Ekspresi Idul Fitri dalam Keluarga Rasulullah dan Penduduk Madinah

0
962

BincangSyariah.Com – Pada masa Rasulullah, penduduk Madinah merayakan Hari Raya mereka dengan suka cita. Rumah baginda Nabi Muhammad dan lokasi sekitar rumah beliau menjadi saksi atas kebahagiaan tersebut. Mereka menyebut Hari Raya mereka dengan sebutan al-Ied, yang secara harfiah bermakana kebahagiaan yang terulang setiap tahun. Penduduk Madinah mengekspresikan kebahagiaan mereka di hadapan baginda Rasulullah, karena mereka sangat mencintai dan memuliakan beliau Saw. (Baca: Tradisi Sungkeman Setiap Hari Raya Idul Fitri)

Berikut beberapa ekspresi kegembiraan Idul Fitri yang pernah terjadi dalam keluarga Rasulullah dan penduduk Madinah:

Pertama, Rasululah ketika Hari Raya memakai pakaian yang baik, melebihi hari-hari yang lain. Imam Nawawi dalam al-Majmu’ meriwayatkan, Ibnu Abbas bercerita, ketika Hari Raya, Rasulullah memakai pakaian Hibarah (pakaian asal Yaman yang indah).

Imam Bukhari dalam Sahih Bukhari juga meriwayatkan, suatu hari Umar membawa jubah dari istabraq (sutra tebal) yang dijual di pasar. Umar lalu membawa baju tersebut menemui Rasulullah Saw., lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Belilah jubah ini, agar bisa engkau pakai berdandan pada saat Hari Raya dan saat menerima para utusan.” Rasulullah menjawab, “Jubah sutra ini adalah pakaian orang yang tidak memiliki bagian (akhirat)”.

Hadis ini merupakan pengajaran bahwa dalam hari raya kita disunahakan untuk memberi kelapangan pada keluarga dengan memberikan mereka pakaian yang terbaik, selama pakaian tersebut bukanlah pakaian yang diharakan, seperti sutra untuk kaum laki-laki.

Selain memberikan kelapangan dalam hal pakaian, disunahkan pula memberi kelapangan makanan, minuman, dan hidangan demi untuk menampakkan kegembiraan pada saat Hari Raya, sebagaimana dijelaskan oleh Zakariya al-Anshari dalam Asna al-Mathalib.

Kedua, Ahmad Syihabuddin al-Qulyubi dalam an-Nawadir menceritakan, suatu hari Rasulullah akan melaksanakan salat Hari Raya, sementara anak-anak sedang bermain. Di antara mereka ada anak yang duduk di tepi jalan sambil menangis, dan hanya mengenakan pakaian lusuh.

Baca Juga :  Meriwayatkan Hadis dari Jin, Mungkinkah ?

Nabi kemudian bertanya, “Wahai anak kecil! Apa yang membuatmu menangis, dan tidak bermain bersama anak-anak yang lain?

Anak itu menjawab, dia tidak tahu bahwa yang bertanya adalah Rasulullah Saw, “Tinggalkan aku sendiri. Sesungguhnya ayahku telah meninggal dalam sebuah peperangan bersama Nabi Saw. Sedangkan ibuku telah menikah dengan laki-laki lain, dan laki-laki itu memakan hartaku serta mengusirku dari rumah. Aku tidak lagi memiliki makanan, minuman, pakaian dan rumah tempat tinggal. Ketika aku melihat anak-anak yang masih memiki ayah, mereka bermain memakai baju baru, maka aku teringat dengan kesedihan dan musibahku, karena itulah aku menangis.

Raulullah Saw kemudian memegang tangan anak itu, dan berkata, “Apakah engkau tidak rela, jika aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Fathimah menjadi saudarimu, Ali menjadi pamanmu,serta Hasan dan Husain menjadi saudaramu?

Anak kecil itu menjawab, “Bagaimana aku tidak rela wahai Rasulullah?

Rasul kemudian membawa anak itu ke rumah, lalu diberi pakaian terbaik, didandani, diberi makan, dan hatinya dibuat senang.

Anak kecil itu lalu keluar dari rumah Rasulullah dengan tersenyum gembira, lari menemui teman-temannya.

Ketika teman-temannya melihat, mereka bertany, “Bukankah baru saja engkau menangis, kenapa sekarang engkau terlihat senang?

Anak itu menjawab, “Semula aku lapar, sekarang aku kenyang. Semula aku telanjang, sekarang aku memakai pakaian. Semula aku yatim, sekarang Rasulullah Saw menjadi ayahku, Aisyah menjadi ibuku, Fathimah menjadi saudariku, dan Ali menjadi pamanku.

