُّمْ اَنْ تَسْتَرْضِعُوْٓا اَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِذَا سَلَّمْتُمْ مَّآ اٰتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Maka apabila keduanya (ayah dan ibu, atau suami dan isteri) menghendaki (untuk) menyapih (anak mereka sebelum usia dua tahun), dengan kerelaan dan atas dasar musyawarah, maka tidak ada dosa bagi keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,”.

Ayat di atas menjelaskan jika tidak hanya istri yang bertugas untuk merawat anak. Suami selaku ayah juga bisa mengambil andil dalam tugas tersebut. Sehingga ketika istri merasa lelah dengan kegiatan domestik, suami bisa ikut membantu. Tentu harus ada keterbukaan, musyawarah dan kerelaan antar keduanya. Sehingga setiap anggota keluarga aktif dan berpartisipasi tanpa ada saling mendominasi.

Cobalah untuk meluangkan waktu di sela-sela kesibukan untuk berbicara dari hati ke hati tanpa terdisktraksi oleh suatu apa pun, entah itu pekerjaan atau gawai. Membuat percakapan yang intim bisa  menjaga keharmonisan pada rumah tangga.

Namun bagaimana jika sudah terbuka dan bermusyawarah tapi pertengkaran tetap terjadi? Perselisihan di dalam rumah tangga memang hampir tidak bisa terelakkan. Oleh karenanya Islam memberikan jalan alternatif lain untuk melakukan penyelesaian dengan cara menghadirkan pendamai (hakam) yang berasal dari keluarga.

Ketentuan ini diatur dalam surah Q.S An-Nisa’ : 35 yang berbunyi:

وَ اِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيْدَآ اِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيْمًا خَبِيْرًا

Artinya : “Dan jika kamu khawatir ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (juru damai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan, jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Mengenal.

Juru damai dalam Islam, bisa saja dari keluarga terdekat, sanak famili, teman, atau saudara yang lain, yang dipercayai para pasangan suami istri. Bila tak juga ada jalan tengah, juru damai juga bisa diserahkan kepada hakim pengadilan agama. Tujuannya untuk mendamaikan kedua pihak yang berselisih.

Demikianlah sekilas pembahasan empat faktor penyebab perceraian di Indonesia yang marak  kian melonjak. Semoga ke depan angka perceraian  ini semakin menurun.

(Baca: Ini Tiga Istri yang Pernah Dicerai Rasulullah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here