Teman-teman anak itu kemudian mengatakan, “Seandainya ayah-ayah kami semua meninggal dalam peperangan tersebut”.

Anak kecil itu kemudian hidup bersama Rasulullah Saw, sampai beliau meninggal dunia.

Baca Juga :  Kunjungan Grand Syaikh Al-Azhar ke PBNU

Pada saat itu, dia keluar rumah sambil menangis dan menaburkan debu di atas kepalanya sambil mengatakan, “Sekarang aku menjadi yatim, dan sekarang aku sendiri”.

Anak itu selanjutnya diasuh oleh Abu Bakar ash-Shiddiq.

Kisah ini mengajarkan kepada kita, pada saat Hari Raya selain membahagiakan diri sendiri dan keluarga, kita juga harus membahagiakan orang-orang di sekitar kita yang kurang beruntung. Dengan berbagi kebahagiaan, maka kebahagiaan kita akan semakin sempurna.

Ketiga, ke gembiraan yang terjadi di rumah baginda Nabi diceritakan oleh Aisyah r.a dalam Sahih Bukhari: Rasulullah masuk ke dalam rumah menjumpai diriku, dan di dekatku ada dua orang gadis yang sedang bernyanyi dengan nyanyian perang Bu’ats. Rasulullah pun duduk di atas alas duduk dan memalingkan wajah beliau. Abu Bakar lalu masuk dan menghardikku dengan mengatakan: “Suara setan di depan Nabi!”. Rasulullah kemudian menghampiri Abu Bakar dan bersabda, “Biarkan kedua gadis itu”. Setelah Baginda Nabi tidak memperhatikan lagi, maka aku memberi isyarat kepada kedua gadis itu, dan mereka pun keluar.

Dalam riwayat lain Baginda Nabi bersabda pada Abu bakar, “Biarkan mereka berdua wahai Abu Bakar! Sesungguhnya setiap kaum memiliki Hari Raya, dan Hari Raya kita dalah hari ini”.

Suara setan” yang dimaksud oleh Abu Bakar adalah suara ad-duf (rebana) dan suara nyanyian.

Keempat, tidak jauh dari rumah baginda Nabi, penduduk Madinah juga merayakan Hari Raya. Aisyah melanjutkan kisahnya: Pada Hari Raya orang-orang Sudan bermain perisai dan tombak pendek, lalu ada kalanya aku yang meminta kepada Baginda Saw. dan ada kalanya beliau yang menawarkan, “Apakah engkau ingin hadir melihat mereka?” Aku menjawab, “Iya”. Rasul kemudian menyuruh aku berdiri di belakang beliau, dan pipiku menempel pada pipi beliau. Beliau mengatakan, “Teruskan wahai Bani Arfidah”. Sampai ketika aku telah bosan beliau bertanya, “Apakah telah cukup?” Aku menjawab, “Iya”. Beliau mengatakan, “Kalau begitu pulanglah!”.

Baca Juga :  Menko Kemaritiman Tulis Kenangan tentang Mbah Maimoen

Dalam Sunan Turmudhi diceritakan bahwa tarian orang Habasyah (Abisinea) tersebut juga di tonton oleh anak-anak Madinah. Aisyah menceritakan, “Rasulullah sedang duduk-duduk, kemuddian kami mendengar suara ribut dan suara anak-anak. Rasulullah Saw. kemudian berdiri untuk melihat, ternyata orang Habasyah sedang menari dan anak-anak menonton di dekat mereka…”.

Muhammad bin Ismail dalam Subulussalam menceritakan, tarian orang Habasyah ini ditentang oleh Umar bin Khattab, akan tetapi Rasulullah membela mereka dengan mengatakan, “Biarkan mereka”. Dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Agar orang-orang Yahudi tahu bahwa dalam agama kita ada kelapangan, dan aku di utus dengan membawa agama yang lurus dan toleran.

Dari gambaran Hari Raya keluarga Rasulullah dan penduduk Madinah, kita bisa mengambil pelajaran bahwa menampakkan kebahagiaan pada hari Raya adalah bagian dari Syiar agama Islam. Rasulullah mencontohkan dengan memakai pakaian yang baik, melapangkan keluarga dan orang-orang yang kurang beruntung, tidak melarang bermain rebana, bernyanyi, menari tarian perang atau ekspresi kegembiraan lainnya selama tidak mengandung unsur maksiat.

Selamat hari Raya Idul Fitri 1441 H, minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir batin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here